Menu
Selasa, 20 Pebruari 2018
IST

KABARTIMUR.co.id,AMBON-Hingga kini jaksa penuntut belum mampu membuktikan kesalahan atau unsur melawan hukum terdakwa Jack Stuart Manuhutu. La Ode Mukmin, penasehat hukum (pengacara) Jack Stuart berharap keterangan mantan komisaris bank Johanis Batseran di persidangan pekan kemarin, jadi pertimbangan hakim untuk membebaskan Jack dari dakwaan.

Menurut Ode Mukmin, keterangan saksi Johanis Batseran tidak bisa menjadi fakta hukum yang membuktikan keterlibatan Jack. Karena hanya didengar oleh saksi dari pihak lain, yakni Direktut Kepatuhan Izaac Thenu. Keterangan Batseran bukan, fakta, tapi keterangan d’audito, dalam ilmu hukum pidana.

“Terkait tanda tangan palsu yang katanya discan oleh Jack, itu adalah keterangan d’audito, artinya Johanis dengar dari orang lain. Itu bukan fakta,” kata Ode Mukmin kepada Kabar Timur, Sabtu (27/1).

Jumat pekan kemarin, mantan Komisaris Bank Maluku Johanis Batseran, dihadirkan JPU Rolly Manampiring dan I Gde Widhartama di Pengadilan Tipikor Ambon. 

Di depan majelis hakim yang dipimpin RA Didi Ismiatun, Batseran yang lebih banyak menyatakan tidak tahu, mengaku, mendengar dari Direktur Kepatuhan Izaac Thenu kalau tanda tangan Direksi itu dipalsukan dengan cara discan oleh terdakwa Jack Stuart. 

Tapi menurut La Ode Mukmin, keterangan Johanis Batseran itu lah yang palsu. Ode Mukmin bahkan mengancam, akan mempidanakan Batseran, karena memberikan keterangan Palsu di depan hakim. “Kita akan sampaikan laporan ke polisi. Aduannya keterangan palsu dan pencemaran nama baik klien kami. Kok Izaac Thenu tidak sebut nama, Batseran bilang yang scan adalah Jack, itu khan  saksi palsu,” kata La Ode Mukmin.

La Ode Mukmin dan rekannya, Maurits Latumeten menandaskan, Direktur Kepatuhan Izaac Thenu saat menjadi saksi di persidangan Idris, sebelum mantan dirut bank itu divonis, tidak menyebut siapa yang memalsukan tanda tangan Dirut Idris Rolobessy dengan cara scan tersebut. Thenu hanya mengaku tanda tangan Direksi discan, tapi tidak menyebut siapa yang melakukan.

Perkara tipikor pembelian lahan bank Maluku cabang Surabaya senilai Rp 54 miliar masih bergulir di Pengadilan Tipikor Ambon. Jack Stuart Manuhutu didakwa ikut terlibat dalam skandal pembelian lahan di jalan Darmo 51 Surabaya untuk pembukaan kantor cabang Bank Maluku-Malut itu.

Skandal tersebut mengakibatkan, kerugian keuangan negara Rp 7,6 miliar. Tiga orang divonis berat di atas 5 tahun. Masing-masing mantan Dirut Idris Rolobessy, mantan Kadiv Renstra dan Korsek Petro Tentua dan rekanan bank Hentje Toisuta.

Tapi oleh jaksa penuntut Kejaksaan Tinggi Maluku, Jack didakwa turut serta terlibat. Ketika perkara ini masih bergulir di penyidikan Kejati Maluku dia dituduh memalsukan tanda tangan direksi Bank Maluku. Yakni dalam surat Direksi Bank ke Gubernur dan Wali Kota Ambon sebagai pemegang saham utama dan saham pengendali untuk mengusulkan Rapat Umum Luar Biasa (RUPS).

Di lain pihak, jaksa sendiri tidak pernah membuktikan, soal keaslian tanda tangan tersebut. Uji forensik Labfor dari Polisi terkait tanda tangan itu, belum pernah dilakukan.

Anehnya, Kepala Seksi Penyidikan (Kasidik) Kejati Maluku Ledrik Tekendengan, saat perkara ini di tingkat penyidikan Kejati, ikut menyeret Jack sebagai tersangka, dengan tuduhan pemalsuan tanda tangan. (KTA)

BERITA LAINNYA

Maluku Protes Saham Blok Masela Dibagi ke NTT

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

Satu Pria “Bertopeng” Ditembak Polisi

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

Ada Pembiaran di Gunung Botak

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

PDIP Maluku “Pecah” Tiga Kubu

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

Novum Perkara Darmo 51, Tidak Ada Markup

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB