Menu
Sabtu, 23 Juni 2018
default Caption

Keberhasilan pengembangan atraksi wisata bukan saja dilihat dari besarnya jumlah wisatawan yang berkunjung tetapi juga dapat diindikasikan dengan bergeraknya ekonomi rakyat terutama di sekitar lokasi wisata.

PENGANTAR

Membangun pariwisata di Pro­vinsi Maluku dalam era otonomi yang penuh dengan persaingan antar Provinsi di Indonesia merupakan pe­kerjaan yang tidak gampang. Pa­ling tidak kita harus mengenal potensi diri sendiri.

Mencermati apa yang men­ja­di tantangan dan kemudian meng­gu­nakan strategi yang tepat untuk meng­a­tasinya sehingga salah satu sek­tor unggulan ini berkembang pe­sat dan turut berkontribusi meng­ge­rakkan ekonomi masyarakat di Provinsi Maluku.

Kekuatan daerah ini ialah ter­da­pat berbagai potensi handal di berbagai aspek yang bernilai se­bagai obyek wisata.

PELUANG PEMBANGUNAN PARIWISATA DI MALUKU
1. Potensi Pariwisata
Apa yang menjadi potensi pa­ri­wisata di daerah Maluku? O, ba­nyak! Maluklu dianugrahi Tuhan dengan sumber daya alam maupun sum­ber daya budaya yang indah dan bera­gam. Dari hasil inventarisasinya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Maluku (2011) diketahui ada 302 potensi pariwisata terdiri dari potensi wisata sejarah (20%), po­tensi wisata budaya (15,2%), potensi wisata alam (28%), potensi wisata bahari (36,6%), dan potensai wisata buatan (1,8%).

Potensi yang ada itu tersebar di mana-mana dan semuanya memiliki ke­sem­patan untuk diikem­bangkan menjadi atraksi wisata. Tentu saja tidak dapat dikembangkan seren­tak bersama-sama karena keter­batasan ang­garan pem­bangunan sehingga ha­rus ada prioritas, potensi wisata apa yang dikembangkan lebih da­hu­lu guna me­wujudkan sebuah des­tinasi wisata unggulan bagi Maluku.

Destinasi wisata ialah ka­wa­s­an geografis dalam wilayah ad­mi­nistratif yang di dalamnya ter­se­dia kebutuhan kepariwisataan me­nyangkut daya tarik wisata, fasi­litas wisata, aksesibilitas, serta masya­rakat sebagai pelaku.

Jika dilihat dari potensi yang ter­sedia maka potensi wisata ba­ha­ri­lah (marine tourism) yang pan­tas dikembangkan karena me­mi­­liki keindahan (beauty), keas­lian, (ori­ginality), keutuhan (who­le­so­me­ness) maupun kelangkaan (scarcity).
Sebagai provinsi kepulauan atau kawasan seribu pulau, oto­ma­tis Maluku dikenal sebagai da­erah wisata bahari. Apalagi letak wila­yah Maluku dekat dengan negara Australia membuat perairan laut kita selalu dilayari oleh kapal-ka­pal layar (yachts) dari Australia gu­na menikmati pulau-pulau kecil ber­pasir putih halus serta perairan laut biru yang hangat.

Pengembangan wisata bahari sebagai atraksi unggulan bukan ber­arti mengabaikan potensi-po­ten­si wisata yang lain semuanya te­tap dikembangkan sebagai atraksi pendukung.

Bila wisata bahari menjadi pili­han prioritas sebagai daya tarik ung­gulan pariwisata Maluku maka komitmen itu harus di­tuang­kan di dalam Perda tentang konsep Pa­riwisata Bahari sehingga arah pem­­bangunan pariwisata ter­f­okus ke pariwisata ba­hari yang didukung oleh penyiapan infrastruktur.

Namun karena ham­pir semua daerah di Ma­luku memiliki po­ten­si wisata ba­hari maka perlu ada pembagian wilayah-wilayah yang tepat guna me­nyiapkan des­tinasi wisata bahari dengan mem­perhatikan adanya obyek, kelancaran transportasi, fa­si­litas kepariwisataan maupun da­ya dukung masyarakatnya. Pe­nen­tuan wilayah wisata bahari yang berpusat di Kabupaten/Kota itu mesti tertuang dalam RTRW Provinsi Maluku.

Salah satu daerah di Maluku yang berpotensi sebagai destinasi wisata bahari adalah pulau Banda. Selain telah terkenal di dunia sejak dahulu karena rempah-rempah, Banda memiliki keindahan alam bahari yang cocok untuk fishing, diving, snorkeling dan lainnya.

Selain itu potensi pendukung atraksi wisata bahari juga telah tersedia antara lain wisata agro, wisata sejarah, wisata budaya. Ketenaran Banda dengan sejarah masa lalu sampai dengan masa pergerakan kemerdekaan Indonesia dan keindahan alam membuat Banda telah menjadi tempat berwisata para raja, kepala-kepala Negara di dunia, artis dan bintang film kelas dunia. Bahkan setiap tahun Banda menjadi salah satu titik singgah perahu-perahu layar peserta Sail Indonesia maupun peserta Darwin Yacht Race.

Kini tinggal komitmen peme­rintah Dearah Maluku untuk serius me­ngembangkannya menjadi desti­nasi wisata bahari yang unggul di Maluku. Sebuah destinasi wisata dikatakan berhasil jika telah mampu menyiapkan sesuatu yang berdaya tarik (attractive), berkelanjutan (sus­tainable), dan memiliki kualitas pe­layanan yang tinggi (high quality service).

2.Teknologi Informasi dan Komunikasi
Pariwisata tidak dapat dipisahkan dengan teknologi oleh karena sifat­nya fundamental dan perannya be­sar. Melalui jaringan internet, web­site, email di era globalisasi kita dapat mempromosikan pariwisata Ma­luku secara cepat dan murah kepa­da calon wisatawan di selu­ruh dunia. Hal-hal tentang kom­po­nen produk wisata (ciri khas) trans­portasi, akomodasi, tarif dan hal-hal lain yang diinformasikan secara gen­car oleh pemerintah daerah Ma­lu­ku terutama Dinas Teknis yang bekerjasama dengan pelaku jasa wisata.

Ada empat Negara bear yang masyarakatnya tercatat paling banyak melakukan kegiatan wisata ke luar Negara asalnya yakni Amerika Serikat, Jerman, Inggris dan Jepang. Keempat Negara dimaksud setiap tahun menyumbangkan 41% untuk pendapatan pariwisata dunia (M. Baiquni, et.al. 2010).

Dari segi teknologi Negara-ne­gara tersebut adalah pengguna tek­nologi informasi/internet dengan jum­lah kurang lebih 130 juta orang. Ada korelasi yang erat an­tara pengguna internet dengan pe­ningkatan jumlah wisatawan.
Internet bukan semata-semata penemuan teknologi tetapi melalui internet orang dapat menemukan ber­bagai informasi termasuk pari­wisata kita di Maluku. Sekarang ter­gantung dari kita apakah mau menggunakan teknologi informasi ini atau tidak.

Peluang promosi jangan dile­wat­kan yang penting bagi kita me­nyiapkan sarana yang dibutuhkan ter­masuk petugas operator yang sela­lu melayani permintaan informasi atau memberikan informasi secara terus menerus.
Dalam waktu yang cepat dan biaya yang relatif tidak mahal kita dapat bertemu dan membangun relasi dengan agen-agen perjalanan dunia maupun para event organizer (EO) terkenal di dunia untuk bangun kerjasama dalam pengembangan pariwisata.

Bilamana mereka tertarik de­ngan daya tarik kita di Maluku maka sebuah event pariwisata yang berkelas dapat dilaksanakan dan disponsori oleh mereka. Bayangkan hanya melalui media teknologi informasi masyarakat dunia dapat menjelajahi wilayah kita dengan segala daya tariknya; namun harus di pastikan bahwa informasi itu selalu di up to date.

Bisnis pariwisata adalah bisnis kepercayaan (trust) sehingga sekali memberikan keliru memberikan informasi maka kita akan kehilangan kepercayaan. Informasi yang tidak akurat dapat berbalik merugikan diri sendiri karena wisatwan akan mencari daerah yang lain.

Sebaliknya informasi dan komu­nikasi yang solid dapat membangkitkan idaman dan hasrat orang lain untuk berkunjung ke Ma­luku apalagi informasi itu di­ikuti dengan ilustrasi visual yang me­yakinkan ditambah dengan ka­limat-kalimat yang menggugah te­pat dan santun sehingga ada efek po­sitif untuk orang lain berwisata ke Maluku.

Kemajuan teknologi informasi juga memberi kesempatan bagi pe­me­rintah daerah Maluku mem­bangun kerjasama dengan produsen iklan untuk mempromosikan ob­yek wisata Mauluku ke seluruh In­donesia. Bila punya nyali besar untuk mendongkrak kenjungan wi­sa­tawan dunia maka kita per­lu merencanakan sebuah ‘ide gi­la’ (big crazy idea) misalnya beker­ja­­sama dengan salah satu product com­mercial world (mis. Coca Cola).

Pemerintah Daerah menyiapkan atraksi wisata yang berkualitas se­dangkan produsen berkelas dunia itu mengemasnya sebagai branding Coca Cola untuk beberapa waktu (bran­ding of the month). Dengan de­mikian Maluku dengan obyek wi­satanya menjadi cepat terkenal di seluruh dunia dan dianggap ber­kelas.

3.Branding pariwisata
Spice island an exotic marine paradise. Itulah branding pariwisata Maluku. nama branding itu di dasari dengan latar belakang sejarah (great story) yang cukup membanggakan bahwa Maluku sejak dahulu telah memiliki daya tarik sehingga di­kun­jungi oleh masyarakat dunia yai­tu sumber daya alam. Jadi se­sung­guhnya Maluku sudah punya na­ma di dunia. Kini kita hanya per­lu memprogandakannya dengan strategi yang tepat.

Sasaran propaganda pertama ada­lah masyarakat Maluku dan barulah orang yakni calon wi­sa­tawan nusantara dan manca negara. Pemasangan biliboard berukuran besar dengan tampilan keindahan alam, putri-putri Maluku yang can­tik serta tulisan besar-besar Wel­come to Maluku, Spice Island an Exotic marine paradise adalah cara yang sangat tepat. Branding itu dipasang di Bandara, di pelabuhan laut, di terminal, di jalan raya utama, di pusat pertokoan atau di tempat-tempat strategis sehingga orang lain yang melihatnya terprovokasi.

Agar lebih memasyarakatkan bran­ding atau ikon, perlu ada komit­men dari Pemerintah Daerah Maluku untuk setiap pejabat daerah (Gubernur, Bupati atau Walikota) jika menerima tamu yang datang di Maluku dalam sambutannya hen­dak­nya memeperkenalkan branding dengan mengucapkan; “Welcome to Maluku, spice island an exotic marine paradise”.

Propaganda branding ke selu­ruh Indonesia dapat dilakukan ju­ga dengan memasang biliboard besar-besar di bandara-bandara in­ter­national di Indonesia melalui ker­jasama dengan pihak swasta atau para pengusaha, sehingga tidak per­lu menggunakan APBD. Selain itu propaganda dilakukan melalui per­kumpulan masyarakat Maluku di Jakarta atau dikota-kota besar lain di Indonesia.

Kantor Perwakilan Maluku atau Anjungan Maluku di Taman Mi­ni Indonesia Indah di Jakarta ha­rus difungsikan sebagai tempat pro­paganda branding. Oleh karena itu tampilan dua gedung tersebut dari luar sudah harus mencerminkan bran­ding pariwisata kita sekaligus aspirasi dan kepribadian daerah Maluku..

Tidak kalah penting adalah te­naga-tenaga yang bekerja untuk ba­ngun citra baik dan branding Ma­luku. Publisitas branding akan menjadi lebih cepat bila membangun hu­bungan dengan pers lokal, na­sional maupun internasional.

TANTANGAN PEMBANGUNAN PARIWISATA DI MALUKU

1.Prasarana dan Sarana Kepariwisataan
Seindah apa sekalipun daya tarik pariwisata di Maluku dan segencar apapun promosi yang dilakukan untuk menarik minat wisatawan ke Maluku jika tidak didukung dengan prasarana maupun sarana kepariwisataan yang lancar dan lengkap maka menjadi sia-sia belaka.

Prasarana adalah semua fasilitas pendukung aktifitas pelayanan wisatawan selama berada pada sebuah destinasi wisata misalnya jaringan jalan raya, pelabuhan udara, pelabuhan laut, terminal, instalasi listrik, air bersih, sistem telekomunikasi seperti telepon, internet, televisi, radio pelayanan kesehatan dan keamanan. Adapun sarana kepariwisataan adalah menyangkut akomodasi, fasilitas wisata dan jasa wisata.

Tidak dapat diingkari bahwa pemerintah Daerah Maluku telah banyak melakukan pembangunan di bidang infrastruktur walau belum semua tempat yang memiliki potensi pengembangan wisata bahari infrastrukturnya secara lengkap telah tersedia. Kondisi ini terjadi karena arah kebijakan pemerintah dalam hal penyiapan infrastruktur di tingkat Provinsi, kabupaten dan kota kurang bersinergi dengan rencana pengembangan pariwisata daerah Maluku.

Otonomi pada setiap kabupaten dan kota membuat masing-masing kabupaten dan kota merencankan pembanguna sendiri-sendiri, atau bahkan tidak membuat perencanaan tata ruang pembangunan tetapi mungkin mengikuti investor yang dapat membangun di mana saja sehingga terkadang merugikan.

Banda yang jelas-jelas sangat berpotensi sebagai destinasi wisata bahari ternyata sampai saat ini belum dapat dinyatakan siap sebagai destinasi wisata bahari unggulan di Maluku karena masih banyak unsur-unsur tuntunan kebutuhan pariwisata yang belum lengkap.

Sebagai destinasi wisata unggulan semestinya Banda telah dilengkapi dengan sebuah Pelabuhan Marina sebagai daya tarik wisata bahari selain itu gugus-gugus pulau kecil yang kaya dengan spot-spot diving sudah harus memiliki jaringan bersih, jaringan listrik maupun jaringan komunikasi yang lancar.

Transportasi udara maupun transportasi laut Ambon-Banda pp sudah tidak boleh lagi menjadi hal yang membuat wisatawan kecewa. Masih banyak lagi yang dapat menunujukan bahwa sinergetis antara kebutuhan pariwisata dan penyiapan infrastruktur masih kurang.

Hal-hal seperti inipun juga dialami oleh pulau-pulau kecil lain yang berpotensi sebagai distinasi wisata. Sekali lagi prasarana merupakan faktor kritis dalam menyiapkan sebuah destinasi wisata. Bagaimana mungkin kita mengharapkan ada peningkatan kunjungan wisatawan yang banyak sementara kita sendiri belum siap. Seyogianya Pemerintah Daerah lebih dahulu menyiapkan prasarana kepariwisataan setelah itu pihak investor akan tertarik membangun sarana industri pariwisata dan usaha jasa pariwisata di Maluku.

2.Atraksi Maluku
Segala sesuatu yang menarik dan bernilai dalam dunia kepariwisataan disebut atraksi. Di Maluku atraksi wisata atau obyek wisata dapat disaksikan pada acara-acara tertentu maupun berlangsung secara natural sangat banyak ciri khas budaya dan ada juga yang merupakan karunia alam.

Oleh sebab itu apa yang telah ada sebagai atraksi wisaat jika dikelola dengan baik akan memiliki nilai jual. Suatu daerah wisata di samping akomodasi tersedia harus pula memiliki atraksi yang memikat.

Sampai saat ini atraksi wisata kita masih belum dikelola dengan baik. Atraksi-atraksi itu belum dipadukan menjadi tontonan menarik, artinya setiap ragam atraksi dibuat sedemikian rupa menjadi harmonis, mengagumkan dengan tetap menjaga kelestariannya serta mengindahkan nilai-nilai budaya masyarakat setempat.

Minimnya kreativitas pihak pengelola, jadwal kegiatan yang tertera dalam calendar of events sering berubah maupun dukungan masyarakat yang lemah masih menjadi kendala dalam menyiapkan atraksi-atraksi wisata itu.

Memang saat ini ada paket-paket tour yang disiapkan oleh agen-agen perjalanan tetapi jumlahnya masih sedikit dan kadangkala juga membuat wisatawan apa yang dijula tidak sesuai dengan kenyataan yang dilihat misalnya obyeknya kotor, kurang terawat, sajian atraksi yang kering belim profesional termasuk masyarakat lokal yang belum siap mendukung.

Ambil contoh kasus Investor Asing di Desa Paperu (pulau Saparua) dengan sebuah resortnya yang telah mempekerjakan puluhan masyarakat lokal, akhirnya berkonflik kepentingan dengan masyarakat lokal itu sendiri. Masyarakat lokal melarang wisatawan untuk melakukan aktivitas diving di sekitar perairan laut Desa Paperu yang perlu diselesaikan secara paripurna.

Contoh lain, bangunan-bangunan sejarah tinggalan peradaban masa lalu ternyata masih banyak yang terlantar belum mendapat sentuhan serius dari pemerintah daerah sehingga yang terlantar belum mendapat sentuhan serius dari pemerintah daerah sehingga kondisinya kotor, tidak terurus dan terbengkalai. Hal-hal seperti itu menurunkan daya tarik dan nilai obyek yang dikunjungi.

Apa yang ingin dilihat oleh para wisatawan sesungguhnya telah tersedia di Maluku, yaitu hal-hal yang natural, misalnya pemandangan alam, danau, hutan, air terjun, bangunan-bangunan bersejarah, keunikan satwa, gaya hidup masyarakat tradisional, music, tarian, makanan atau kegiatan perekonomian lokal antara lain memancing, bertani, upacara adat, ritus dan lain sebagainya.

Ketika wisatawan datang ke sebuah destinasi wisata maka kita harus mengatur cara hidup masyarakat lokal sehari-hari. Sedangkan di malam hari menyaksikan tari-tarian daerah. Bila berkunjung ke obyek-obyek sejarah, seyogianya lingkungan di sekitarnya disiapkan juga untuk atraksi musik daerah, kuliner atau pameran kerajinan, sehingga wisatawan dapat berbelanja dengannya kita telah menggerakan ekonomi rakyat.

Keberhasilan pengembangan atraksi wisata bukan saja dilihat dari besrnya jumlah wisatawan yang berkunjung tetapi juga dapat diindikasikan dengan bergeraknya ekonomi rakyat terutama di sekitar lokasi wisata.

3.Citra Baik Maluku
Dunia pariwisata adalah dunia yang dibangun melalui citra keindahan, kenyamanan, kesantunan, keramahan dan kedamaian pada distinasi yang dituju. Konflik sosila Maluku (1999) menjadi salah satu apsek yang turut berdampak pada citra baik Maluku. Sebab itu perdamaian Maluku yang terus diusahakan sampai kini merupakan selling point untuk mendongkrak kunjungan wisatawan ke Maluku.

Pada umumnya wisatawan mancanegara yang berkinjung ke Maluku (Ambon) menyatakan masyarakatnya ramah, iklimnya menyenangkan, cara hidup masyarakat menarik serta adat istiadat yang unik membuat mereka senang selama berada di Maluku.

Tetapi ada hal lain yang disampaikan dan perlu disikapi yaitu lingkungan di sekitar obyek wisata kotor, tidak terawat, kondisinya tidak sehat dan masyarakatnya sulit berkomunikasi (kemampuan bahasa inggris lemah).

Selain itu pelayanan informasi kurang dan mutu pelayanannya pun masih rendah demikian juga dalam hal disiplin dan ketertiban masyarakat. Kemacetan lalu-lintas di jalan raya, mengabaikan keselamatan penumpang baik di angkot maupun penumpang dengan transportasi laut atau kapal laut membuat mereka kurang merasa nyaman.

Apa yang dinyatakan oleh para wisatawan itu sesungguhnya tidak salah. Kesan itu menuntut kita untuk meningkatkan mutu pelayanan disemua obyek wisata. Sebagai contoh, para penjual makanan dan minuman disekitar obyek-obyek wisata dituntut untuk memperhatikan kebersihan, tata karma pembeli, dan tata berpakaian.

Jajanan kuliner yang dijual mesti bervariasi untuk memanjakan rasa wisatawan. Memperlakukan wisatawan [baca.pembeli] sebagai raja merupakan adagium yang tidak bisa diabaikan. Adagium ini mesti diperlihatkan pula dalam perilaku pelayanan di hotel, restoran atau rumah makan disetiap destinasi wisata di Maluku.

Artinya perilaku masyarakat Maluku mesti dibentuk sebagai perilaku masyarakat destinasi wisata. Instrumen yang tepat diberlakukan adalah Kampanye Sadar Wisata dan Sapta Pesona yang telah disiapkan oleh kementrian pariwisata dan Program Ekonomi Kreatif.

Sosialasi terhadap dua program di atas harus menjadi kegiatan utama dan dilakukan secara sampai masyarakat biasa yang telah tinggal di negeri-negeri atau desa-desa. Kebersihan, keamanan dan ketertiban adalah hal yang paling utama dan harus segera diwujudkan bila ingin maju dalam meningkatkan jumlah wisatawan di Maluku.

Sapta pesona Pariwisata dengan unsure-unsur aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah dan kenangan dapat merubah perilaku acuh menjadi perilaku yang positif. Bilamana ini berhasil dilaksanakan maka citra baik pariwisata Maluku terbangun dan dapat mempengaruhi keinginan berkunjung wisatawan, membuat betah tinggal lebih lama di suatu daerah tujuan wisata di Maluku, dan membuatnya mengeluarkan uang yang lebih banyak lagi. Artinya destinasi wisata kita memiliki nilai tambah.

Oleh karena itu kita bangun terus kedamaian di antara kita sekaligus menghilangkan citra negatif atas pengalaman tahun 1999. Sejalan itu dengan pemerintah dapat mempersiapkan peningkatan mutu produk wisata maupun mutu pelayanan jasa wisata melauli pelatihan, kursus maupun pendidikan formal misalnya membangun Akademi Pariwisata atau Sekolah Tinggi Parawisata.

PENUTUP

Pariwisata adalah ajang ekonomi kreatifitas masyarakat yakni dengan menyediakan barang-barang berkualitas tinggi yang bersumber dari bahan lokal. Pariwisata juga adalah sarana pelestarian sumber daya alam maupun sumber daya budaya.

Sebagai destinasi wisata yang kaya perencanaan pembangunan di bidang pariwisata semestinya fokus, dan dikembangkan setahap demi setahap dengan cara-cara yang sistematis serta mempertimbangkan unsur-unsur sosial, budaya dan lingkungan hidup.

Bilamana perencanaan itu dilakukan dengan baik dipastikan akan memberikan manfaat besar bukan saja dalam pembanguna ekonomi tetapi juga pada aspek-aspek lain yang sangat fundamental bagi masyarakat di Provinsi Maluku yakni rasa bangga akan tanah tumpah darah Maluku sehingga menumpuk rasa persaudaraan yang sejati di antara orang basudara.

Pariwisata akan mampu member andil bagi daerah-daerah kita yang msikin potensi ekonominya selain potensi alam dan budaya yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata dengan nilai jual tinggi. (*)

BERITA LAINNYA

Desak BK “Adili’’ Huwae & RR

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Usut Repo Fiktif, Kejati Dinilai Asal-Asalan

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Tiga Tahun Beruntun Malra Raih WTP

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Sering Mati Lampu, PMKRI Demo PLN

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Kades-Bendahara Jadi Terdakwa

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Tiga Warga Debut Tewas Dibunuh

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB