Menu
Kamis, 23 November 2017

Kisah Pilu Ismail Rumakay Warga Seram Timur

Puluhan Tahun Hidup di Hutan Pulau Farang

Senin, 27 Maret 2017, 08:35 WIBmaluku
Ismail Rumakay

Selama menderita penyakit mengerikan itu, dia belum pernah dirawat secara medis. Jangankan dokter atau tenaga kesehatan. Bantuan pemerintah belum pernah diterima.

Dia bukan tarzan bukan pula manusia hutan. Hidupnya selalu menyendiri (all alone) di tangah hutan sebuah pulau di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Pulau Farang, Kecamatan Teluk Waru, disinilah hidup seorang penderita tumor jinak Neurofibromatosis bernama Ismail Rumakay.

Warga Desa Namalena, ini terpaksa harus hidup sebatang kara, ditengah hutan berjarak 4 km dari pemukiman warga. Penyakit tumor jinak yang membalut seluruh tubuhnya itu membuat bapa Ibu, begitu sapaanya memilih untuk menyendiri di tengah hutan.

Lelaki paruh baya dengan penyakit Neurofibromatosis bertahun-tahun hidup di hutan perbatasan Desa Namalena dan Namaandan, dua desa bertetangga yang ada di pulau bagian timur Kecamatan Teluk Waru.

Berita kebaradaan Ismail Rumakay penderita tumor jinak ini, mulai terekspose saat berlangsungnya kegiatan supervisi Tim International Fund for Agricultural Development (IFAD) sebuah badan dari PBB yang mendanai project peningkatan kesejahteraan petani kecil (SOLID) di Kabupaten SBT.

Saat kunjungan Tim IFAD dari Roma Italia tersebut, barulah keberadaan Ismail Rumakay diketahui, saat penderita Neurofibromatosis ini turun ke desa mengikuti acara tersebut. Ismail yang juga menjadi petani kelapa anggota binaan program SOLID SBT dan tergabung dalam Kelompok Mandiri Pria (KMP).

Dia ikut berpartisipasi dalam penyambutan tim supervisi tersebut. Menurut penuturan Pendamping Desa Program SOLID Desa Namalena, Hamzah Hanubun penderita tumor jinak itu bertahun tahun menyendiri di tengah hutan. Tumor jinak yang memenuhi sekujur tubuhnya membuat lelaki paruh baya itu sering merasa minder.

“ Dia adalah petani binaan SOLID. Hidupnya di hutan dan setiap harinya berprofesi sebagai petani kelapa yang mengelola kopra,”ungkap Hamza. Warga setempat kerap tidak mau mendekatinya, lantaran marasa jijik karena kondisi tubuh Ismail yang dipenuhi dengan benjolan-benjolan.

Bapa Ibu, biasanya turun ke desa, bila hendak membeli kebutuhan pangan yang harus dikonsumsi. “Dia sesekali turun ke kampung petang hari menjelang malam. Jika sudah ke kampung itu untuk membeli kebutuhan makanan dan minuman berupa kopi,”tandas Hamzah.

Hamzah kepada wartawan Kabar Timur mengisahkan, penderita Neurofibromatosis itu, selama berada di hutan telah mendiami sebuah gubuk berbentuk seperti rumah pengasar kopra. Dengan kondisi seadanya tanpa bantuan siapapun.

Keluarganya di Desa Namalena tidak bisa berbuat apa-apa. Hari-harinya dihabiskan sebagai petani pembuat kopra. Karena merasa iba dengan kondisi fisik yang dialami Ismail, Hamzah akhirnya mengajak Ismail untuk bergabung menjadi anggota KMP. Namaran.

“Dia orangnya cukup giat dan selalu aktif dalam kegiatan program pemberdayaan. Jika ada agenda rapat kelompok atau kunjungan tim dari kabupaten, barulah dia turun ke desa,” tuturnya.

Bergambungnya Ismail Rumakay sebagai anggota kelompok binaan, membuat dirinya ikut menikmati bantuan yang disalurkan dalam program tersebut. Dana bantuan yang diperoleh kemudian dijadikan usaha pembuatan kopra dan untuk kebutuhan hidupnya selama berada di hutan.

Ironisnya, penyakit tumor jinak yang diderita Ismail Rumakay itu sudah diidap puluhan tahun lamanya. Saat menanjak remaja, pria yang belum berkeluarga itu sudah memiliki kelainan di tubuhnya hingga saat ini memenuhi seluruh wajahnya.

Warga setempat mengaku, selama menederita penyakit mengerihkan itu, penderita belum pernah dirawat secara medis. Jangankan dokter atau tenaga kesehatan. Bantuan pemerintah berupa apapun pun belum pernah diterima.

“Saya sering ajak Bapa Ibu makan bersama, jika saya berada di desa menjalankan tugas pendampingan. Dan selama ini hanya lewat program SOLID barulah beliau dapat merasakan bantuan modal usaha,”papar Hamzah.

Ismail Rumakay direkrut menjadi anggota KMP binaan SOLID pada tahun 2016 lalu. Bergabung sebagai anggota kelompok tani adalah sebuah kebetulan, lantaran ada anggota yang tidak aktif, sehingga yang bersangkutan diajak bergabung sebagai pengganti anggota yang tidak aktif tersebut.

“Orangnya pendiam dan sering minder bila harus berhadapan dengan banyak orang,”ungkapnya. Menanggapi kondisi Ismail Rumakay yang begitu memprihatinkan, Hamzah menyampaikan harapan kiranya ada pihak-pihak yang merasa tersentuh dengan kondisi yang dialami anggota kelompok binaannya tersebut.

“Kita sangat maklum dengan kondisi yang menimpah beliau. Hidup di desa pedalaman yang jauh dari ibukota kabupaten, memang sangat sukar penderita tumor jinak seperti beliau diketahui oleh orang lain. Apalagi setiap harinya beliau berada di hutan,” pungkasnya.

Meski demikian, Hamzah mengaku senang, jika ada orang yang mengetahui kondisi Ismail dan bisa membantu beliau untuk memperoleh bantuan berupa perawatan kesehatan dan pengobatan yang memungkinkan.

Kini cerita keberadaan “manusia gelembung” di pulau penghasil kelapa itu mulai ramai dibicarakan di dunia maya, banyak doa dan ucapan harapan agar pemerintah daerah setempat mampu memberikan bantuan pengobatan kepada penderita Neurofibromatosis tersebut.

Neurofibromatosis adalah kelainan genetik yang mengganggu pertumbuhan sel dalam sistem saraf, menyebabkan tumor terbentuk pada jaringan saraf. Tumor ini dapat berkembang dimana saja di sistem saraf, termasuk di otak, sumsum tulang belakang dan saraf.

Neurofibromatosis biasanya didiagnosis pada anak usia dini atau orang dewasa. Tumor biasanya bukan kanker (jinak), namun dalam beberapa kasus tumor ini menjadi tumor kanker (ganas). Penderita neurofibromatosis sering mengalami gejala ringan.

Efek dari neurofibromatosis dapat berkisar dari gangguan pendengaran, gangguan belajar, dan komplikasi jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) untuk cacat berat karena saraf terkompresi oleh tumor, kehilangan penglihatan dan sakit parah.

Pengobatan neurofibromatosis bertujuan untuk memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan yang sehat dan mengatasi komplikasi segera setelah muncul. Ketika neurofibromatosis menyebabkan tumor besar atau tumor yang menekan saraf, bedah dapat membantu meringankan gejala.

Beberapa orang bisa mendapatkan manfaat dari terapi lain, seperti radiosurgery stereotactic, obat untuk mengontrol rasa sakit atau terai fisik.  (Syafri Hatala)

BERITA LAINNYA

Kecermatan dalam Memilih Kata

Rabu, 22 November 2017, 01:24 WIB

3 Negara Lirik Pelabuhan Kontainer Tulehu-Waai

Rabu, 22 November 2017, 01:20 WIB

Bau Korupsi “Sampah” Terkuak di Pemkot Ambon

Rabu, 22 November 2017, 01:16 WIB

Ambon Disiapkan Jadi Sentra Ikan Hias Laut

Rabu, 22 November 2017, 01:12 WIB

Cemburu, Tukang Ojek Bakar Salon Waria

Rabu, 22 November 2017, 01:11 WIB

Jantje Ciptabudi Caretaker FISIP Unpatti

Rabu, 22 November 2017, 01:07 WIB