Menu
Rabu, 24 Januari 2018
ILUSTRASI

KABARTIMUR.co.id,AMBON-Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, dinilai gagal menyelesaikan konflik antar warga di Leihitu. Padahal, konflik di wilayah lain langsung diselesaikan.

“Kami menilai pemerintah gagal menyelesaikan konflik di Leihitu,’’kata salah satu tokoh masyarakat Wakal, Nadjir Samal kepada sejumlah wartawan, kemarin.

Padahal, ingat dia, konflik antar warga Tuhaha dan Ihamahu, Kecamatan Saparua, kabupaten Malteng, langsung dilakukan proses perdamaian. “Kenapa konflik antar warga sejumlah desa di Leihitu, tak kunjung diselesaikan. Padahal, konflik antar warga di Saparua, langsung didamaikan. Ini proses pembiaran namanya,’’kesalnya.

Dia mencontohkan, konflik antar warga Desa Wakal dan Desa Hitu, hingga kini belum diselesaikan. Padahal, ingat dia, konflik terjadi medio Juni 2017 lalu. “Sampai sekarang belum ada upaya penyelesaian dari pemerintah. Padahal, konflik di daerah lain langsung direspon untuk diselesaikan,’’sebtnya.

Atas dasar itu, dia berharap, Bupati Malteng, Abua Tuasikal dan Gubernur Maluku, Said Assagaff, segera menyelesaikan konflik antar Wakal dan Hitu. Tujuanya, lanjut dia, agar pemilihan gubernur Maluku, berjalan baik. “Ini demi menjaga Kamtibmas menjelang Pilgub’’sebutnya.

Disisi lain,  ditengah belum diselesaikan konflik di Wakal dan Hitu, gubernur Maluku, Said Assagaff, Minggu (7/1) mengunjungi desa Wakal. Tidak tahu maksud kedatangan calon gubernur Maluku itu. Hanya saja, kedatangan Assagaff, sangat disesalkan. “Jangan mau calon baru datang. Mestinya, jauh-jauh hari datang selesaikan konflik,’’ingat dia.

Samal mengaku, akibat konflik antar warga Wakal dan Hitu, masyarakat Wakal saat ini berurusan di Kota Ambon, butuh waktu tiga jam dan menghabiskan ongkos pulang pergi sekitar Rp 70 ribu rupiah. “Warga menderita. Warga  dapat uang dimana. Ini yang mesti dicari solusinya,’’sebutnya.

Soal kedatangan Assagaff di desa Wakal, menjanjikan pembangunan jalan agar warga setempat dapat beraktivitas dengan baik, menurut dia, janji orang nomor satu didaerah ini terlambat.’’Kenapa tidak bangun dari dulu. Jangan calon baru buat janji kalau akan perjuangkan pembangunan jalan,’’terangnya.

Tak hanya itu, dia juga menyoroti, penyambutan Assagaff dengan pakaian adat. Padahal, ingat dia, saat itu tidak ada agenda adat.’’ Pakaian adat itu hanya untuk proses tertenu. Tapi kenapa pak gubernur  disambut dengan pakaian adat.  Pakaian adat kebesaran itu dipakai ketika proses tertentu. Kami kecewa dengan kedatangan gubernur,’’kesalnya.

Dia juga mengaku, masyarakat Wakal saat ini tidak mendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur tertentu.’’Masyarakat Wakal bebas memilih. Tidak ada dukungan kepada kandidat gubernur tertentu,’’tandasnya.

Mantan kepala pemuda Wakal, Hasan Wael menambahkan, dirinya sangat kecewa dengan kunjungan gubernur, benuansa politik. Padahal, ingat dia, persoalan antar warga belum diselesaikan.’’Masyarakat butuh  kedamaian. Sudah 8 bulan konflik terjadi. Tapi tidak diselesaikan.  Tidak ada perhatian Pemprov dan Pemkab Malteng,’’kata dia.

Mestinya, harap dia, kunjungan gubernur di desa itu ada solusi penyelesaian konflik Wakal dan Hitu.’’Jangan kepentingan politik baru  turun, sementara kepentigan masyarakat tidak  diutamakan,’’kesalnya.

Padahal, ingat dia, ada upaya perdamaian antara kedua belah pihak. Dia juga pernah menemui Kapolsek setempat untuk  menyelesaikan konflik dua desa itu.’’Ada upaya proses perdamaian. Tapi, kita utuh andil pemerintah,’’terangnya

Karenanya, dia berharap, penyelesaian konflik segera dilakukan agar masyarakat didaerah itu dapat berativitas dengan baik. Dia kuatir, jika konflik tidak diselesaikan bisa terulang kembali.’’ Jangan sampai konflik terulang lagi. Konflik mesti dimanilisir,’’pungkasnya.(KTM)

BERITA LAINNYA

Perintah Hitung Manual La Alwi “Masuk Angin”

Rabu, 24 Januari 2018, 05:13 WIB

Pemuda Watdek Tewas Tenggelam

Rabu, 24 Januari 2018, 05:13 WIB

Perebutan Wilayah di Bursel, 2 Luka Berat

Rabu, 24 Januari 2018, 05:13 WIB

Pemeriksaan Amir Gaus Cs Belud Tuntas

Rabu, 24 Januari 2018, 05:13 WIB

Panca Karma Terancam “BANGKRUT”

Rabu, 24 Januari 2018, 05:13 WIB

Penyidikan Kasus Korupsi Bob Berlanjut

Rabu, 24 Januari 2018, 05:12 WIB