Menu
Selasa, 23 Mei 2017
| Sumber Foto:Ruzady Adjis/Kabar Timur

KABARTIMUR.co.id, AMBON - Mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pattimura Ambon, Latief Kharie dieksekusi Kejaksaan Negeri Ambon, Kamis (18/5). Terpidana perkara korupsi dana penerimaan negara bukan pajak tahun 2011 senilai Rp 1,2 miliar itu terlihat ngambek saat akan dieksekusi.

Sebelum dieksekusi ke Lapas Kelas IIA Ambon, Latief keluar dari ruangan kepala seksi Pidsus Kejari Ambon dan  mengancam wartawan. “Hati-hati kalian. Jangan asal beritakan orang. Tapi beritakan yang benar,” umpatnya dihadapan sejumlah wartawan di kantor Kejari Ambon di kawasan Belakang Soya.

Usut punya usut, ternyata terpidana empat tahun kurungan penjara sesuai Putusan Mahkamah Agung tertanggal 16 Februarit 2017 itu menolak dieksekusi lantaran belum mendapat salinan putusan dari Pengadilan Negeri Ambon.

Latief dieksekusi dengan menggunakan mobil operasional Kejari Ambon pukul 16.45 Wit.  Ketika awak media mengabadikan gambarnya, Latief  yang didampingi istri dan penasehat hukumnya, Ali Tukan sempat geram. “Foto apalai. Ini beta punya pernyataan penolakan. Ambil ini baru muat dikoran,” ocehnya sambil berjalan menuju mobil yang mengantarnya ke Lapas Ambon.

Dalam surat pernyataannya, Kharie menolak putusan MA Nomor: 1472K/Pid.Sus/2016 tertanggal 16 Februari 2017. Alasannya hingga dieksekusi belum menerima Putusan dari Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Ambon.

Kepala Seksi Pidsus Kejari Ambon, Irwan Somba mengatakan eksekusi dilakukan setelah pihaknya menerima petikan putusan dari MA Nomor: 1472K/Pid.Sus/2016 tertanggal 16 Februari 2017. “Kita tetap jalankan eksekusi ini, karena kita sudah terima petikan putusan dari MA sejak 20 Maret lalu. Itu pedoman kita untuk mengsekusi terpidana,” tegas Somba.

Putusan MA itu, Latief tidak hanya dihadiahi hukuman empat tahun penjara. Terpidana juga dibebankan membayar denda sebesar Rp. 200 juta dengan ketentuan apabila tidak membayar, diganti dengan pidana kurungan penjara selama enam bulan. Terpidana juga dihukum membayar uang pengganti senilai Rp.882.688.741. “Harta bendanya akan disita untuk dilelang kepada negara, dan bila tidak mencukupi, kepadanya dikenakan hukuman tambah berupa kurungan selama delapan bulan,” jelas Somba.

Sebagaimana diketahui, pada tahun anggaran 2011 lalu, Fakultas Ekonomi Unpatti Ambon mendapatkan kucuran dana penerimaan negara bukan pajak senilai Rp1,599 miliar.

Latief yang saat itu masih menjabat Pembantu Dekan II Fekon Unpatti memerintahkan bendahara pengeluaran, Caroliona Hahury membelanjakan barang-barang keperluan fakultas.

Namun dalam pelaksanaannya, Latief dan Carolina membuat laporan penggunaan dana yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sehingga menimbulkan kerugian keuangan negara sebesar Rp1,2 miliar.

Dalam persidangan di Pengadilan Tipikor pada PN Ambon, terdakwa Latief diganjar tiga tahun penjara, denda Rp50 juta subsider enam bulan kurungan dan uang pengganti Rp882,6 juta subsider delapan bulan kurungan.

Carolina divonis satu tahun enam bulan penjara, denda Rp50 juta subsider dua bulan, dan membayar uang pengganti Rp488,1 juta subsider empat bulan kurungan.

Carolina menerima keputusan majelis hakim, sedangkan Latief melakukan upaya banding dan terakhir kasasi ke Mahkamah Agung. (RUZ)

BERITA LAINNYA

Dua “Teroris” Bom Seram Barat Ditangkap

Senin, 22 Mei 2017, 08:35 WIB

Tiga Kios di Namrole Terbakar

Senin, 22 Mei 2017, 08:30 WIB

Assagaff: Pentingnya Jaga Kedaulatan NKRI

Senin, 22 Mei 2017, 08:25 WIB

Wanita Ini Culik Mayat Bayi Dalam Kubur

Senin, 22 Mei 2017, 08:20 WIB

Hari Ini Empat Jawara Pilkada Dilantik

Senin, 22 Mei 2017, 08:15 WIB