Menu
Minggu, 20 Agustus 2017

KABARTIMUR.co.id, AMBON - Seberapa berkompeten atau efektif figur membangun komunikasi dengan DPP maupun Megawati sendiri, sangat berpengaruh pada persepsi politik sang ketua umum.

Lobi-lobi politik yang gencar di internal PDIP turut diwarnai oleh wacana dan isu politik. Pengamat menilai isu positif bahkan negatif terkait figur berpengaruh terhadap keputusan politik di tingkat DPP PDIP.

Di lain sisi, di tubuh partai berlogo 'moncong putih' itu dua skenario ini hampir pasti terjadi pada Pilgub Maluku 2018. Skenario pertama, Gubernur figur eksternal-Wakil Gubernur kader internal. Skenario dua, Gubernur kader internal-Wakil Gubernur juga kader internal.

Dua pengamat politik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Pattimura Ambon masih meyakini jika partai idiologis ini masih ngotot kader internal dicalonkan. Hanya saja, bagi pengamat politik Johan Tehuayo, di Pilgub Maluku 2018 semakin terbuka pintu bagi calon luar (eksternal) untuk direkomendasikan sebagai Calon Gubernur. Sementara Said Lestaluhu memprediksi, PDIP tetap pada fatsun partai, kader internal di posisi nomor satu.

Dihubungi via ponselnya Kamis, sore kemarin, Johan Tehuayo mengatakan, rekrutmen bakal calon (balon) Gubernur-Wakil Gubernur sementara berlangsung. Diakui, jika hasil survei merupakan kriteria penting, guna seorang figur direkomendasikan. Dan figur yang memiliki elektabilitas tertinggi tentu lebih diprioritaskan. 

Namun kata dia, tak kurang kuat pengaruhnya terhadap keputusan Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri, adalah komunikasi politik. Seberapa berkompeten atau efektif figur membangun komunikasi dengan DPP maupun Megawati sendiri, sangat berpengaruh pada persepsi politik sang ketua umum.

Johan mengingatkan, PDIP sangat berbeda dengan parpol-parpol lain. Megawati memiliki hak prerogatif terkait rekomendasi politik. Sementara parpol lain, berdasarkan keputusan kolektif. "Dalam hal ini wacana maupun isu-isu politik, baik negatif atau positif terkait figur-figur sangat dipertimbangkan Ketua DPP PDIP itu (Megawati), itu yang pertama," tandas Johan. 

Menurut dia, wacana maupun isu-isu politik terkait figur-figur memang dibutuhkan oleh sang ketua umum. Setelah hasil survei, komunikasi politik, penentuan terakhir adalah seperti apa dan bagaimana kompetensi dan integritas figur-figur.

Dikatakan, isu-isu negatif maupun wacana politik terkait figur Balon Gubernur dan Wakil Gubernur berhubungan dengan kepentingan para elit politik di tubuh DPD PDIP Maluku. Ada tiga sampai empat faksi di sana. Dan masing-masing faksi mengusung figur yang diinginkan mendapatkan rekomendasi Megawati.

Tapi, kata dia, Megawati tetap akan mengambil keputusan yang rasional. Menurutnya, isu-isu positif maupun negatif biasa dibangun di internal DPD PDIP Maluku. Karena setiap elit partai di DPD PDIP Maluku punya figur dan berpeluang mempengaruhi persepsi politik di DPP PDIP.

"Tapi isu tersebut bukan untuk menjatuhkan figur tertentu, tidak. Itu wajar di kalangan elit PDIP. Siapa yang bermain dominan itu lah yang beruntung. Apalagi kalau bisa mempengaruhi keputusan DPP PDIP," papar Johan.

Terkait pertimbangan rasional Megawati, yang disinggung Johan, adalah popularitas figur. Berikut dukungan struktur partai dari PAC, DPC hingga DPP. Jika dia figur eksternal, faktor-faktor tersebut ditambah dengan kemampuan yang bersangkutan membangun komunikasi politik di DPP PDIP. Tapi jika dia adalah kader intenal, figur tersebut harus memiliki pengetahuan yang luas atau berpengalamn dalam hal pemerintahan daerah, di PDIP biasanya seperti itu.

"Dua skenario itu yang kemungkinan terjadi untuk seorang Calon Gubernur. Yaitu, figur eksternal, tergantung bagaimana dia membangun komunikasi yang efektif secara formal dan informal. Sedangkan jika kader internal yang dicalonkan, dia harus berpengalaman dalam pemerintahan daerah," urai Johan.

Terkait siapa yang menguat saat ini berdasarkan popularitas, Johan Tehuayo menyebutkan ranking terbaru di PDIP berdasarkan penilaiannya. Dimulai dari figur Murad Ismail, Tagop Soulisa, Barnabas Orno dan Herman Koedoeboen. Sebelumnya, dia menaruh Komarudin Watubun di ranking pertama, diikuti Herman Koedoeboen, lalu Tagop Solissa dan terakhir Barnabas Orno.

Terpisah Said Lestaluhu yang juga akademisi FISIP Unpatti Ambon mengatakan, PDIP masih akan mengusung calon Gubernur dari kader internal partai itu di Pilgub Maluku. Said beralasan, PDIP merupakan partai pemenang pemilu.

"Idiologi dan pragmatisme partai. Meski realitas sekarang ini Petahana Said Assagaff punya angka survei tertinggi, posisi PDIP di nomor dua tidak relevan sebagai partai pemenang pemilu," tandas Said dihubungi via ponsel, kemarin.

Diakui Said, jika saat ini polemik kuat sedang terjadi di internal PDIP, soal siapa kader internal layak diusung. Meski hasil survei turut jadi ukuran, kata Said, keputusan politik juga berdasarkan pendekatan struktur partai. Dan fatsun idiologis partai sangat kuat di PDIP.

Terkait figur-figur yang menguat di PDIP saat ini, sebut dia, memang ada kader internal maupun figur eksternal. Dan hal ini akan mengakibatkan proses yang alot di DPP PDIP untuk tentukan calon yang direkomendasikan.

Untuk kader internal, yang sedang menguat saat ini sebut dia, masing-masing Tagop Solissa dan Barnabas Orno, dan seharusnya Ketua DPD PDIP Maluku sendiri Edwin Huwae. "Sementara figur eksternal ada Bib (Said Assagaff) dan Jenderal (Murad Ismail). Terkait calon eksternal, nah ini yang membuat alot. Karena belum ada satu parpol pun yang tak butuh koalisi, termasuk PDIP sendiri," terangnya. (KTA)

BERITA LAINNYA

Jaksa Telusuri Eksekutor Pencairan Rp 238 Miliar

Sabtu, 19 Agustus 2017, 06:00 WIB

Akhir Pekan, dan Babak Baru Pilkada Maluku

Sabtu, 19 Agustus 2017, 06:00 WIB

Pekan Depan Remon Diserahkan ke JPU

Sabtu, 19 Agustus 2017, 06:00 WIB

Polda Akui Periksa Kadishub MBD

Sabtu, 19 Agustus 2017, 06:00 WIB

Dishut Maluku Ancam Tempuh Jalur Hukum

Sabtu, 19 Agustus 2017, 06:00 WIB