Menu
Selasa, 12 Desember 2017
ILUSTRASI

KABARTIMUR.co.id,AMBON-Buntut demo mogok massal sehari di pelabuhan Yos Sudarso (4/12) lalu di luar dugaan. Alih-alih menolak keras Peraturan Menteri Perhubungan yang membuka peluang untuk buruh outsourching, lima kelompok buruh koperasi TKBM Yos Sudarso menyatakan siap merapat ke PT Pelindo IV. 

Keinginan lima kelompok buruh Koperasi ini diakui oleh salah satu pentolan organisasi itu. Sekretaris Koperasi TKBM tersebut, Machale Suatrean terang-terangan mengaku. “Kami sudah ketemu pimpinan PT Pelindo Ambon, lima kelompok TKBM siap gabung,” kata Suatrean kepada Kabar Timur, Rabu (6/12) melalui telepon seluler.

Dia bilang, jika satu kelompok terdiri dari 20-25 buruh, berarti ada seratusan lebih buruh yang siap gabung ke PT Pelindo IV Ambon. Ada 10 sampai 12 kelompok buruh di pelabuhan itu. Kalau lima kelompok merapat ke PT Pelindo, itu cukup untuk PT Pelindo bersaing dengan Koperasi TKBM dengan tujuh kelompok sisanya.

Menurut dia, persaingan kerja antara organisasi kelompok buruh di pelabuhan banyak sisi positifnya. Bila cuma ada satu kelompok buruh, praktis tidak ada pesaing. Hal itu membuat tarif bongkar muat di pelabuhan relatif tinggi. Itu berimbas pada harga barang dan jasa di masyarakat. 

Tarif bongkar muat sudah begitu tinggi, seharusnya menguntungkan para buruh, sebab upah yang didapat juga tinggi untuk tiap kelompok kerja. Tapi yang terjadi, para mandor seenaknya membagi bagian upah, dengan porsi yang lebih besar untuk mandor dan sebagian menjadi ‘jatah preman’ buat para petinggi  Koperasi TKBM.

“Persaingan itu juga perlu, supaya tikus-tikus pelabuhan yang notabene pengurus TKBM dan para mandor kaki tangan mereka itu, bisa merobah mindset berpikir. Koperasi TKBM bukan milik keluarga, kelompok, sehingga upah buruh dipotong, uang  anggota yang jadi hutang PT Tanto juga diputihkan seenaknya oleh pengurus tanpa persetujuan Rapat Anggota Tahunan. Jadi ini momen untuk berubah,” ujar Suatrean sinis.

Stetmen salah satu pengurus inti koperasi TKBM ini memang mengejutkan. Pasalnya, Suatrean ketika mogok massal ikut melayangkan protes terhadap kebijakan Menteri Perhubungan dalam orasinya. 

Padahal dalam demo yang nyaris anarkis dan, diwarnai tindakan pengusiran paksa terhadap puluhan truk barang dari areal pelabuhan oleh ratusan buruh mogok ini, PT Pelindo dituding sebagai biang kerok. “Itu bukan rahasia umum lagi semua buruh TKBM anggap ini permainan PT Pelindo saja di pusat,” ujar salah satu pengurus Koperasi TKBM Yos Sudarso, di sela-sela aksi mogok itu kepada Kabar Timur. 

Ingin meraup untung besar dari duit yang berputar di Pelabuhan dari sisi bisnis bongkar muat membuat PT Pelindo harus berhadapan dengan kelompok Tenaga Buruh Bongkar Muat yang disingkat TKBM itu. Di pelabuhan Yos Sudarso dari jasa bongkar muat saja, uang yang berputar bisa mencapai Rp 10 miliar tiap minggu di pelabuhan ini, untuk tiga trip kapal peti kemas yang sandar. 

“Ini bisnis yang menggiurkan untuk Pelindo. Belum lagi macam pelabuhan Makassar, Bitung, Priok, Belawan dan lain-lain. Itu baru dari jasa bongkar muat. Belum biaya-biaya tambat labuh, sewa alat, dan fasilitas lain seperti gudang dan sebagainya. Semua PT Pelindo mau monopoli,” beber pengurus koperasi TKBM itu. (KTA)

BERITA LAINNYA

Yayasan Darusallam Menggugat Menristek

Selasa, 12 Desember 2017, 11:26 WIB

Gerindra Diminta Tidak “Maraju” Tinggalkan MI

Selasa, 12 Desember 2017, 11:17 WIB

Sahran Umasugi Cs Bakal Diperiksa Lagi

Selasa, 12 Desember 2017, 11:13 WIB

Sidang Pasangan “HEBAT” Berlanjut

Selasa, 12 Desember 2017, 11:08 WIB

Penumpang Pesawat Batik Air Tewas Saat Mengudara

Selasa, 12 Desember 2017, 11:01 WIB

APBD Disahkan di Hari Libur, DPRD Protes

Selasa, 12 Desember 2017, 10:55 WIB