Menu
Kamis, 24 Mei 2018
Ilustrasi

KABARTIMUR.co.id,AMBON - Syafril divonis lima tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Ambon. Pria 39 tahun itu adalah pembunuh La Jeni, pemilik kos tempat dirinya tinggal di kawasan Waiheru, Kecamatan Baguala, Kota Ambon.

Sidang putusan diketuai Hakim Lucky Kalalo didampingi hakim anggota Esau Yarisitou dan Hery Setiabudi, Selasa (24/4).

Syafril dinyatakan terbukti bersalah melanggar Pasal 338 dan 351 ayat (3) KUHPidana. Menariknya, terdakwa yang memiliki riwayat sakit jiwa itu, majelis hakim mewajibkan Syafril yang telah menyandang status narapidana menjalani perawatan di RSJ Nania, Ambon selama satu tahun.

Masa perawatan penjahat ini tidak dipotong masa hukuman penjara. “Apabila dalam masa perawatan terdakwa sembuh, terdakwa harus menjalani hukuman lima tahun tersebut. Sebaliknya kalau selama dirawat, terdakwa tidak sembuh, maka dinyatakan bebas demi hukum atas vonis hakim,” kata Lucky Kalalo.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang menuntut terdakwa 15 tahun penjara.
Sebelumnya, JPU Asmin Hamzah dalam dakwaannya menyebutkan, perkara pembunuhan tersebut terjadi di kediaman korban (depan asrama haji), RT 022/ RW 09, Desa Waiheru pada  Jumat 13 Oktober 2017 sekitar pukul 21.00 WIT.

Terdakwa menempati kamar nomor dua, sedangkan korban selaku pemilik kos menempati kamar nomor lima. Di kos-kosan ini juga tinggal Wa Amina (istri korban), Yulia Noya (ipar korban) dan La Angko.

Petaka yang menimpa La Jeni bermula saat Wa Amina, Yulia Noya dan La Angko sedang makan dan bercerita di depan kamar kos. Karena sudah larut malam dan suara mereka mengganggu, terdakwa yang saat itu berada di dalam kamar memukul pintu kamarnya beberapa kali sambil berteriak; diam, diam, diam. Teriakan terdakwa dibalas dibalas korba. “Kanapa musti tagor katong,” tegas korban.

Perkataannya tak dihiraukan, terdakwa keluar dari kamarnya dan mengatakan “Abang ee…, kalau bicara suara kacil jua, barang beta pung kacil ada tidur,” kata terdakwa kepada korban.
“Kalau begitu ose kaluar kamar bae-bae saja lalu bilang ose kacil ada tidur,” ujar korban menjawab perkataan terdakwa.

Selanjutnya diantara mereka terjadi adu mulut. Kesal dengan perlakuan terdakwa, korban mengusir terdakwa dari kamar kos. “Kalau memang abang kurang sanang, keluar saja” tegas korban. Terdakwa membalas dengan menjawab “seng, beta bayar”.

Tersinggung karena korban menagih uang kos dan mengancam akan mengeluarkan terdakwa dari kos, terdakwa masuk ke dalam kamar dan mengambil sebilah pisau yang disimpan di bawah rak piring.

Sambil membawa pisau terdakwa mendatangi korban hingga terjadilah perkelahian. Spontan terdakwa menusuk perut dan dada korban menggunakan pisau sebanyak empat kali, hingga tubuh korban bersimbah darah.

Atas vonis hakim itu, JPU maupun Kuasa Hukum terdakwa, Hendrik Losikoy menerima putusan tersebut. (RUZ)

BERITA LAINNYA

Korupsi Speedboat BPJN, PPK Diperiksa Jaksa

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

Dukung Adam Rahayaan Satu Kades “Korban”

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

Sekda SBB Dicecar 33 Pertanyaan

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

Pekan Depan Wali Kota Dipriksa

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

19 Rumah Dieksekusi Paksa

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

Cekcok, Suami Bacok Istri

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB