Menu
Sabtu, 18 November 2017
IST

KABARTIMUR.co.id,AMBON - Bagaimanapun inisiasi yang dilakukan Doni, tidak mudah dirumuskan secara program, anggaran dan kelembagaan. Sebab, tugas pokok dan fungsi TNI tidak seluas seperti yang dilakukan Doni. Model ini hanya dapat diterapkan melalui inisiasi  kreatif,  dengan ide-ide kemitraan konstruktif.

Doni Munardo, Mayor Jenderal  TNI Angkatan Darat (AD), adalah salah satu jenderal terbaik TNI saat ini. Kiprahnya sebagai Pangdam Pattimura selama tiga tahun dua bulan bertugas di Maluku menyisahkan prestasi luar biasa. 

Setidaknya pendekatan Stabilitas Keamanan Berbasis Kesejahteraan, adalah model pendekatan unik dalam manunggal TNI rakyat. Dalam tugasnya di Maluku Doni Monardo akan menjadi Jenderal yang selalu dikenang dan, akan  terpatri di Hati Rakyat Maluku. 

Ketika dipromosikan menjabat Pangdam Pattimura, mengutip pendapat Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas H. Kertopati: “Doni Munardo sebagai tentara kreatif bertangan dingin. Dia sosok tentara positif membangun Kodam Pattimura kedepan,” kata Kertopati, sebagaimana dirilis detik.com, sewaktu Doni Munardo menjabat Pangdam Pattimura. Doni juga menurut dia, mempunyai jaringan yang banyak dan baik. 

Doni Monardo jenderal kreatif yang bertangan dingin benar adanya. Melihat potensi kekayaan alam begitu besar baik darat maupun di laut, Doni langsung tancap gas mencanangkan “Program Emas Biru dan Emas Hijau.”

Dalam satu kesempatan saya sempat berdiskusi dengan biliau. Disaat itu biliau berujar program ini akan bermuara pada “Emas Putih” yang artinya kedamaian orang Maluku. Program “Emas Biru” berfokus di bidang Kelautan dan Perikanan. Sedangkan, “Emas Hijau” meliputi bidang Pertanian, Perkebunan, Kehutanan dan Peternaka, Dua program dilakukan bekerjasama dengan beberapa BUMN seperti BRI.     

Sepekan setelah Doni Monardo menjabat Pangdam Pattimura saya di telepon Ahmad Fahrial, Senior saya di DPP PPP yang juga anggota Komisi VII DPR RI. “Dinda sahabat sekeligus saudara saya Doni Monardo menjadi Pangdam Pattimura. Kamu temui biliau dan ajak diskusi. Doni itu, tentara berkarakter dan berintegritas Kuat. Jaringannya luas, terkadang seperti Aktivis Pecinta lingkungan dan memiliki hobby bertanam, beliau juga pembina Yayasan Budi Asih Jakarta yang fokus untuk program penghijauan di Indonesia. Maluku Harusnya Bersyukur dapatkan Mayjen Doni, ”  ujar senior saya dibalik teleponnya. 

Ternyata apa yang disampaikan senior saya benar setelah dalam satu kesempatan Doni mengaku,  jatuh Cinta sama pepohonan sejak diselamatkan sebatang pohon saat berlindung dan menyelamatkan diri dari gempuran dan tembakan membabi buta oleh milisi fretilin di Timor-Timor. 

Ketika baru saja menjabat tepatnya di bulan Agustus tahun 2015, dalam catatan saya, Doni menggelar penghijauan untuk perdamaian di Desa Morela dan beberapa desa lainnya di Kecamatan Leihitu melibatkan warga bersama Yayasan Budi Asih Jakarta dalam Pembibitan tanaman Pala, Cengkeh, Kayu samam dan lain-lain lahan seluas 2000 meter persegi. 

Selanjutnya, di bulan September 2015 di lanjutkan pelatihan  budidaya kelautan, perikanan dan kehutanan di Batalyon Raider 733 yang diikuti 100 peserta dari masyarakat, TNI dan Polri, dilanjutkan dengan melatih 150 peserta keterwakilan masyarakat dari Maluku dan Maluku Utara .

Setelah pelatihan seluruh peserta diberi benih ikan dan bibit atau anakan pohon buah dan rempah. Dalam dua tahun  tercipta 160 petak keramba  di Pulau Ambon dan Seram, dengan budidaya 58.980 ekor benih ikan kakap, ikan kerapu dan ikan bubara. Dan dilakukan pula pembibitan berbagai jenis pohon yakni 13.404 bibit pohon keras, 19.491 buah-buahan, dan 14.669 rempah-rempah.

Kini di ujung masa jabatan beliau sebagai Pangdam XVI/Pattimura sudah ratusan program kerja pembibitan dan penanaman, yang ratusan ribu anakan Pohon yang bernilai ekonomis termasuk penanaman  ratusan ribu anakan pohon dan buah-buahan termasuk perluasan ribuan hektar sawah warga di Pulau Buru.

Upaya ini disebut Doni sebagai Serbuan Teritorial.Sebuah diksi yang menarik, karena serbuan teritorial bersifat invasi kegiatan militer berbasis penguasaan wilayah. Melalui Doni,  serbuan teritorial bermakna  ekologis dan ekonomis melalui pemanfaatan potensi sumber daya alam daerah,  yang melibatkan  masyarakat, TNI dan Polri. Sebuah cara tidak  lazim, karena selaku Pangdam, Doni hanyalah pemimpin  struktural teritorial TNI di daerah. 

Dalam perkembangannya, kegiatan ini diapresiasi pemerintah dan swasta.Dukungan pun meluas. Program ini  ikut dibantu BUMN,  Pertamina, Telkomsel dan BNI.  Dan apa yang dilakukan Doni, apabila dilakukan secara terpadu dan terarah, akan berdampak pada meningkatnya pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sehingga dapat memacu menurunnya angka kemiskinan di daerah. 

Tak hanya melibatkan TNI dan masyarakat,  tapi anggota Polri, Doni telah meletakan dasar-dasar kerjasama pembangunan kesejahteraan dan keamanan yang harmonis. Pendekatan ini akan mengurai kesenjangan determinan faktor keamanan  pada kebakuan relasi formalistik lembaga, menjadi relasi sosio ekonomi yang strategis, dalam pendekatan keamanan dan teritorial.

 

Di Hati Rakyat Maluku

 

Inisiasi yang luar biasa, dilakukan Doni, membuatnya akan dikenang rakyat Maluku dan Maluku Utara. Cipta karya seorang jenderal TNI, yang tidak hanya melihat isu-isu keamanan pada pendekatan stabilitas, namun juga pada pendekatan kesejahteraan. Apalagi model pendekatan ini, dilakukan oleh pemimpin institusi militer, yang tidak memiliki tugas dan fungsi pokok di bidang kesejahteraan.

Di masa lalu wujud nyata kemanunggalan TNI dan rakyat diprakarsai melalui fungsi sosial politik TNI.Setelah reformasi TNI hanya menjalankan fungsi pertahanan dan keamanan. Karenanya apa yang dilakukan Doni, telah meretas jalan baru bagi kemanunggalan TNI dan rakyat. Tugas ini sedemikian genting dan penting, karena situasi bangsa yang sedang mereposisi dirinya menjadi negara kesejahteraan – welfare state.   

 Dalam doktrin welfare state, tugas utama negara adalah menyelengarakan kesejahteraan.Semua fungsi badan dan lembaga negara, adalah sarana penciptaan kesejahteraan rakyat. Konteks ini lebih-lebih di negara demokrasi, yang menerima mandat kedaulatan rakyat  sebagai episentrum legitimasi publik dan politik bernegara. Maka mandat politik itu, mau tidak mau, akan dikembalikan negara kepada rakyat melalui penyediaan kesejahteraan.

Peran vital TNI dalam menjaga kedaulatan integrasi bangsa, dengan demikian, tidak dapat dihindarkan dari tugas utama bernegara ini. Makanya strategi pendekatan keamanan yang berbasis teritorial, tidak lagi tepat dan perlu dikonversi dengan strategi pendekatan kemananan berbasis humanitas dan kesejahteraan. Ungkapan Mayjen Doni Bahwa setiap gangguan keamanan atau kekerasan yang di sikapi dengan kekerasan pula maka akan menimbulkan kekerasan baru dan tentu berbeda bila gangguan keamanan atau stabilitas di sikapi dengan pendekatan kesejahteraan, karena sering rendahnya kesejahteraan menjadi pemicu gangguan keamanan. Dan Doni telah melaksanakan serbuan teritorial untuk keamanan sekaligus kesejahteraan. 

Pendekatan ini penting, karena basis pengokohan kebangsaan dan keamanan bernegara tidak lagi bersifat teritorial dan kedaulatan wilayah. Isu disintegrasi teritorial dan sosial justru banyak berhubungan dengan intensitas kesejahteraan dan kemandirian rakyat. Dan salah satu isu penting dari aspek  ini adalah soal ekonomi dan energi. 

Hal yang sama yang dijelaskan oleh Panglima TNI Gatot Nurmantyo, sebagai peak oil teory. Invasi tidak lagi bersifat militer dan refresif, namun bersifat penguasaan sumber kemandirian ekonomi dan energi. Pendekatan  stabilitas keamanan responsif dengan Serbuan Teritorial ala Doni, mungkin akan menjadi model pendekatan baru bagi pemimpin teritorial militer di daerah. 

Bagaimanapun inisiasi yang dilakukan Doni, tidak mudah dirumuskan secara program, anggaran dan kelembagaan.Sebab tugas pokok dan fungsi TNI tidak seluas seperti yang dilakukan Doni. Model ini hanya dapat diterapkan melalui inisiasi  kreatif,  dengan ide-ide kemitraan konstruktif. Dan Doni mampu menerapkan terobosan inisiatif, berkat  kemitraan swasta, pemerintah dan masyarakat.       

 Doni adalah model reposisi TNI yang berkarakter kebangsaan, dan mampu menyesuaikan peran TNI, ditengah kemajuan aspek kebebasan sipil dan variabel demokrasi dan HAM. Beliau mampu menerjemahkan  peran TNI yang manunggal sesuai kebutuhan bangsa ini, setelah  era Dwifungsi TNI. Sudah saatnya Serbuan Teritorial menjadi blue print—cetak biru---era baru kemanggulan TNI dan rakyat.  

Doni lahir di Cimahi 10 Mei 1963 dan lulus Akademi Militer 1985.  Pernah menjabat Komandan Jenderal Kopassus dan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden, sebelum  ditugaskan sebagai Pangdam Pattimura, 25 Juli 2015.  

Sejak 27 Oktober 2017, Doni pindah  tugas sebagai Panglima Komando Daerah III/Siliwangi. Terima kasih Jenderal atas Gagasan dan Karya Baktimu. Dari Negeri Adat Petuanan Leisela Pulau Buru, Terimah-lah Rasa Hormat Beta untuk Bang Doni Monardo, Sang Jenderal Inisiator ! (Penulis adalah: Wakil Ketua DPRD Buru - Raja Petuanan Leisela Pulau Buru)

BERITA LAINNYA

Mantan Kadis Infokom Disidang Berbelit-Belit

Rabu, 15 November 2017, 09:35 WIB

SU Pemain Proyek, Sebelum Tersandung Korupsi

Rabu, 15 November 2017, 00:47 WIB

PDIP Usung Pasangan "Kombinasi"

Rabu, 15 November 2017, 00:44 WIB

Informasi Tsunami, Warga MBD Mengungsi

Rabu, 15 November 2017, 00:42 WIB

Koruptor Kas Daerah SBB Dituntut Dua Tahun Bui

Rabu, 15 November 2017, 00:39 WIB

Haji Hayun TKBM Yos Sudarso Terancam Dilengserkan

Rabu, 15 November 2017, 00:38 WIB