Menu
Kamis, 22 Juni 2017

KABARTIMUR.co.id, AMBON - Christian Dirks, pelaku penistaan agama Islam di media sosial telah ditangkap polisi.

Meski telah diinterogasi pemilik akun facebook Ian Dirks (Rditiand), Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Maluku, belum menetapkannya sebagai tersangka.   

Pelaku yang tercatat sebagai mahasiswa fakultas hukum Universitas Pattimura ini diciduk polisi di rumahnya di RT 001 RW 02,  Batu Gajah Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Sealsa (16/5).

Pria 18 tahun itu memposting status penghinaan terhadap agama Islam di akun instagramnya, Senin (15/5). Belum ditetapkannya status Dirks sebagai tersangka karena penyidik Subdit II Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Maluku masih mengumpulkan sejumlah bukti tambahan.

“Sampai sekarang ini kami masih mengumpulkan keterangan-keterangan terkait masalah itu, apakah mendukung sebagai kategori sebuah unsur pidana dari undang-undang yang ada khususnya undang-undang ITE,” ungkap Direktur Ditreskrimsus Polda Maluku Kombes Pol Budi Wibowo melalui Kasubdit II Cyber Crime, AKBP Saminata, Rabu (17/5).

Penyidik telah meminta keterangan tiga orang saksi. Untuk menjerat pelaku, penyidik masih membutuhkan saksi tambahan dan barang bukti. “Kalau sudah cukup (keterangan saksi dan barang bukti), kita akan gelar perkara apakah termasuk UU pidana ITE atau tidak,” jelasnya.

Meski belum ditetapkan sebagai tersangka, namun dari postingan yang kini sudah dikantongi penyidik diakui bahwa akun tersebut menyampaikan informasi yang mengandung kebencian.

“Setelah kita analisa beberapa informasi yang berkembang di masyarakat, khususnya media instagram. Memang ada beberapa instagram yang mengupload hasil screen shoot (salinan) yang diduga dari sebuah facebook seseorang. Dari kalimat yang dimunculkan memang menyampaikan informasi yang mengandung kebencian. Kami coba kembali apakah kategorinya memenuhi unsur pidana ITE itu,” terang dia.

Perwira dua melati ini mengimbau masyarakat agar tidak mudah memanfaatkan media sosial dalam mengeluarkan pendapat dan memposting kata-kata yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Bukan saja melalui tulisan atau kata-kata, tapi yang saat ini lagi marak adalah pornografi.

“Oleh karena itu, media sosial yang ada kita manfaatkan dengan baik sesuai dengan harapan teknologi itu sendiri, sehingga tidak timbul dampak yang akhirnya merugikan siapapun, baik si pelaku atau orang lain,” pungkasnya.

GUBERNUR GERAM
Terpisah, Gubernur Maluku Said Assagaff mengecam postingan yang dilakukan pelaku, “Saya kira orang-orang begitu ditampilkan di televisi supaya mereka malu. Saya minta ditampilkan di televisi gambarnya, karena ini memecah belah kesatuan orang basudara yang begitu besar,” kesalnya kepada wartawan di sela-sela pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Negeri (DPN) Hena Hetu di  Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, kemarin.

Membangun Maluku yang pernah memiliki masa kelam membutuhkan usaha yang begitu besar dari semua komponen baik masyarakat, tokoh agama, aparat keamanan maupun pemerintah daerah. Sehingga apa yang sudah terjaga selama ini jangan sampai dirusak dengan sejumlah status provokatif dan tidak bertanggung jawab.

“Kasih tampil orang yang provokasi kita. Supaya dia kapok dan orang lain tidak berani lagi untuk berbuat seperti begitu, kalau disimpan begitu saja percuma. Karena membangun Maluku seperti sekarang ini dengan susah payah,” tegasnya. (CR1/RUZ)

BERITA LAINNYA