Menu
Sabtu, 18 November 2017
Nita Handayani Hasan

Oleh:
Nita Handayani Hasan - Staf teknis Kantor Bahasa Maluku

Pelestarian bahasa-bahasa daerah yang ada di Maluku dapat dilakukan dengan pembuatan kamus-kamus bahasa daerah. Namun pembuatan kamus-kamus bahasa daerah harus melalui proses yang panjang. Salah satu media yang dapat dijadikan tempat inventarisasi kosakata bahasa daerah ialah KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Penambahan kosakata-kasakata bahasa daerah dalam KBBI berfungsi untuk memperkaya jumlah lema yang ada di dalam KBBI.

Awal mula keberadaan KBBI ditandai dengan penerbitan Kamus Umum Bahasa Indonesia (1953) karya Wilfridus Joseph Sabarija Poerwadarminta oleh Pusat Bahasa (kala itu bernama Lembaga Penyelidikan Bahasa dan Kebuadayaan Universitas Indonesia). Kamus karya Poerwadarminta tersebut dianggap sebagai awal mula pertumbuhan leksikografi Indonesia. Namun kamus tersebut masih banyak memiliki kekurangan dari segi ejaan, dan minimnya jumlah lema sehingga dibutuhkan perbaikan-perbaikan hingga dianggap layak disebut sebagai kamus besar.

KBBI edisi pertama dimunculkan ketika Kongres Bahasa Indonesia V pada 28 Oktober 1988. KBBI edisi pertama memuat kurang lebih 62.100 lema, dan menjadi acuan bahasa Indonesia baku. Setelah melalui beberapa kali cetak ulang dan revisi, KKBI edisi kedua akhirnya diluncurkan pada tahun 1991. KBBI kedua disusun di bawah pimpinan Hasan Alwi. Jumlah lema dalam KBBI edisi dua yaitu sekitar 72.000. KBBI edisi ketiga terbit pada tahun 2001, disusun di bawah pimpinan Dendy Sugono. Jumlah lema yang terdapat dalam KBBI edisi ketiga kurang lebih 78.000. KBBI edisi keempat dicetak pada bulan Oktober tahun 2008 bersamaan dengan peringatan Bulan Bahasa Indonesia. Di edisi keempat terdapat 90.049 lema.

Melalui penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penambahan lema dalam KBBI dari satu cetakan ke cetakan berikutnya tidak signifikan jika dibandingkan dengan jumlah lema yang terdapat pada Oxford English Dictionary (OED). Sejak diterbitkan pada tahun 1928, OED telah memiliki 414.800 lema. Pada KBBI edisi kedua hanya terjadi penambahan 9900 lema dalam jangka waktu tiga tahun. Pada KBBI edisi ketiga terdapat penambahan 6000 lema dalam jangka waktu sepuluh tahun. Pada KBBI edisi keempat terdapat penambahan 12.049 lema dalam jangka waktu tujuh tahun.

Melihat perbedaan tersebut, diperlukan cara-cara untuk menambahkan jumlah lema dalam KBBI. Salah satunya ialah menambahkan kosakata-kosakata budaya  yang ada di setiap daerah di Indonesia. Jika dibandingkan dengan OED yang penyusunannya hanya bersumber dari bahasa Inggris, KKBI memiliki potensi penambahan jumlah lema yang luar biasa jika memasukkan kosakata budaya yang ada di Indonesia.

Maluku memiliki potensi besar dalam menyumbangkan kosakata daerah ke dalam KBBI. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh SIL (2006) dalam Bahasa-Bahasa di Indonesia diketahui terdapat 101 bahasa daerah di Maluku. Sedangkan Badan Bahasa dalam “Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia” (2014) baru mengidentifikasikan 51 bahasa daerah di Provinsi Maluku. Jumlah data yang diperoleh Badan Bahasa tersebut diperkirakan akan bertambah, karena sampai sekarang masih dilakukan pengidentifikasian  bahasa daerah. Setiap bahasa-bahasa daerah yang ada pasti memiliki istilah-istilah tertentu yang dapat diusulkan sebagai lema dalam KBBI.

Banyak kosakata khas daerah Maluku yang belum ditemukan dalam KBBI. Oleh karena itu, dibutuhkan peran aktif masyarakat Maluku untuk mengusulkan kosakata-kosakata budaya dalam KBBI. Masyarakat dapat langsung mengusulkan kosakata-kosakata budaya dalam KBBI lewat KBBI daring. Masyarakat umum dapat mengakses KKBI daring pada laman www.kbbi.kemdikbud.go.id dan mendaftar sebagai pengguna. Jika telah terdaftar sebagai pengguna, maka masyarakat dapat mengusulkan kata-kata baru.

Sejak tahun 2016 Kantor Bahasa Maluku telah melakukuan pengambilan data kosakata budaya pada bahasa-bahasa daerah di Maluku. Data-data yang telah diambil kemudian diusulkan sebagai lema dalam KBBI. Namun data-data yang diperoleh masih tergolong sedikit karena hanya melibatkan staf teknis Kantor Bahasa Maluku. Oleh karena itu dibutuhkan peran masyarakat sebagai pemilik bahasa daerah untuk lebih mengusulkan kosakata-kosakata budaya Maluku dalam KBBI.

Selain KBBI daring, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa juga membuat aplikasi KBBI luring yang dapat mempermudah masyarakat mengakses KBBI. KBBI luring dapat diunduh melalui  aplikasi Play Store pada ponsel pintar. KBBI luring berguna memberikan akses kepada siapa, dan kapan saja untuk mengecek kata-kata dalam KBBI. Seperti yang diketahui bahwa KBBI merupakan acuan penulisan baku, maka dengan adanya kemudahan mengakses KBBI, diharapkan masyarakat umum mampu menggunaan bahasa Indonesia secara benar. Terlebih dalam penulisan karya-karya ilmiah yang membutuhkan penggunaan bahasa Indonesia baku.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa akan terus berusaha dan berinovasi untuk menyajikan layanan-layanan kebahasaan yang mudah diperoleh masyarakat. KBBI daring dan luring merupakan salah satu contoh bentuk produk Badan Bahasa untuk menjadikan bahasa Indonesia tuan di wilayahnya sendiri. (*)

BERITA LAINNYA

Mantan Kadis Infokom Disidang Berbelit-Belit

Rabu, 15 November 2017, 09:35 WIB

SU Pemain Proyek, Sebelum Tersandung Korupsi

Rabu, 15 November 2017, 00:47 WIB

PDIP Usung Pasangan "Kombinasi"

Rabu, 15 November 2017, 00:44 WIB

Informasi Tsunami, Warga MBD Mengungsi

Rabu, 15 November 2017, 00:42 WIB

Koruptor Kas Daerah SBB Dituntut Dua Tahun Bui

Rabu, 15 November 2017, 00:39 WIB

Haji Hayun TKBM Yos Sudarso Terancam Dilengserkan

Rabu, 15 November 2017, 00:38 WIB