Menu
Rabu, 25 April 2018
Ist

KABARTIMUR.co.id,TUAL - Polres Maluku Tenggara (Malra) menyatakan tidak bisa memproses hukum salah satu paslon yang diduga menistakan agama yang membanding-bandingkan dirinya seperti Nabi Adam.

Di lain pihak kelompok pendemo mengaku, aksi protes terhadap calon Wali Kota Tual Adam Rahayaan karena diduga menistakan agama jauh dari tendensi politis.

Wakapolres Malra Komisaris Polisi Deny Ubro menjelaskan, pihaknya belum bisa berbuat banyak. Dia membenarkan adanya demo yang digelar oleh masyarakat Tayando Yamtel atas kasus tersebut.

“Tapi mereka cuma menyuarakan saja, sambil silaturahmi dengan pak Kapolres. Tidak ada laporan resminya. Kecuali ada laporan polisinya, atau ada map yang diserahkan, itu boleh,” tandas Ubro, Selasa (10/4).

Sementara itu, Korlap pendemo, Agung Ryan Hidayat menyatakan, pihaknya telah menyampaikan langsung aspirasi elemen masyarakat Tayando Yamtel, saat menggelar demo di depan Polres Malra, Senin (9/4).

Bahkan laporan polisi juga telah disampaikan sekalian nama terlapor yakni Adam Rahayaan. “Selesai penyampaian aspirasi, kita langsung masuk buat laporan di piket. Yang dilapor Pa Adam (Rahayaan),” kata Korlap elemen Masyarakat Desa Tayando Yamtel Kecamatan Tayando Tam itu.

Lebih jauh Ryan menyebutkan demo yang digelar kemarin di depan Polres Malra dan Kanwil Kementerian Agama RI Tual adalah murni gerakan moril. Dan tanpa tendensi politis.

Buktinya, bukan umat Muslim saja yang ikut demo, tapi masyarakat Kristiani dan Katolik di pinggir-pinggir kantor Polres dan Kementerian Agama juga ikut.

Agung menyatakan, demo dimaksud murni bicara akidah semua agama. Sebab klaim “selaku” Nabi Adam oleh Rahayaan jelas mengusik semua umat beragama yang meyakini Nabi Adam sebagai manusia pertama di muka bumi. “Itu murni gerakan moral dan tidak ada intervensi politik terhadap kami,” tandas mantan Kabid Hukum dan HAM Presidium Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta itu.

Ketika mendengar rekaman kampanye Adam Rahayaan pada 24 Maret 2018 lalu, pukul 10.30 WIT di Desa Tayando Yamtel itu, dirinya langsung membuat kajian sesama aktivis HMI di Kota Tual. “Setelah dengar rekaman itu, wah kok seperti ini? Kita simpulkan ini tidak bisa dibiarkan. Ini penyesatan bahkan penistaan agama namanya,” beber Ryan.

Menurut dia, sejatinya para kandidat atau paslon yang akan bertarung di Pilkada hanya berbicara soal visi misi dan program ke depan. Bukan menyampaikan hal-hal yang malah melenceng ke penistaan agama. Namun dalam orasi-orasi politiknya, Adam Rahayaan menyampaikan hal-hal di luar kepantasan kampanye yang diatur oleh peraturan KPU.

Namun kekecewaan Ryan dan kelompok pendemo Elemen masyarakat Desa Tayando Yamtel, juga terhadap kinerja Panwaslu setempat. Panwaslu Kota Tual terkesan tidak bekerja, proses pengawasan tidak berjalan dengan baik. “Kami melihat ada upaya pembiaran oleh Panwas Kota Tual,” katanya.
Politisi PKS Bela Rahayaan Soal Ngaku ‘’Nabi Adam’’

Sementara itu, Ketua Fraksi PKS DPRD Maluku, Amir Rumra menegaskan, Adam Rahayaan tidak bermaksud melakukan penodaan atau menistakan agama, terkait pengakuan dirinya sebagai ‘’Nabi Adam’’ saat kampanye di Tayando Yamtel, beberapa waktu lalu.

‘’Tidak ada unsur penodaan atau penistaan agama. Beliau hanya bercanda. Khan beliau nama Adam. Waktu kampanye saya hadir,’’kata Rumra ketika dihubungi Kabar Timur, tadi malam.

Dia menegaskan, Nabi itu tentu memiliki pengikut setia. “Bicara nabi ada pengikutnya. Ini hanya bercanda. Ini humor. Dan saat itu orang tertawa. Saya kira kalau video kampanye  ditonton tentu mengetahui apa benar ada penistaan atau tidak,’’ingatnya.

Apalagi, ingat dia, konstestasi Pilwakot Tual, kali ini selain diikuti Adam Rahayaan ada calon Walikota Tual, Yunus Serang. “Ada yang komentar ada Adam, Yunus dan Daud. Kebetulan ada nama Adam, lalu canda itu dimunculkan beberapa orang bilang Pilwakot kali ini perang Nabi. Ada nama Adam dan Yunus Serang,’’sebutnya.

Rumra mengaku, pengakuan Rahayaan soal Nabi, tidak hanya di sampaikan saat kampanye. Menurut dia, Rahayaan yang juga Ustad, sering menyampaikan saat ceramah. “Beliau sebagai Ustad sering ceramah candaan soal namanya,’’terangnya.

Dia menilai, aksi demo yang dilakukan sejumlah warga yang mengatasnamakan aliansi masyarakat Islam Tayando, bermuatan politis ketimbang hukum. “Aksi demo itu situasi politiknya tinggi. Itu susupan karena kepentingan politik. Saya siap bersaksi di Polisi. Semua hadir  bisa bersaksi. Ini situasi politik, mesti kita sama-sama jaga Kamtibmas jelang Pilwakot,’’harapnya. (KTA/KTM)

BERITA LAINNYA

Bendera RMS Ditemukan di Pantai Hulaliu

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Tim Reskrimsus Geledah Kantor Bupati Buru

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Hari Ini KPU Tetapkan DPT Pilgub

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Divonis 5 Tahun, Narapidana Dirawat di RSJ

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Bos “Remaja Indah” Dihukum Bayar Pesangon

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Ini Tiga Kabupaten Penunggak Raskin Terbesar

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB