Menu
Jumat, 20 Oktober 2017
ILUSTRASI

KABARTIMUR.co.id,AMBON - Sepak terjang oknum jaksa nakal kembali mencoreng citra korps Adhyaksa di Maluku. Berdalih mengusut dugaan korupsi, ujung-ujungnya, oknum jaksa nakal malah “main” perkara.

“Bau busuk” kisah nakal dua oknum jaksa yang bertugas di Kejaksaan Tinggi Maluku itu terungkap setelah sejumlah sumber curhat kepada Kabar Timur, kemarin.

Siapa oknum jaksa yang dimaksud? Satu dari dua jaksa itu disebut-sebut berinisial EH. Nama EH konon sudah tak asing lagi dalam “dagang” perkara. Beragam cara menabrak “rambu-rambu” penegak hukum kerap dilanggar EH untuk mendapatkan fulus dalam jumlah gede.

EH pernah digrebek wartawan di Cafe Exelco, Ambon, awal 2017 terkait dugaan percobaan penyuapan oleh keluarga salah satu terdakwa pada kasus dugaan  korupsi pengadaan kapal di Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku.

Nama EH juga disebut-sebut dalam penyidikan kasus dugaan korupsi anggaran kegiatan kurikulum 2013 di Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Seram Bagian Barat.
Kali ini EH beraksi tanpa mengantongi surat perintah penyelidikan perkara dari pimpinannya di Kejati Maluklu. Diam-diam dua oknum jaksa ini melakukan penyelidikan ilegal di Kabupaten Maluku Tenggara Barat pada Mei lalu.

Tiga paket air bersih milik bidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Maluku tahun 2015 menjadi target penyelidikan ilegal untuk meraup rupiah. Paket air bersih bernilai miliaran rupiah itu digarap perusahaan milik pengusaha jasa kontruksi asal MTB, Agustinus Theodorus alias AT. Lokasi proyek berada di desa Romean, Keliobar dan Sangliat Krawaing.

Menyelidiki kasus ini, duo oknum jaksa terbang ke Saumlaki. Tiba di ibu kota Kabupaten MTB itu, keduanya meluncur ke lokasi proyek air bersih untuk mengumpulkan bahan keterangan dan data dari hasil penyelidikan ilegal itu.

Hasilnya ditemukan tiga paket pekerjaan proyek air bersih itu terindikasi kuat bermasalah. “Item pekerjaan oleh rekanan banyak yang tidak sesuai kontrak kerja,” ujar sumber yang menolak merinci item pekerjaan yang dimaksud.

Singkat kisah, setelah mengantongi indikasi awal dugaan korupsi, duo oknum jaksa nakal ini mulai menyusun rencana jahat menjerat Agustinus Theodorus. Keduanya akhirnya menemui Agustinus. Mulai dari bicara baik-baik hingga ancaman proses hukum dialamatkan duo jaksa itu ke Agustinus. Rupanya, ancaman proses hukum membuat nyali Agustinus, keder alias takut. Akhirnya disepakati ditempuh jalur damai dengan syarat.

Duo jaksa nakal menjanjikan tidak akan mengusut tuntas kasus proyek air bersih, asalkan Agustinus menyerahkan duit. Tak hanya Agustinus yang dijadikan “ATM” berjalan. Sang jaksa nakal ini juga mensasar salah satu pejabat di Dinas PU Maluku yang merupakan kuasa pengguna anggaran (KPA) proyek tersebut.

Setelah bertemu dengan Agustinus, EH menghubungi Pejabat Pelaksana Kegiatan (PPK) dan KPA proyek air bersih tersebut. Siapa KPA itu, sumber menolak menyebutkan. “Tidak usah saya sebutkan, pasti Anda sudah tahu,” ujarnya menolak menyebutkan identitas KPA.  

KPA proyek memohon kepada EH agar kasus ini tidak dilanjutkan ke ranah hukum. Kedua pihak sepakat, kasus dihentikan, tidak berlanjut ke proses hukum. Syaratnya, KPA menyerahkan “mahar” alias fulus kepada EH cs.

Setelah tawar menawar harga, akhirnya KPA kabarnya diduga menyerahkan uang sebesar Rp 500 juta. “Yang saya dengar jaksa minta Rp 800 juta tapi disanggupi hanya Rp 500 juta,” beber sumber yang menolak namanya di wartakan itu.

Setelah harga “damai” disepakati, pada hari Minggu, Juni 2017, KPA menyerahkan uang tunai Rp 500 juta kepada EH di atas Jembatan Merah Putih (JMP), Kota Ambon. Mengantongi uang ratusan juta, kasus ini hilang ditelan bumi, setelah EH  menutup rapat kasus tersebut.

Selain itu, salah satu staf penyuplai data tentang dugaan tiga proyek air bersih itu bermasalah juga oleh EH diberikan Rp 15 juta dan juga mereka melakukan “pesta” bersama di salah satu lokasi hiburan malam.

Sumber berharap, Kepala Kejati Maluku Manumpak Pane memanggil EH cs terkait informasi tersebut. “Informasi ini valid, bukan cuma peran EH, ada jaksa yang pernah diperiksa tim Jamwas Kejagung, juga berperan dalam kasus ini,” ujarnya.

Dia mengancam akan melaporkan prilaku tak terpuji EH cs ke Kejaksaan Agung jika Kajati mendiamkan tindakan yang dilakukan EH yang telah menciderai institusi penegak hukum. “Kita tunggu, apakah Kajati berani atau tidak menindak anak buahnya yang suka memeras pejabat maupun kontraktor. Jika tidak, kita akan laporkan ke Jamwas Kejagung,” tegas dia.  Hingga berita ini dibuat, EH dan KPA belum berhasil dihubungi.  (KT)

BERITA LAINNYA

Tukang Ojek ‘Tukang Perkosa’ Akhirnya Dibui

Jumat, 20 Oktober 2017, 01:00 WIB

Polisi Diminta Ungkap Pelaku Pemerkosaan

Kamis, 19 Oktober 2017, 23:44 WIB

Pawai Promosi Festival Meti Kei Ricuh

Kamis, 19 Oktober 2017, 23:34 WIB

Bentrok di Unpatti Dua Mahasiswa Terluka

Kamis, 19 Oktober 2017, 23:30 WIB