Menu
Sabtu, 18 November 2017
Faradika Darman

Oleh:
Faradika Darman - Staf Teknis Kantor Bahasa Maluku, Kemdikbud

Berbicara tentang literasi tidak hanya sebatas masalah buta aksara dan baca tulis. Literasi saat ini memiliki arti yang sangat luas. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca kehidupan, pengetahuan, dan keterampilan sesorang dalam bidang atau aktivitas tertentu. Perkembangan zaman dalam semua lini kehidupan yang semakin pesat tentunya mengubah konsep dan cara berliterasi yang mungkin dahulunya hanya terbatas pada buku, baca, dan tulis. Dari hari ke hari, literasi menjadi isu yang banyak dan selalu hangat untuk diperbincangkan dan banyak menjadi tema kajian ilmiah akhir-akhir ini di Indonesia Tidak hanya di lingkungan sekolah dan universitas, tetapi juga sudah mulai menyebar di kalangan komunitas dan masyarakat di luar lembaga pendidikan. Selain di kalangan sekolah dan universitas, literasi juga sudah mulai tumbuh dan dikembangkan di tengah masyarakat yakni melalui komunitas dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM).

Melihat perkembangan literasi masyarakat di Indonesia hingga saat ini tentunya terdapat perbedaan. Konsep literasi pada era modernisasi dengan kecanggihan teknologi yang berkembang sangat pesat ini memberikan banyak ruang dan tempat kita dapat berliterasi. Kemajuan zaman dan cara berliterasi harus seimbang. Terutama bagi generasi yang lahir pada era kemajuan teknologi atau yang biasanya dikenal sebagai generasi digital. Dunia pendidikan pun harus terus memperbaharui cara atau metode untuk meningkatkan literasi siswa. Konsep literasi beberapa waktu lalu tidak dapat dibawa atau disamakan dengan konsep literasi saat ini harus berdampak positif pada kemajuan literasi siswa dan masyarakat. Tetapi kenyataannya kemudahan-kemudahan tersebut, justru dianggap kontra produktif dan menimbulkan pendangkalan dalam berpikir. Titik awal permasalahan adalah kualitas sumber bacaan atau informasi dan kurangnya sikap kritis dan pemahaman dari masyarakat terkait berita-berita atau informasi yang didapatkan.

Era digital harusnya memberikan penyadaran akan pentingnya pengetahuan yang mendalam, komprehensif, dan diproduksi melalui proses yang ketat. Untuk menuju masyarakat dengan pengetahuan yang mendalam dan kritis, maka tingkat literasi harus ditingkatkan termasuk di dalamnya yaitu tingkat baca dan berpikir kritis. Dalam era digital semacam ini dunia berada dalam genggaman kita. Sekalipun kita hanya berada pada satu tempat dan satu waktu, namun kita dapat memantau keadaan di seluruh dunia, bahkan kita dihubungkan melalui media sosial dengan semua orang. Kita juga tidak dapat membendung arus informasi yang mengalir begitu deras terutama melalui media-media sosial. Media sosial saat ini tidak hanya dipandang sebagai ajang bersosialisasi di dunia maya semata, namun sudah berkembang menjadi ajang menuangkan ide-ide pribadi seseorang yang berkaitan dengan banyak aspek serta membagikannya kepada orang lain.

Bila kita mencermati fenomena yang terjadi di media sosial, kita akan dibuat tercengang. Bagaimana tidak, media sosial sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan generasi digital saat ini. Kedahsyatan kekuatan pengaruh media sosial digunakan untuk mempengaruhi opini-opini publik yang menggunakan media sosial tersebut. Banyak berita-berita beredar di media sosial. Namun yang menjadi masalah adalah ketika media sosial disalahgunakan sebagai ajang propaganda negatif untuk suatu kepentingan tertentu. Rendahnya tingkat literasi di era digital ini dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang termakan oleh berita ‘hoax’. Hal ini tentunya terkait dengan rendahnya minat baca masyarakat dan kedangkalan berpikir yaitu memahami apa yang dibaca.  Di sinilah perbedaan antara orang yang memiliki kecerdasan literasi dan yang tidak.

Menjadi cerdas ataupun menjadi bodoh adalah sebuah pilihan. Jadilah generasi yang cerdas literasi. Manfaatkan media sosial untuk menulis dan membagikan hal-hal yang positif serta menjadikan media sosial sebagai sumber informasi yang akurat dengan meningkatkan minat baca dan daya berpikir kritis.  Perkembangan dunia digital ini tentunya bisa menimbulkan dua sisi yang berlawanan dalam kaitannya dengan pengembangan literasi. Berkembangnya peralatan digital dan akses akan informasi dalam bentuk digital juga bisa menimbulkan tantangan dan peluang sekaligus. Banyak orang pesimis dengan perkembangan literasi. Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah semakin merosotnya budaya baca masyarakat yang memang dalam tingkat yang masih rendah. Kehadiran berbagai peralatan (gadget) yang bisa terhubung dengan jaringan internet mengalihkan perhatian orang dari buku ke gadget yang mereka miliki. Apalagi dengan perkembangan berbagai media sosial yang semakin digandrungi oleh semua kalangan masyarakat.

Namun tantangan yang menjadi kekhawatiran banyak kalangan perlu diubah menjadi peluang dengan mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, perkembangan gadget dan jaringan internet merupakan kemajuan dalam ilmu pengetahuan yang tidak bisa dielakkan. Justru semua itu dimaksudkan untuk mempermudah memperoleh informasi. Kedua, generasi saat ini disebut dengan generasi digital, yang mana mereka hidup di era digital sehingga sudah barang tentu akan terbiasa dengan berbagai peralatan berbasis digital dan internet. Sehingga bisa dilihat bagaimana anak-anak bisa cepat akrab dengan gadget dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mengacu pada dua hal di atas tentu dapat diarahkan dalam membantu mengembangkan literasi di masyarakat, khususnya siswa dan mahasiswa. Peralatan dan jaringan internet yang ada bisa dijadikan media yang dapat membantu mereka mengembangkan kemampuan literasi mereka tanpa menegasikan teks berbasis cetak.

Justru digitalisasi bisa dijadikan media perantara untuk menuju praktik literasi yang dapat menghasilkan teks berbasis cetak. Sebagai contoh, kegiatan menulis di blog pribadi, menulis di jejaring sosial bisa diarahkan sebagai latihan untuk menulis dan mengemukakan gagasan tentang sesuatu yang dekat dengan mereka. Perkembangan era digital saat ini tentunya tidak melulu tentang tantangan yang bisa menghambat literasi masyarakat, tetapi justru bisa dijadikan peluang yang sangat besar dalam rangka melatih dan mengembangkan literasi masyarakat. (*)

BERITA LAINNYA

Mantan Kadis Infokom Disidang Berbelit-Belit

Rabu, 15 November 2017, 09:35 WIB

SU Pemain Proyek, Sebelum Tersandung Korupsi

Rabu, 15 November 2017, 00:47 WIB

PDIP Usung Pasangan "Kombinasi"

Rabu, 15 November 2017, 00:44 WIB

Informasi Tsunami, Warga MBD Mengungsi

Rabu, 15 November 2017, 00:42 WIB

Koruptor Kas Daerah SBB Dituntut Dua Tahun Bui

Rabu, 15 November 2017, 00:39 WIB

Haji Hayun TKBM Yos Sudarso Terancam Dilengserkan

Rabu, 15 November 2017, 00:38 WIB