Menu
Sabtu, 23 Juni 2018
ILUSTRASI

KABARTIMUR.co.id,Ambon, - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat, Nilai Tukar Petani (NTP) daerah ini pada Desember 2017 sebesar 101,68 atau turun 0,50 persen dibanding November 2017 yang sebesar 102,19.

“Penurunan ini terjadi karena harga yang diterima petani (it) mengalami penurunan 0,04 persen, sedangkan harga yang dibayar petani (ib) justru naik 0,46 persen,” kata Kepala BPS Provinsi Maluku, Dumangar Hutauruk, di Ambon, Selasa.

Ia mengatakan, NTP tertinggi pada Desember 2017 masih dicapai sub sektor tanaman hortikultura yang mencapai 110,82, sedangkan terendah masih tetap pada sub sektor tanaman perkebunan rakyat yang bertahan pada level di bawah 100 yaitu sebesar 87,35.

Dia menjelaskan,penurunan NTP opada Desember 2017 disebabkan oleh turunnya NTP pada sub serktor tanaman hortikultura dan sub sektor tanaman perkebunan rakyat masing-masing sebesar 1,22 persen, dabn 1,76 persen.

Sedangkan subsektor lain yang mengalami kenaikan NTP yaitu tertinggi pada subsektor perikanan sebesar 1,41 persen, diikuti subsektor tanaman pangan sebesar 0,30 persen, dan sub sektor peternakan sebesar 0,07 persen.

Peningkatan pada sub sektor perikanan disumbangkan oleh naiknya NTP pada kelompok perikanan tangkap sebesar 1,46 persen dan kelompok perikanan budibaya sebesar 1,16 persen.

Dumangar mengatakan, beberapa komunitas yang mengalami kenaikan harga ditingkat petani/penymbang kenaikan it pada Desember 2017 yaitu sub sektor tanaman pangan: komonitas ketela pohon, , jagung , ubi jalar, dan kacang hijau, Sub sektor perikanan komoditas yakni babi, domba, ayam buras, ayam ras, , telur ayam ras, sub sektor perikanan yakni komoditas cakalang, ikan kembung, ikan teri, ikan kyuwe, , dan ikan kakap, rumpuk laut.

Sedangkan beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga ditingkat petani/penyumbang penurunan it pada Desember 2017 yaitu pada sub sektor tanaman hortikultura: komoditas bai merah, bawang merah, ketimun, dan terung panjang, , sub sektor tanaman perkebunan rakyat yakni cengjkih, , biji pala, kopi, dan biji jambu mete.

“NTP Provinsi Maluku tanpa subsektor perikanan tercatat sebesar 101,03, turun 0,73 persen,” ujarnya.

Pada Desember 2017, lanjutnya, terjadi inflasi perdesaan di Provinsi Maluku sebesar 0,54 persen, penyebab utama inflasi perdesaan disumbangkan oleh peningkatan IKRT pada kelompok sandang sebesar 1,10 persen, selanjutnya kelompok bahan makanan sebesar 0,99 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,16 persen, dan kelompok makanan jadi, minuman rokok, dan tembakau, sebesar 0,12 persen.

Sedangkan kelompok perumahan turun sebesar 0,04 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,23 persen, , kelompok transport, komunikasi, tidajk mengalami perubahan dibanding November 2017.

Dumangar mengemukakan, beberapa komunitas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi perdesaan di Maluku adalah ikan tembang, sawi hbijau,tempe kedele, daun singkong, tomat buah, ikan teri tomat sayur, talas, sandal kulit, dan blus.

Dia mengatakan Nilai Tukar Usaha Rumah Tanggah Pertanian (NTUP) Provinsi Maluku pada Desember 2017 tercatat sebesar 122,74, turun sebesar 0,04 persen dibanding November 2017 yang tercatat sebesar 122,78. (AN/KT)

Sumber : ANTARA
BERITA LAINNYA

Desak BK “Adili’’ Huwae & RR

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Usut Repo Fiktif, Kejati Dinilai Asal-Asalan

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Tiga Tahun Beruntun Malra Raih WTP

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Sering Mati Lampu, PMKRI Demo PLN

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Kades-Bendahara Jadi Terdakwa

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Tiga Warga Debut Tewas Dibunuh

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB