Menu
Selasa, 20 Pebruari 2018
ILUSTRASI

KABARTIMUR.co.id,TIMIKA- Jenazah Kolaka Emakeparo, korban penembakan oleh oknum aparat kepolisian di Pelabuhan Cargodokck Portsite Amamapare, Distrik Mimika Timur Jauh, Minggu siang dibawa oleh kerabatnya ke Kantor DPRD Mimika, Papua.

Jenazah ibu rumah tangga berusia 55 tahun yang bermukim di Pulau Karaka Mimika Timur Jauh itu dikawal oleh seratusan orang bersenjatakan besi, palu, dan parang.

Begitu tiba di halaman Kantor DPRD Mimika, massa membakar ban mobil di tengah Jalan Cenderawasih, tepat di depan Kantor DPRD Mimika sehingga membuat arus lalu lintas dari Timika menuju SP2-SP3, Kuala Kencana lumpuh total.

Kerabat korban menuntut pertanggungjawaban aparat kepolisian atas peristiwa tertembaknya Kolaka Emakeparo. Jenazah korban sebelumnya sempat dibawa ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika untuk dilakukan visum.

Korban terkena peluru aparat Brimob saat terjadi keributan di Jembatan Pelabuhan Cargodock Portsite Amamapare pada Minggu dini hari. Korban tertembak pada bagian kening menembus hingga kepala bagian belakang.

Pengurus Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko) Irenius Akimuri mengatakan korban sebetulnya tidak terkait langsung dengan peristiwa keributan di Jembatan Cargodock Pelabuhan Portsite Amamapare milik PT Freeport Indonesia pada Minggu dini hari itu.

“Kami pihak keluarga menuntut Polri bertanggung jawab atas masalah ini, menyiapkan tempat persemayaman jenazah, penguburan jenazah sampai permasalahan ini diselesaikan secara tuntas,” kata Irenius.

Keluarga juga menuntut PT Freeport bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa penembakan yang menewaskan Kolaka Emakeparo tersebut. “Oknum anggota yang melakukan penembakan harus diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” ujar Irenius.

Kepala Kampung Pulau Karaka Fakondus Natipia mengatakan saat terjadi keributan di jembatan Cargodock Pelabuhan Portsite Amamapare pada Minggu dini hari, korban sedang tertidur.

Korban terbangun dari tidurnya saat mendengar ada bunyi letusan senjata api. “Begitu mendengar bunyi tembakan, korban pergi melihat ke lokasi. Tahu-tahu dia jadi korban,” tutur Fakondus.

Kapolres Mimika AKBP Indra Hermawan menyatakan turut berduka cita atas peristiwa yang menimpa almarhumah Kolaka Emakeparo. Indra berjanji untuk menindaklanjuti tuntutan dan permintaan keluarga korban guna mengusut tuntas peristiwa tersebut.

Komandan Satgas Pengamanan PT Freeport AKBP Suroso yang ikut hadir menemui keluarga korban meminta bantuan para tokoh masyarakat untuk bersama-sama mencari solusi penyelesaian terhadap permasalahan yang sudah terjadi tersebut.

Hingga Minggu petang, jenazah almarhumah Kolaka Emakeparo masih disemayamkan di Kantor DPRD Mimika. Massaterus berdatangan ke Kantor DPRD Mimika dan ruas Jalan Cenderawasih masih diblokade sehingga tidak dapat dilalui kendaraan.

 

DESAK KAPOLDA

 

Sementara itu, Tokoh masyarakat Suku Kamoro Georgorius Okoare meminta Kapolda Papua Irjen Polisi Boy Rafli Amar datang ke Timika untuk menyelesaikan penembakan seorang warga Kolaka Emakeparo (55) yang meninggal terkena peluru aparat kepolisian pada Minggu dini hari.

“Saya minta Kapolda dan Pangdam harus hadir di sini. Kami mau tahu siapa-siapa pelaku yang terlibat. Kita harus lihat fakta yang benar seperti apa di lapangan,” kata Georgorius di Kantor DPRD Mimika, Minggu.

Wakil Ketua I Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko) itu menegaskan warga Suku Kamoro selaku suku asli di Mimika sudah banyak menjadi korban tindak kekerasan oleh aparat keamanan.

Seharusnya, kata Georgorius, aparat keamanan baik TNI maupun Polri berperan melindungi masyarakat, bukan sebaliknya menjadikan masyarakat sebagai sasaran kebrutalan mereka.“Kami mengutuk keras tindakan oknum aparat yang telah menembaki warga kami,” ujarnya.

Georgorius meminta aparat kepolisian tidak membuka blokade Jalan Cenderawasih, tepat di depan Kantor DPRD Mimika sebagai bentuk rasa solidaritas atas peristiwa duka yang dialami oleh masyarakat Kamoro di Mimika.”Palang itu tidak boleh dibuka, kami sedang berduka, tolong hargai kami,” kata Georgorius.

Jenazah Kolaka Emakeparo, ibu rumah tangga yang bermukim di Pulau Karaka (Pulau Karaka berjarak beberapa ratus meter dari Pelabuhan Cargodock Portsite Amamapare PT Freeport Indonesia) hingga Minggu malam masih disemayamkan di Kantor DPRD Mimika.

Massa yang tidak puas dengan kejadian itu masih memblokade ruas Jalan Cenderawasih yang menghubungkan Kota Timika-Kuala Kencana dengan membakar ban mobil di tengah ruas jalan mengakibatkan ruas jalan itu tidak bisa dilintasi kendaraan dari dua sisi.

Beberapa warga Kamoro lainnya mengancam akan tetap menyimpan jenazah Kolaka Emakeparo di Kantor DPRD Mimika jika tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas penembakan yang terjadi di sekitar jembatan Pelabuhan Cargodock Portsite Amamapare pada Minggu dini hari itu.

“Kami tidak mau bawa jenazah untuk dikuburkan kalau tidak ada yang mengaku bertanggung jawab atas masalah ini. Semua yang terlibat harus dihadirkan,” ujar salah seorang warga Kamoro.

Peristiwa penembakan terhadap Kolaka Emakeparo bermula saat tiga warga Pulau Karaka dilaporkan memasuki kawasan pabrik pengeringan konsentrat milik PT Freeport. Menyikapi itu, anggota pengamanan internal perusahaan melakukan pengejaran.

Seorang diantaranya berinisial NR (18) ditangkap petugas lalu dibawa ke Pos Security Portsite untuk diinterogasi. Selanjutnya NR hendak dibawa ke Polres Mimika untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun di tengah perjalanan melalui jalur perairan, NR melompat dari speed boat dengan kondisi tangan terborgol.

Ia berteriak meminta tolong kepada warga di sekitar area penyeberangan Porsite-Cargo Dock. Sejumlah warga kemudian berusaha melindungi NR dan menghalau aparat dengan lemparan batu. Sempat terjadi keributan hingga terdengar letusan senjata api milik aparat Brimob.

Selanjutnya pada Sabtu (3/2) malam sekitar pukul 23.00 WIT, korban atas nama Kolaka Emakeparo dilaporkan mengalami luka robek pada bagian kening hingga menembus kepala bagian belakang karena terkena proyektil peluru.

Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika dengan kendaraan medis SOS PT Freeport. Namun setiba di RSMM, korban dinyatakan sudah meninggal dunia.

 Sementara, polisi masih belum bisa memastikan penyebab tewasnya Emalukata Emakuparo, kata Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Ahmad Kamal. “Belum bisa dipastikan penyebab kematian korban karena masih menunggu hasil otopsi yang dijadwalkan dilaksanakan Senin (5/2),” kata Kombes Kamal, Minggu malam.

Kamal mengatakan pembicaraan masih terus dilakukan dengan pihak keluarga agar mengizinkan dilakukannya otopsi sehingga penyebab kematian Emalukata diketahui dengan pasti.

Tewasnya korban berawal dari kasus pencurian konsentrat milik PT.Freeport Indonesia dikawasan cargo dock, Portside, Timika yang terjadi Sabtu (3/2) sekitar pukul 21.40 WIT yang diduga dilakukan warga P (pulau) Karaka.

Petugas securiti dan Satgas Amole dari Brimob dan Lanal berhasil menangkap RN (18) yang diduga merupakan salah satu dari tiga orang pelaku, kata Kombes Kamal seraya menambahkan, saat hendak dibawa ke Polres Timika, pelaku menceburkan diri ke laut dan berteriak- teriak sehingga warga menyerang dan melempari aparat keamanan.

Memang anggota sempat mengeluarkan tembakan peringatan karena diserang masyarakat namun belum diketahui dengan pasti apakah korban meninggal akibat terkena tembakan atau bukan karena insiden terjadi malam hari.(AN/KT)

Sumber : ANTARA
BERITA LAINNYA

Maluku Protes Saham Blok Masela Dibagi ke NTT

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

Satu Pria “Bertopeng” Ditembak Polisi

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

Ada Pembiaran di Gunung Botak

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

PDIP Maluku “Pecah” Tiga Kubu

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

Novum Perkara Darmo 51, Tidak Ada Markup

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB