Menu
Selasa, 12 Desember 2017
Gubernur Maluku, Said Assagaf yang didampingi Wakil Bupati Maluku Tengah, Marlatu Leleury serta Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Habiba Saimima membuka gelaran Pesta Rakyat Banda dengan mukul tifa yang dilangsungkan di pelataran Istana Mini, Desa | Sumber Foto:IST

KABARTIMUR.co.id, AMBON - Pesta Rakyat Banda tahun 2017 resmi digelar. Pembukaan berlangsung di Istana Mini, Desa Dwiwarna, Kecamatan Banda Neira, Kabupaten Maluku Tengah, Rabu (11/10).

Pembukaan Pesta Rakyat Banda 2017 ditandai pemukulan tifa oleh Gubernur Maluku Said Assagaff, Wakil Bupati Maluku Tengah Marlatu Leleury dan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Habiba Saimima yang dihadiri ribuan warga Banda.

Pesta Rakyat Banda berlangsung selama sebulan, 11 Oktober-11 November 2017. Tema Pesta Rakyat Banda tahun ini; "Menghormati Masa Lalu dan Merangkul Masa Depan".

Pesta Rakyat Banda ini sekaligus memperingati 350 tahun perjanjian Breda. Perjanjian Breda merupakan peristiwa penting antara Inggris dan Belanda. Isi perjanjian itu Pulau Rhun, Banda ditukar dengan Manhattan (New Amsterdam).

Gubernur dalam sambutannya, mengatakan Pesta Rakyat Banda akan menjadi agenda tahunan oleh Pemerintah Provinsi melalui Dinas Parawisata dan Ekonomi Kreatif Maluku. Pagelaran ini bertujuan untuk mempertontonkan keindahan pariwisata Pulau Banda yang disebutnya sebagai pulau yang cantik. Melalui gawe ini, orang nomor satu di Maluku ini menginginkan lebih banyak lagi wisatawan yang datang berkunjung ke Banda.

"Dalam benak saya, ribuan masyarakat Banda yang hadir di sini karena kita ingin pertontonkan pariwisata Banda. Saya minta ke depan dibenahi betul kegiatan-kegiatan yang bernuansa pesta. Saya minta dievaluasi. Bangun daerah ini tidak gampang, susah. Butuh kerjasama butuh koordinasi di antara semua pihak," ucapnya dihadapan ribuan masyarakat Banda.

Gubernur juga berharap melalui Pesta Rakyat Banda maupun Banda Panggel Pulang dapat membakar gairah masyarakat Banda untuk berpartisipasi sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karena menurut dia, jika tidak memberikan dampak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Banda, maka kegiatan sepeti itu tidak ada gunanya. "Mudah-mudahan Banda Panggel Pulang dan Pesta Rakyat Banda bisa menggairahkan partisispasi rakyat Banda di dalam mengisi pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Apapun yang kita buat di sini harus meningkatkan pendapatan rakyat, kalau tidak, tidak ada gunanya sama sekali," tegasnya.

Pulau Banda yang memiliki keindahan alam sudah seharusnya dibangun melalui sektor pariwisata, bukan dari sektor lain. "Pulau Banda kita harus bangun dengan pariwisata, bukan bangun dari sektor-sektor yang lain. Tapi dari sektor pariwisata. Ini pulau paling indah, pulau paling cantik. Pulau tertua di dunia adalah Pulau Banda, ini harus diangkat karena lautnya paling dalam sehingga proses terjadinya sebuah pulau butuh waktu jutaan tahun. Penelitiannya sudah dimulai, wartawan tolong catat dan angkat itu," tuturnya.

Secara umum, kata Assagaff, Maluku harus dibangun dari sektor pariwisata. "Maluku ini saya pingin kita bangun dari pariwisata melalui event-event nasional dan internasional. Sudah ada Pesta Teluk Ambon ke 12 tahun ini, Pesta Meti Key, Banda Panggel Pulang, Pesta Rakyat Banda, kemarin Tour de Molvccas, peserta 24 negara datang untuk balap sepeda di Pulau Seram dan Ambon. Dan saya mau evaluasi lagi mungkin tahun depan sampai di Pulau Buru, balap sepeda 1000 km. (TdM) penonton terpadat kedua di Asia setelah Cina," ujarnya.

Assagaff menyerukan kepada warga Banda agar sebanyak mungkin menceritakan keindahan pariwisata kawasan itu agar semakin banyak pengunjung yang datang ke bekas pulau yang dijajah oleh bangsa Belanda itu.

"Saya minta sebanyak mungkin orang cerita tentang pariwisata Banda. Insyah Allah bulan depan saya mau datang lagi ke sini 10 atau 11 November. Pak camat saya minta koordinasi dengan Pemda Maluku Tengah terus. Mari kita bangun Banda, pulau yang cantik ini, Insya Allah Banda akan sejahtera, makmur," kata gubernur.

Apalagi jika dilihat dari sejarahnya, Pulau Banda pernah dilabeli sebagai Tiga Emas di Timur. "Banda pernah dikasi label oleh orang Eropa Tiga Emas di Timur, Ternate, Ambon dan Banda. Pulau Rhun ditukar dengan Manhattan melalui Perjanjian Breda. Itu sejarah yang harus kita angkat agar orang mau datang lihat Pulau Rhun, Pulau Hatta, Pulau Banda," ucapnya.

Gubernur mengapresiasi pelaksanaan Pesta Rakyat Banda tahun ini. Dia berharap ke depan, Pesta Rakyat Banda dibuat lebih meriah untuk menarik banyak wisatawan. "Saya apresiasi Pesta Rakyat Banda, agenda ini dibikin tahunan supaya orang semakin banyak datang di sini. Kota Pariwisata, Kota Olahraga, Kota Ikan Internasional, bikin begitu. Itulah harapan saya," kesannya.

Menutup sambutannya, Gubernur mengimbau masyarakat Pulau Banda untuk menjaga stabilitas keamanan demi nama baik dihadapan wisatawan mancanegara. "Turis datang tinggal di sini, jaga stabilitas keamanan. Bantu Kapolsek, bantu TNI/Polri, tidak ingin saya dengar ada bakalai (perkelahian) satu dengan yang lain. Di Banda sini kalau Pilkada suka begitu. Tahun depan kalau Pilkada tidak usah bakali, mau pilih ya pilih mau seng pilih ya seng pilih. Jabatan Tuhan su kasi. Dia kasi pagi, siang diambil. Mau bakalai par apa. buang itu," pesan gubernur. (RUZ)

BERITA LAINNYA

Yayasan Darusallam Menggugat Menristek

Selasa, 12 Desember 2017, 11:26 WIB

Gerindra Diminta Tidak “Maraju” Tinggalkan MI

Selasa, 12 Desember 2017, 11:17 WIB

Sahran Umasugi Cs Bakal Diperiksa Lagi

Selasa, 12 Desember 2017, 11:13 WIB

Sidang Pasangan “HEBAT” Berlanjut

Selasa, 12 Desember 2017, 11:08 WIB

Penumpang Pesawat Batik Air Tewas Saat Mengudara

Selasa, 12 Desember 2017, 11:01 WIB

APBD Disahkan di Hari Libur, DPRD Protes

Selasa, 12 Desember 2017, 10:55 WIB