Menu
Sabtu, 18 November 2017
IST

KABARTIMUR.co.id,CILACAP - Kondisi kesehatan John Refra alias Jhon Kei mulai membaik setelah dirawat di RSUD Cilacap, Jawa Tengah.

Dia dirawat akibat menderita luka pada pertikaian antar kelompok narapidana di Lapas Permisan Pulau Nusakambangan, Cilacap. Bentrokan antar napi ini menewaskan satu orang tewas dan tiga luka-luka terjadi pada Selasa (7/11).

Bentrokan menewaskan Tumbur Biondy Alvian Partai Siburian. Tiga orang luka, satu diantaranya adalah Jhon Kei. Jhon Kei merupakan narapidana kelas kakap, “otak” pembunuhan Tan Harry Tantono, Direktur Sanex Steel. Tan Harry Tantono alias Ayung dihabisi komplotan Jhon Kei di Swiss-Belhotel, Jakarta Pusat pada  Januari 2012.

Atas kasus ini Jhon Kei divonis 12 tahun penjara pada Desember 2012 oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Vonis hakim mengantarkan Jhon Kei ke Lapas Nusakambangan.  

Dalam pertikaian antar para penjahat itu, Jhon Kei mendapat luka dipelipis dan tangan. John Kei sempat divisum pada Rabu (8/11) di RSUD Cilacap.”Kondisinya  (John Kei), semakin membaik” kata Kapolres Cilacap AKBP Djoko Julianto, kemarin.

Mencegah bentrok susulan, 100 personel dari jajaran Polres Cilacap bersama dengan BKO Brimob diturunkan melakukan pengamanan. Situasi di dalam lapas Permisan Nusakambangan sudah kondusif. Polisi telah melakukan olah TKP dan pemeriksaan lebih lanjut pada 25 saksi baik dari narapidana ataupun dari pihak lapas. “Jajaran satreskrim sudah melakukan beberapa pemeriksaan terhadap saksi-saksi yang ada dan yang melihat langsung kejadian pertikaian tersebut,” kata Djoko.

Dari keterangan yang didapat, Djoko menjelaskan pertikaian bermula dari salah satu napi yang memiliki permasalahan. Permasalahan ini memantik napi yang tengah berbaur di lapangan lapas menjadi ikut-ikutan.

Pertikaian antarnarapidana tak terhindarkan, lantas mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan tiga luka-luka. Korban tewas Tumbur Biondy Alvian Partai Siburian merupakan napi perkara pidana umum.

Ia mengalami luka benturan di kepala dan luka bagian punggung sebelah kanan. Barang bukti yang ditemukan di lokasi pertokoan batu serta kayu. Tumbur di Napi Lapas Permisan masuk dalam lingkaran napi kelas kakap, John Kei.

Untuk mengantisipasi tak adanya pertikaian lanjutan, narapidana di Permisan dipindahkan ke Lapas Pasir Putih dan Lapas Batu Nusakambangan.  Golok berkarat, potongan besi, pisau dan pecahan runcing botol tergeletak jadi barang bukti senjata-senjata yang digunakan Napi Lapas Permisan saat bertikai pada 7 November lalu. Pertikaian itu dipicu oleh perseteruan dua kelompok yang berebut gengsi dan pengaruh antar napi di lingkungan lapas.

TUJUH TERSANGKA

Tujuh napi ditetapkan sebagai tersangka terkait pertikaian antar kelompok napi di Lapas Permisan. Dari tujuh tersangka, diketahui pembunuh Tumbur yakni Jon Tris dan HS. Jon Tris melakukan penusukan dan HS memukul menggunakan batu bata ke kepala Tumbur.

Kelompok Jon Tris ini memang kerap bersitegang dengan kelompok Tumbur yang masuk dalam lingkaran napi kelas kakap, Jhon Kei. “Untuk tersangka kami sudah amankan. Korban yang terbunuh juga telah diautopsi. Sedang napi-napi yang terlibat pertikaian termasuk Jhon Kei juga telah dilakukan visum,” ujar Kapolres.

Djoko menuturkan kelompok napi kubu Jhon Kei sempat melakukan pengeroyokan pada Jon Tris lantaran diduga melakukan pelemparan ke kamar napi Jhon Kei. Tak terima dikeroyok, Jon Tris melakukan aksi pembalasan. Bentrokan terjadi dan membuat Tumbur Biondy tewas. “Napi yang terlibat dalam pertikaian tersebut sudah kami pisahkan. Beberapa ke lapas Batu dan lainnya ke Lapas Pasir Putih,” lanjutnya.

Kepolisian telah melakukan penyitaan barang bukti yakni 3 senjata tajam, tiga buah batu dan baju korban yang berlumuran darah. Djoko menyebut pihaknya telah melakukan razia ke sel-sel napi untuk memastikan tak adanya penyimpanan senjata tajam. “Senjata-senjata itu yang dari besi dimungkinkan didapatkan para pelaku dari lapas yang tengah dibangun. Untuk senjata tajam yang dipakai pelaku pembunuhan sedang kita dalami,” ungkapnya.

Tujuh tersangka pertikaian di Lapas Permisan Nusakambangan dikenakan pasal 170 KUHP yang mengatur sanksi hukum bagi pelaku kekerasan terhadap orang. Para tersangka diancam hukuman penjara di atas lima tahun

Kepala Lapas Permisan, Yan Kusmanto mengatakan di dalam napi memang ada budaya berkelompok yang saling berebut pengaruh. Pertikaian di Lapas Permisan ia katakan juga dipicu gengsi pengaruh tersebut dan muatan dendam. Di dalam lapas berdaya tampung 224 orang tersebut dihuni 352 napi dengan petugas jaga lapas 9 orang dan petugas administrasi 39 orang.

“Memang ada budaya semacam itu (kelompok) di lapas. Korban Tumbur satu blog dan berkawan dengan John Kei,” kata Yan saat menggelar pers release di Mapolres Cilacap, Kamis (9/11).

Yan juga bercerita, bentrokan sempat terjadi usai jam makan para napi. Ketika itu para napi dikumpulkan untuk apel dan dikeluarkan dari sel. Tak lama, sejumlah napi langsung terlibat pertikaian. “Saat kejadian saya sendiri sedang di Jakarta. Laporan yang saya dapatkan seperti itu,” kata Yan.

Akibat pertikaian yang berujung pada tewasnya satu napi, dikatakan Yan saat ini Lapas Permisan ditutup untuk kunjungan. Ruang-ruang dalam napi dilakukan pemeriksaan untuk memastikan tak ada penyimpanan senjata tajam. Ia juga mengatakan sejumlah napi yang terlibat pertikaian dipindah ke lapas Pasir Putih dan Batu. “Belum ada batas waktu yang ditentukan kapan lapas Permisan dibuka untuk kunjungan,” lanjutnya.

KRONOLOGIS PERTIKAIAN

Motif pertikaian yang berakhir dengan pembunuhan ini juga tak lepas dari dendam. Kelompok napi dalam lingkaran Jhon Kei sempat melakukan pengeroyokan pada Jon Tris sebab diduga melakukan pelemparan ke kamar John Kei. Tak terima alami pengeroyokan, Jon Tris melakukan pembalasan sampai akhirnya menyebabkan terbunuhnya Tumbur Biondy.

Kericuhan itu terjadi di Blok C Nomor 20 yang merupakan kamar narapidana tamping atau tahanan pendamping. Keributan berawal dari perbincangan salah seorang napi bernama Ridwan alias Vampir dengan salah seorang petugas lapas. Dari perbincangan tersebut, Ridwan mengetahui jika pada Selasa (7/11) pagi terjadi keributan antara kelompok narapidana kasus terorisme dan napi anak buah Jhon Key.

Informasi tersebut menyulut kemarahan kelompok narapidana anak buah Jhon Key sehingga mereka menyerang Blok C Nomor 20. Kelompok napi yang ikut menyerang terdiri atas Semi Ambon, Bangao, Heri alias Sibuta, Andi, Slamet, Tumbur Biondy Alvian Partahi Siburian alias Bony, David dan Ridwan alias Vampir.

Penyerangan tersebut membuat tiga napi yang menghuni Blok C Nomor 20, Sutrisno (25) mengalami luka tusuk pada paha belakang serta memar pada muka dan tangan, Hasan Bisri (36) mengalami luka memar dan luka tusuk di kepala, serta Dadang Arif (30) mengalami luka memar di wajah. Bahkan, salah seorang napi yang juga anak buah Jhon Key, yakni Tumbur Biondy Alvian Partahi Siburian meninggal dunia akibat luka tusuk di bagian perut.

Bentrokan pecah sekitar pukul 07.50 WIB. Bentrok antar napi itu menggunakan balok balok kayu proyek dan batu yang ada di sekitar lapas. Beberapa fasilitas Lapas antara lain pintu, jendela kaca serta taman rusak.
“Pada pukul 07.50 WIB yang dilakukan oleh 9 napi kasus terorisme yang menyerang blok hunian B, kamar 8 yang ditempati oleh John Kei dengan menggunakan balok kayu proyek dan batu-batu yang ada di sekitar kamar blok isolasi,” kata Kalapas Permisan Yan Rusmanto dalam laporan kronologis Kejadian Sementara. (MDC/DTC)

BERITA LAINNYA

Mantan Kadis Infokom Disidang Berbelit-Belit

Rabu, 15 November 2017, 09:35 WIB

SU Pemain Proyek, Sebelum Tersandung Korupsi

Rabu, 15 November 2017, 00:47 WIB

PDIP Usung Pasangan "Kombinasi"

Rabu, 15 November 2017, 00:44 WIB

Informasi Tsunami, Warga MBD Mengungsi

Rabu, 15 November 2017, 00:42 WIB

Koruptor Kas Daerah SBB Dituntut Dua Tahun Bui

Rabu, 15 November 2017, 00:39 WIB

Haji Hayun TKBM Yos Sudarso Terancam Dilengserkan

Rabu, 15 November 2017, 00:38 WIB