Menu
Rabu, 25 April 2018
RUSADIADJIZ/KABARTIMUR

KABARTIMUR.co.id,AMBON - “Ini adalah perjanjian bagaimana kita mengatasai konflik sosial. Kalau Pak Rektor tidak melihat perjanjian ini, maka dengan sendirinya Pak Rektor sendiri yang menciptakan konflik sosial.”

Puluhan mahasiswa dan alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon kembali berunjuk rasa, mengecam keputusan Rektor Prof. DR. M. J. Sapteno yang tetap bersikeras melantik Prof. DR. Tony Pariella sebagai Dekan Fisip, Kamis (11/1).

Kebijakan rektor yang tidak memperhatikan isi perjanjian Malino poin ke 11, ini diduga sengaja dilakukan untuk menciptakan konflik sosial di Kampus Biru itu.

“Hari ini pak Rektor mengambil kebijakan tanpa menghormati asas perimbangan dalam perjanjian malino pada poin 11. Kami minta pak rektor untuk menganulir kebijakannya itu. Kalaupun pak rektor mengabaikan perjanjian Malino, maka dengan sendirinya pak rektor sengaja menciptakan konflik sosial di kampus. Maka itu siapa yang bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu di kampus,” tegas M. Ali Rumadan, alumni sosiologi Fisip Unpatti, kemarin. 

Pelantikan Pariella sebagai dekan, mengindikasikan Rektor tidak menghormati apa yang menjadi kesepakatan bersama orang basudara Salam Sarane dalam perjanjian malino.  “Pak Tony juga sebagai pelaku perjanjian Malino, namun tidak menghormati isi perjanjian tersebut. Maka apa yang disampaikan hari ini lewat demonstrasi merupakan akumulasi dari kekecewaan terhadap tindakan Rektor,” terangnya. 

Dikatakan, aksi yang berlangsung kemarin, bukan karena suka atau tidak suka. Tapi bagaimana menghargai dan menghormati apa yang telah menjadi kesepakatan bersama tentang asas perimbangan.

“Sekali lagi kita minta Pak Rektor untuk segera menganulir kembali tentang surat keputusan yang kemudian terjadi pelantikan hari ini (kemarin) terhadap pak Tony. Mohon maaf, gerakan ini bukan karena suka tidak suka, tetapi bagaimana minimal kita menghargai dan menghormati apa yang menjadi kesepakatan bersama dalam hal ini adalah perjanjian malino pada poin 11 itu tentang asas perimbangan,” tegasnya lagi. 

Ali menambahkan, selaku alumni Sosilogi Fisip, dirinya merasa kecewa dengan sikap rektor yang semestinya berpikir secara matang sesuai fakta yang terjadi bahwa dari 10 Fakultas tidak satupun ada dekan Muslim. 

“Walaupun hari ini saya menyatakan sikap selaku alumni Fisip Unpatti dari sosilogi. Saya menyatakan sikap akan mengawal proses ini berjalan terus. Karena ini adalah bagaimana kita mendamaikan kondisi kampus yang tercinta ini,” kata dia. 

Ia meminta semua pihak agar bersama sama menghargai perjanjian Malino yang merupakan sesuatu yang sangat sakral buat orang  basudara di Maluku, baik itu Islam dan Kristen. “Ini adalah perjanjian bagaimana kita mengatasai konflik sosial kemarin. Kalau pak rektor tidak melihat perjanjian ini maka dengan sendirinya pak rektor sendiri yang menciptakan konflik sosial,” tegasnya lagi.

Aksi unjuk rasa di jaga ketat aparat kepolisian dari Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease. Tampak, polisi melalui megaphone meminta mahasiswa untuk membubarkan diri. Polisi juga mengancam akan membubarkan paksa jika aksi berjalan anarkis.

Kendati diancam polisi, sejumlah orator tetap berorasi mengecam terjadinya pelantikan Pariella sebagai dekan Fisip. Bahkan, mereka tidak akan mundur meski darah menjadi taruhannya.

“Kita hanya ingin meminta adanya perimbangan sesuai isi perjanjian Malino, yang merupakan kesepakatan bersama sehingga konflik kemanusiaan yang sempat melanda kami sesama orang basudara bisa terhenti. Tapi kini perjanjian itu telah dihianati,” tegas salah satu orator.

Meski sempat terjadi ketegangan dalam aksi unjuk rasa itu, tapi hingga pukul 13.30 WIT, demontrasi terpantau aman terkendali. (CR1)

BERITA LAINNYA

Bendera RMS Ditemukan di Pantai Hulaliu

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Tim Reskrimsus Geledah Kantor Bupati Buru

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Hari Ini KPU Tetapkan DPT Pilgub

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Divonis 5 Tahun, Narapidana Dirawat di RSJ

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Bos “Remaja Indah” Dihukum Bayar Pesangon

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Ini Tiga Kabupaten Penunggak Raskin Terbesar

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB