Menu
Selasa, 26 September 2017

Ratusan Pohon Trembesi Ditebang PLN Bula

Dishut Maluku Ancam Tempuh Jalur Hukum

Sabtu, 19 Agustus 2017, 06:00 WIButama

KABARTIMUR.co.id, BULA - Sebanyak 240 pohon Trembessy yang dihasilkan dari proyek reboisasi APBD tahun 2010 silam, ditebang habis oleh pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) Rayon Bula. Aksi penebangan tersebut, kini menuai persoalan, karena dinilai telah melanggar ketentuan dan merugikan negara ratusan juta rupiah.

Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPTD - KPH) Dinas Kehutanan Provinsi Maluku pada Wilayah SBT, Abdul Syukur Kaplale, S. Hut, disele-sela kegiatan pemantauan terhadap ratusan pohon trembesi di ruas jalan trans Seram tersebut menegaskan, pihaknya merasa kecewa dengan aksi penebangan yang dilakukan PLN tersebut.
“Ini namanya tindakan sewenang-wenang, karena dilakukan tanpa koordinasi dengan Dinas Kehutanan selaku pihak yang telah menjalankan proyek reboisasi tersebut,” tandasnya.

Menurut Kaplale, pihaknya kini telah mengantongi bukti dokumentasi terkait masalah ini. Dan Dinas Kehutanan Provinsi Maluku selaku pihak yang berwenang atas proyek reboisasi ini akan siap menempuh proses hukum untuk meminta pertanggungjwaban pihak PT. PLN Rayon Bula.

Pantauan Kabar Timur di lokasi penebangan, ratusan pohon bernama latin Samanea Saman (rain tree) yang dibabat habis pihak PLN Rayon Bula tersebut, terdapat disepanjang jalan trans Seram, mulai dari Desa Silohan hingga Desa Englas, Kecamatan Bula Barat.

Ratusan pohon trembesi berdiamter 30 sampai 50 cm tersebut, berjarak tanam 10 x 10 meter di sisi kiri dan kanan jalan, dan merupakan hasil dari proyek reboisasi yang dilakukan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten SBT pada tahun 2010 silam.

Proyek reboisasi di sepanjang ruas jalan tersebut menelan anggaran sebesar Rp. 544. 000,000, yang bersumber dari dana bagi hasil dan dana reboisasi (DBH-DDR). Dana sebesar ini belum termasuk dengan ratusan juta, dana pemeliharaan yang setiap tahunnya digelontorkan untuk kepentingan perawatan ratusan pohon pelindung di sepanjang jalan tersebut.

“Ini adalah tindakan melawan hukum. Kita yang membuat proyek untuk memberikan efek positif terhadap lingkungan, malah ada pihak yang seenaknya menebang untuk kepentingan kelancaran pasokan listrik,” kata Kaplale.

Apapun alasannya, lanjut Kaplale, keberadaan pohon hasil reboisasi itu telah berkonsekwensi anggaran. Namanya proyek yang menelan anggaran daerah atau negara harus dipertangungjawabkan sesuai peruntukannya. Sehingga yang dilakukan pihak PLN itu adalah tindakan melawan hukum. Apalagi, sebagai upaya melindungi pohon-pohon itu, Dinas

Kehutanan Provinsi Maluku juga telah memasang papan nama larangan aktifitas penebangan secara liar di lokasi-lokasi itu.

“Tujuh tahun kami merawatnya, itu bukan waktu yang singkat. Ada konsekuensi anggaran disana, sehingga PLN tidak boleh semena-mena malakukan penebangan. Jika kepentinggannya adalah memperlancar pasokan lintrik, ya harus dikordinasikan agar bisa dilakukan pemangkasan, bukan penebangan,”tegasnya.

Kaplale menambahkan, jika harus dirunut dari awal, maka pihak PLN Rayon Bula, telah melakukan sebuah keselahan yang cukup besar. Pasalanya, proyek reboisasi yang dilakukan Dinas Kehutanan itu sudah ada jauh sebelum pihak PLN melakukan kegiatan pemancangan tiang-tiang listrik menuju ke desa -desa tersebut. Harusnya perencanaan dalam pemancangan tiang-tiang listrik itu sudah lebih matang mempertimbangkan dengan melihat potensi gangguan akibat keberadaan pohon-pohon pelindung itu.

Dilanjutkan, konsekwensi hukum atas apa yang telah dilakukan pihak PLN Rayon Bula itu sangat berat. Dalam regulasi yang sudah ditetapkan pemerintah ada aturan-aturan yang cukup mengikat semua pihak. Antaranya, ada Undang-Undang No. 41 Tahun 1999, Tentang Kehutanan dan juga Peraturan Pemerintah No. 35 Tentang Dana Reboisasi.

“Jadi siapa saja yang melakukan tindakan penebangan tanpa ijin atau sepengetahuan pihak terkait, maka siap-siap untuk menerima sanksi hukum,”paparnya.

Proyek reboisasi dengan menanam pohon trembesi di sepanjang 15 km dari kota Bula sampai ke Desa Silohan, Kecamatan Bula Barat, ini sejatinya diperuntukkan sebagai upaya pelestarian lingkungan. Di masa pemerintahan mantan Bupati SBT Abdullah Vanath, proyek ini menjadi prioritas utama yang dikawal oleh dua dinas terkait yakni Dinas Perkebunan dan Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten SBT.

Tajuk pohon trembessy yang lebar dan daunnya yang lebat ditambah dengan jaringan akarnya yang luas, berfungsi untuk menyerap air dengan maksimal. Satu batang pohon Trembesi mampu menyerap 28.442 kg karbondioksida (CO2) setiap tahunnya.

Trembesi memiliki sistem perakaran yang mampu bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium untuk mengikat nitrogen dari udara. Selain itu, trembesi bisa hidup di lahan-lahan marjinal, juga lahan-lahan kritis, seperti bekas tambang, bahkan mampu bertahan pada keasaman tanah yang tinggi, juga tahan kekeringan, serta tahan genangan. (CR5)

BERITA LAINNYA

Pelayanan Disdukcapil Ambon Lumpuh

Senin, 25 September 2017, 22:24 WIB

Bejat! Ayah Cabuli Anak Kandung

Senin, 25 September 2017, 22:21 WIB

Jaksa Siap Lidik Kades Kelang Asaude Dilapor

Senin, 25 September 2017, 22:19 WIB

Tim Tagop Klaim Rekomendasi Enam Parpol

Senin, 25 September 2017, 22:18 WIB

Truk Kontainer Seruduk Kabel Telkom

Senin, 25 September 2017, 22:17 WIB

Tahap II Remon Terhalang Izin Korwas

Senin, 25 September 2017, 22:15 WIB