Menu
Senin, 23 April 2018

KABARTIMUR.co.id, AMBON - Penyidikan perkara dugaan korupsi proyek reklamasi Pantai Merah Putih, Namlea Kabupaten Buru, intens dikejar tim jaksa. Namun siapa calon tersangka, hingga kini tim penyidik gabungan Kejati Maluku dan Kejari Namlea menyatakan, bukti-bukti masih harus dikumpulkan.

"Penetapan tersangka itu tidak mudah. Kita mesti Pulbaket dulu. Mengumpulkan bahan dan keterangan, juga bukti-bukti," kata jaksa penyidik Ikram Ohoiulun kepada Kabar Timur, Senin (9/10) di kantor Kejati Maluku.

Jaksa penyidikan Pidsus Kejati Maluku ini mengaku, tim jaksa sementara melakukan sejumlah pemeriksaan saksi-saksi. Pemeriksaan dilakukan di dua tempat berbeda, yakni di kantor Kejati Maluku dan Kejari Namlea.

Hal itu, kata Ikram, dilakukan salah satunya dalam rangka Pulbaket atau mengumpulkan bahan dan keterangan dimaksud. Penyidikan perkara proyek Water Front City di Namlea, dilakukan pada 5 Oktober lalu. Dua saksi dicercar jaksa penyidikan Kejari Namlea terkait proyek reklamasi Pantai Kota Namlea yang diduga fiktif itu.

Masing-masing MIH, Sekretaris Pokja proyek Water Front City, diperiksa Jaksa R Sampe dengan 40 pertanyaan. Sementara ARP, Sekretaris panitia peneliti kontrak diperiksa Jaksa Weny Relmasira.

Pemeriksaan atas dua saksi tersebut menjawab teka-teki seputar pelaksanaan tender proyek yang diduga janggal. Bukan saja itu, proyek tersebut juga dipastikan terindikasi merugikan keuangan negara. "Semua pekerjaaan sebagian besar tidak ada di lapangan, berarti fiktif," beber sumber.

Dua item pekerjaaan masing-masing pemasangan tiang pancang sebanyak 300 tiang belum terpasang. Sementara penimbunan kawasan reklamasi sesuai tender harusnya menggunakan tanah pilihan, tapi dipakai sisa pembuangan proyek Lapangan Terbang Namniwel di Desa Sawa, Kecamatan Liliani.

Celakanya, pembayaran terhadap pekerjaan sesuai laporan pihak pelaksana telah cair 100 persen. Yakni tahap I tahun anggaran 2015 dan 2016 dengan total mencapai Rp 4,9 miliar.

Anehnya, ketika pencairan dilakukan duit ditarik oleh oknum pengawas proyek yakni, Mohammad Duwila alias Memed. Lalu uang dari Memed diteruskan ke rekening pribadi pelaksana lapangan yang dikuasakan kepada Munir Letsoin. (KTA)

BERITA LAINNYA

Korupsi Panwaslu Buru “Naik Kelas”

Jumat, 13 April 2018, 01:14 WIB

MI Disambut Meriah di Banda

Jumat, 13 April 2018, 01:14 WIB

Oknum Rohaniawan Bejat Jadi Tersangka

Jumat, 13 April 2018, 01:14 WIB

Gubernur Ijinkan Polisi Periksa Jimmy Sitanala

Jumat, 13 April 2018, 01:14 WIB

Utut Adianto Bakal Perjuangkan Anggaran Maluku

Jumat, 13 April 2018, 01:14 WIB