Menu
Kamis, 24 Mei 2018
ilustrasi

KABARTIMUR.co.id,TUAL - Sindikat perdagangan narkoba belum juga berhasil digulung Polres Maluku Tenggara, dari mereka yang tertangkap tangan hanya berhasil diperoleh barang bukti dengan kualitas “ecek-ecek”, belum pada bandarnya. Namun Polres mengaku tidak pilih kasih, anggota Polri atau bukan tetap ditangkap jika kedapatan.

Menyusul penangkapan terhadap dua tersangka narkoba dua pekan lalu, satu lagi pelaku siap dimejahijaukan. Seorang anggota Polres Malra, yakni Bripka Jesly Lempang dari unit Sabara.

“Siapapun yang lakukan perbuatan itu, baik anggota (Polri) maupun masyarakat tetap diproses tidak memandang bulu,” kata Kepala Satresnarkoba Polres Malra Iptu Maslan Mulan kepada Kabar Timur, Selasa (8/5).

Bripka Jesly diciduk siang hari sedang mengkommsi narkoba jenis sabu di sebuah kos-kosan sekitar kawasan Un Kota Tual 12 Februari lalu. Ikut disita barang bukti sabu seberat 0,1 gram, diduga merupakan sisa setelah dipakai.

Menurut Maslan Mulan, berkas perkara Bripka Jesly sudah rampung atau dinyatakan P21. Jumat pekan ini Penyidik Satresnarkoba Polres Malra menyerahkan tersangka Bripka Jesly, berkas perkara yang bersangkutan beserta barang bukti sabu ke Kejaksaan Negeri Malra, sebelum disidang di Pengadilan Negeri Tual.

“Tinggal penyerahan ke Kejaksaan saja, rencana Jumat ini,” jelas Maslan.

Dari pemeriksaan terahadap Jesly, Polres Malra tidak berhasil mendapatkan keterangan dari mana yang bersangkutan memperoleh narkoba tersebut. Disebabkan Jesly menolak memberikan keterangan mengenai asal barang bukti.

Sementara dari hasil pengembangan pemeriksaan terhadap dua pelaku lain, yakni Adrianus Leuwol alias Boris (48) dan ZR (36) yang ditangkap sekira dua pekan lalu, disimpulkan kedua pengguna dan pengedar tidak terkait dengan Bripka Jesly Lempang.

Adrianus, ZR maupun Jesly Lempang tidak saling mengenal. Disimpulkan jaringan mereka berbeda. Namun karena Bripka Jesly bungkam, dia dapat sabu dari jaringan yang mana, belum diketahui.

Sindikat narkoba di Kota Tual dan Kabupaten Malra sudah terindentifikasi, namun dari berat barang bukti relatif kecil, disimpulkan kualitas kasusnya masih dibawah. “Memang ada pengedar ada bandar, tapi bandar kecil-kecil lah gitu, ece-ece. Papalele,” ujar Maslan Mulan.

Sebelumnya Adrianus Leuwol (48) alias “Boris” Kepala Satpam Bank Pembangunan Daerah Maluku (BPDM) Cabang Kota Tual tertangkap tangan (24/4) lalu. Barang bukti 0,47 gram sabut-sabu, ikut disita dari dompet yang disimpan di saku celana kiri bagian belakang Bori.

Dari tes urin terhadap pria bertubuh gempal tersebut hasilnya negatif. Seharusnya ini menimbulkan dugaan kuat jika dia bukan pengguna. Apakah Boris adalah bandar barang haram tersebut, belum terjawab. Pihak Satresnarkoba Polres Malra bahkan menyatakan, berkas perkara Boris sedang dilengkapi.

Sedang pelaku ZR masih dalam proses penyidikan. Dia tertangkap tangan dengan barang bukti sabu seberat 3,85 gram. Penyidik menduga kuat yang bersangkutan merupakan salah satu pengedar narkoba di Kota Tual.

Bagi pelaku narkoba diancam hukuman menurut Undang-Undang No.35 tentang Narkotika. Yang mana pasal 112 hukuman minimal 5 tahun denda Rp 800 juta, sedang maksimal 9 tahun dan denda Rp 8 miliar. Sementara pengedar atau bandar diancam pasal 114 dengan hukuman penjara minimal 8 tahun maksimal 15 tahun, denda minimal Rp 1 miliar, maksimal Rp 10 miliar. (KTA)

BERITA LAINNYA

Korupsi Speedboat BPJN, PPK Diperiksa Jaksa

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

Dukung Adam Rahayaan Satu Kades “Korban”

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

Sekda SBB Dicecar 33 Pertanyaan

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

Pekan Depan Wali Kota Dipriksa

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

19 Rumah Dieksekusi Paksa

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

Cekcok, Suami Bacok Istri

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB