Menu
Sabtu, 18 November 2017
Pelaku sebelah kiri.

KABARTIMUR.coid,AMBON-Sempat mengelak dan bersumpah mati-matian, Papilaya akhirnya mengakui memperkosa anak kandungnya yang masih berusia 8 tahun. Tapi pria bejat berusia 49 tahun ini hanya mengaku sekali saja menggauli darah dagingnya hingga bersimbah darah.

 “Dia (tersangka) sudah mengaku perbuatannya. Ia mengaku hanya sekali (melakukan pemerkosaan). Tapi diduga dia mencabuli korban beberapa kali,” ungkap Kasat Reskrim Polres Ambon, AKP. Teddy melalui Kanit PPA, Bripka O. Jambormias kepada Kabar Timur, Rabu (25/10).

Menurutnya, identitas tersangka sebenarnya telah dicurigai sebelumnya. Tapi penyidik sangat berhati-hati lantaran belum memiliki cukup bukti. Apalagi, pelapor kasus asusila ini adalah tersangka sendiri.

Setelah memenuhi persyaratan berupa alat bukti, penyidik akhirnya menetapkan ayah korban sebagai tersangka. Ayah biadab itu ditangkap meski dirinya mengelak tidak menyetubuhi putri kandungnya.

“Kami memang sudah curiga dari awal. Makanya kami meminta tersangka untuk tidak menengok korban di rumah sakit. Karena dikhawatirkan, tersangka akan kembali mengintimidasi dan mengancam korban,” jelasnya.

Setelah tersangka meringkuk dibui, tidak ada lagi yang merawat dan menafkahi 6 orang anaknya.

Sarah Polin Timisela, istri tersangka yang merupakan ibu kandung enam orang anak itu diminta pulang. “Memang ada saudara-saudaranya. Tapi perawatan enam orang anaknya tidak seperti ibu kandung. Apalagi mereka semua masih dibawah umur,” kata sumber Kabar Timur di Mapolres Ambon, kemarin.

Sarah diduga meninggalkan tersangka Papilaya tahun 2014 silam, karena kerap dianiaya suaminya itu, saat mabuk miras. “Ibu korban ini meninggalkan mereka tahun 2014. Dia kabur karena kerap dipukuli hingga babak belur,” ujarnya.

Kakak dan adik korban asusila semuanya masih dibawah umur. Kakak korban yang paling tua berusia 16 tahun. “Dua orang kakak korban adalah laki-laki dan berusia 14 dan 16 tahun. Sisanya semua perempuan,” jelasnya.

Saat ini, dua saudara korban tinggal bersama tantenya. Dua lagi tinggal bersama saudaranya. Sementara dua orang lainnya hidup bersama ayahnya. “Kami sangat berharap kalau ibu kandungnya bisa pulang menjaga dan merawat anak-anaknya,” tandasnya.

MINTA DIHUKUM MATI

Sementara itu, dua anggota DPRD Maluku, mendesak aparat penegak hukum menerapkan hukuman mati kepada Buang  Papilaja, pemerkosa dan menelantarkan anaknya berusia 8 tahun itu.  ‘’Kami setuju dihukum mati. Itu orang tua bejat yang memperkosa anaknya. Kami minta ayah bejat itu di hukum seberat-beratnya,”kata dua anggota DPRD Maluku, Lutfi Sanaky dan Herman Hattu, kepada Kabar Timur, kemarin.

Sanaky mengatakan, aparat Kepolisian memproses ayah bejat itu sesuai aturan main. “Kalau betul-betul buktinya cukup dan lengkap memenuhi unsur maka, penerapan hukumnya harus memenuhi. Maksimal hukumnya dan harus dicari pasal berlapis. Jadi tidak tunggal pasalnya,’’tandasnya.

Menurut dia,  penerapan pasal berlapis bagi ayah bejat itu agar tidak sekedar tindak pidana pemerkosaan  semata, tapi juga hak-hak anak yang diatur oleh undang-undang. ‘’Itu harus pasal berlapis. Nah, kalau pasal berlapis dan tuntutan pokok ditambah dua pertiga, maka seumur hidup atau hukuman mati,’’tegasnya.

Tujuanya, lanjut dia, agar menjadi efek jera dan ada rasa keadilan ditengah masyarakat. ‘’Ingat hukum itu, terkait dengan rasa keadilan masyarakat terrhadap seorang ayah yang bejat jika terbukti, harus dihukum berat,’’sebutnya.

Sebagai ayah atau orang tua, kata dia,  mesti melindungi anaknya sendiri dari kasus serupa. “Kita mendorong agar ada efek jera dan menjadi pelajaran kepada semua orang tua, bahwa anak itu mesti dilindungi dan bukan dijadikan korban,”ingatnya.

Sedangkan Herman Hattu menambahkan, kasus ayah memperkosa anaknya sendiri, mesti menjadi perhatian serius jaksa dan hakim. Aparat penegak hukum, lanjut dia, harus  berani menghukum pelaku seberat-beratnya. “Jaksa dan hakim harus bernyali untuk hukum mati terhadap pelaku,’’tandasnya.

Tujuanya, kata dia, agar ada efek jera yang menakutkan bagi calon penjahat lain yang ingin memperkosa. “Karena kasus pemerkosaan ini sering terjadi. Ini sadis. Ini namanya membunuh generasi dengan trauma yang sangat panjang,’’tegasnya.(KTM/CR1)

BERITA LAINNYA

Mantan Kadis Infokom Disidang Berbelit-Belit

Rabu, 15 November 2017, 09:35 WIB

SU Pemain Proyek, Sebelum Tersandung Korupsi

Rabu, 15 November 2017, 00:47 WIB

PDIP Usung Pasangan "Kombinasi"

Rabu, 15 November 2017, 00:44 WIB

Informasi Tsunami, Warga MBD Mengungsi

Rabu, 15 November 2017, 00:42 WIB

Koruptor Kas Daerah SBB Dituntut Dua Tahun Bui

Rabu, 15 November 2017, 00:39 WIB

Haji Hayun TKBM Yos Sudarso Terancam Dilengserkan

Rabu, 15 November 2017, 00:38 WIB