Menu
Sabtu, 18 November 2017
IST

KABARTIMUR.co.id,AMBON - Seiring dengan perkembangan zaman, peran perempuan dalam menopang perekonomian keluarga sama pentingnya dengan para lelaki. Perempuan dituntut menjadi sosok mandiri dan mampu diandalkan dalam berbagai lini. Seorang perempuan yang telah menjadi ibu harus mampu mendidik dan menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya.

Terkadang dia juga harus dapat menjadi tulang punggung keluarganya, sehingga keberadaannya menduduki posisi yang penting dibandingkan posisi suaminya.

Adanya asumsi mengenai perempuan yang dinilai sebagai kelompok lemah dan memiliki ketergantungan terhadap kaum laki-laki haruslah dikoreksi dan dikaji lebih mendalam.  Kaum perempuan sesungguhnya merupakan korban dari dinamika masyarakat yang memiliki latar belakang budaya patriarki. Peran-peran kaum perempuan selama ini sangat berkontribusi dalam kehidupan keluarga, sehingga dapat menyejajarkan dirinya dengan kaum laki-laki.

Sosok kaum perempuan merupakan tonggak utama dalam upaya pengentasan kemiskinan. Perempuan adalah agen perubahan yang perannya sangat dibutuhkan dalam perkembangan perekonomian. Saat kaum wanita mempunyai hak-hak kepemilikan, bebas bekerja di luar rumah, dan mempunyai pendapatan sendiri, maka kesejahteraan rumah tangga juga akan meningkat. Lebih dari seabad lalu telah dikemukakan oleh R. A. Kartini bahwa tiap wanita harus memiliki kemandirian secara ekonomi, agar dirinya mempunyai kuasa dan dalam hubungan domestik, keluarga, dan lingkungan sosial.

Mayoritas masyarakat Maluku dikenal sebagai masyarakat yang patriarki, yaitu kaum lelaki berperan dalam mencari nafkah bagi keberlangsungan hidup keluarga. Namun hal tersebut berubah seiring perkembangan zaman. Adanya tuntutan hidup menjadikan kaum wanita ikut berperan dalam mencari nafkah. Para wanita berusaha untuk membantu para suami untuk ikut memenuhi kebutuhan rumah tangga. Adanya tuntutan zaman, dan keinginan untuk dapat memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak-anak juga merupakan pemicu para wanita ikut bekerja.

Papalele merupakan salah satu potret perempuan Maluku yang bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Di Kota Ambon, perempuan papalele biasanya dijumpai di Jalan AY Patty. Mereka duduk di trotoar-trotoar di depan toko-toko. Mereka biasanya menggunakan kain sarung dengan balutan kebaya merah muda. Di depan tempat duduk mereka terdapat sebuah dulang tempat menjajakan jualan mereka. Biasanya mereka menjual berbagai macam buah-buahan, kenari, sagu tumbu, bagea, dan lain sebagainya. Selain di Jalan AY Patty, perempuan papalele dapat juga dijumpai di lorong Kantor Pos Ambon dan Pasar Mardika.

Perempuan papalele di Kota Ambon biasanya berasal dari desa-desa di daerah gunung, sehingga jika musim buah, maka para perempuan papalele dapat langsung berjualan di tempat jualannya masing-masing. Namun jika bukan musim buah, mereka menuju pasar untuk membeli buah-buahan dan kemudian menjualnya. Sebelum ke tempat jualan, kebanyakan dari mereka secara berkelompok atau sendiri-sendiri menjajakan jualannya berkeliling Kota Ambon. Kegiatan berjualan tersebut dilakukan setiap hari, dari tahun ke tahun, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain di Kota Ambon, perempuan-perempuan papalele juga dapat dijumpai di setiap daerah di Provinsi Maluku. Profesi sebagai seorang perempuan papalele juga dapat dilihat di Pulau Saparua. Profesi sebagai perempuan papalele dilakukan pada hari pasar, setiap hari, dan pada musim-musim tertentu.

Adanya pembagian hari pasar yang ada di Pulau Saparua menjadikan perempuan-perempuan papalele berjualan mengikuti hari pasar. Pada saat hari pasar, yaitu Rabu dan Sabtu, aktivitas jual beli di pasar Saparua mengalami peningkatan. Semua kebutuhan rumah tangga dijajakan. Terjadi penggabungan penjual (perempuan papalele) yang menjalani profesinya setiap hari dan para penjual (perempuan papalele) yang hanya berjualan pada hari pasar.

Aktivitas perempuan papalele yang menjajakan jualannya setiap hari cenderung menjajakan bahan-bahan pangan lokal, seperti sagu, sayur-sayuran, ikan, umbi-umbian, kue-kue, dan berbagai macam bahan makanan pokok lainnya. Bahan-bahan yang dijual merupakan hasil alam dan hasil produksi masyarakat Pulau Saparua.

Aktivitas perempuan papalele musiman cenderung dipengaruhi situasi dan kondisi alam. Aktivitas perempuan papalele musiman hanya dilakukan pada saat musim buah-buahan. Biasanya perempuan papalele yang melakukan aktivitas ini membeli hasil alam berupa buah-buahan dari para petani gandaria, durian, rambutan, langsat, manggis, dan lain sebagainya.

Profesi sebagai perempuan papalele merupakan panggilan jiwa. Hal tersebut dikarenakan profesi perempuan papalele sudah ada secara turun-temurun dan telah menjadi tradisi bagi masyarakat Maluku. Kesadaran untuk menunjang ekonomi keluarga menjadi alasan utama setiap perempuan papalele. Meskipun keuntungan yang diperoleh tidak terlalu besar, tetapi mereka tetap menekuni profesi ini dengan sabar dan tekun. (**)

BERITA LAINNYA

Mantan Kadis Infokom Disidang Berbelit-Belit

Rabu, 15 November 2017, 09:35 WIB

SU Pemain Proyek, Sebelum Tersandung Korupsi

Rabu, 15 November 2017, 00:47 WIB

PDIP Usung Pasangan "Kombinasi"

Rabu, 15 November 2017, 00:44 WIB

Informasi Tsunami, Warga MBD Mengungsi

Rabu, 15 November 2017, 00:42 WIB

Koruptor Kas Daerah SBB Dituntut Dua Tahun Bui

Rabu, 15 November 2017, 00:39 WIB

Haji Hayun TKBM Yos Sudarso Terancam Dilengserkan

Rabu, 15 November 2017, 00:38 WIB