Menu
Sabtu, 23 Juni 2018
IST | Sumber Foto:ANCAM MAHASISWA: Dekan Fisip Unpatti Tony Par

KABARTIMUR.co.id,AMBON - Kesepakatan yang sejatinya mengandung nilai-nilai sakral seperti pesan leluhur “siapa bale batu, batu tindis dia itu” tidak digubris Saptenno. Dia tetap pakai ‘kacamata kuda.”

Demonstrasi mahasiswa Muslim di kampus FISIP Unpatti Ambon diwarnai aksi arogan Dekan terpilih Prof Dr Tony Pariella. Saat menggelar demo lanjutan, kemarin, Tony turun dari mobil langsung mengancam. Dia juga membawa beberapa orang luar kampus, diduga preman. 

“Itu dekan atau kepala preman. Jadi dekan baru satu hari sudah ancam-ancam mahasiswa. Dekan bawa orang luar lagi, diduga preman,” lapor pimpinan demonstran Mukhlis Fataruba kepada Kabar Timur, tadi malam.

Mukhlis tidak omong doang, setelah menghubungi media ini, dia mengirim video Tony Pariella. Tampak di situ, Tony menghardik sejumlah mahasiswa pendemo yang di depan kampus FISIP tersebut. Saat turun dari mobil, dia dan rombongan langsung menemui beberapa orang mahasiswa pendemo. 

Tony mencak-mencak, dan memperlihatkan sikap tidak senang. Terjadi adu mulut dengan mahasiswa tersebut. “Bapak siapa, bapak siapa? jangan main ancam-ancam pa. Pemimpin bukan caranya begitu pa? bapak ini professor pa (ingat)” kata salah satu mahasiswa yang merasa terdesak oleh cara-cara ‘preman’ yang ditunjukkan oleh guru besar Sosiologi itu.

Terpilihnya Periella selaku dekan yang baru memantik aksi protes mahasiswa, dua hari ini. Pelantikan salah satu guru besar ini oleh Rektor Unpatti Amboh Prof M.J. Saptenno dinilai tidak mempertimbangkan asas perimbangan yang diamanatkan oleh butir 11 Kesepakatan Malino II. Kesepakatan yang sejatinya mengandung nilai-nilai sakral seperti pesan leluhur “siapa bale batu, batu tindis dia itu” tidak digubris Saptenno. Dia tetap pakai ‘kacamata kuda’ alias lurus-lurus kemuka, tidak lihat kiri kanan atas kondisi kampus FISIP yang bukan baru kemarin dijejali mahasiswa penuntut keadilan. 

“Professor tar punya hati pait sedikit lae. Kesepakatan Malino II itu yang mengakhiri konflik. Masa satu dekan untuk Muslim saja seng bisa kase akang, manusia macam apa?,” geram salah satu mahasiswa pendemo, kemarin.

Setali tiga uang dengan mantan Dekan Fakultas Hukum Unpatti itu, Pembantu Rektor Dr Jantje Ciptabudi juga dinilai tak maksimal. Sebagai caretaker, Jantje punya tugas menjaga proses perkuliahan maupun operasional kampus tetap jalan. Namun di lain pihak, Jantje pun punya tanggungjawab moril, melakukan mediasi tiga pihak.

Yakni antara Dekan Terpilih Tony Pariella dengan pesaingnya Zainal Rengifurwarin bersama Rektor MJ Saptenno. “Sampai dilantik, Caretaker tidak pernah bawa Pa Tony dan Pa Zainal ketemu dengan Rektor. Bagaimana solusi terbaiknya. Dibiarkan, sampai rektor tiba-tiba lantik pa Tony begitu saja,” beber salah satu dosen yang tak ingin disebutkan jati dirinya kepada Kabar Timur.

Dosen ini menilai, koar-koar Jante Ciptabudi untuk menyelesaikan masalah ini dari hati ke hati tak terbukti. “Kalau pun tetap harus dilantik, minimal ada duduk bersama antara pa Tony Pariella dengan Pa Zainal dimediasi oleh Pa Jantje bersama Rektor. Nyatanya itu tidak pernah dilakukan. Jabatan itu apa talalu, tapi kerelaaan dan keikhlasan sesama orang basudara itu perlu,” kata dosen itu. 

Sebelumnya, puluhan mahasiswa dan alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon kembali berunjuk rasa, mengecam keputusan Rektor Prof. DR. M. J. Sapteno yang tetap bersikeras melantik Prof. DR. Tony Pariella sebagai Dekan Fisip, Kamis (11/1).

Kebijakan rektor yang tidak memperhatikan isi perjanjian Malino poin ke 11, ini diduga sengaja dilakukan untuk menciptakan konflik sosial di Kampus Biru itu.

“Hari ini pak Rektor mengambil kebijakan tanpa menghormati asas perimbangan dalam perjanjian malino pada poin 11. Kami minta pak rektor untuk menganulir kebijakannya itu. Kalaupun pak rektor mengabaikan perjanjian Malino, maka dengan sendirinya pak rektor sengaja menciptakan konflik sosial di kampus. Maka itu siapa yang bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu di kampus,” tegas M. Ali Rumadan, alumni sosiologi Fisip Unpatti, kemarin. 

Pelantikan Pariella sebagai dekan, mengindikasikan Rektor tidak menghormati apa yang menjadi kesepakatan bersama orang basudara Salam Sarane dalam perjanjian malino.  “Pak Tony juga sebagai pelaku perjanjian Malino, namun tidak menghormati isi perjanjian tersebut. Maka apa yang disampaikan hari ini lewat demonstrasi merupakan akumulasi dari kekecewaan terhadap tindakan Rektor,” terangnya. 

Dikatakan, aksi yang berlangsung kemarin, bukan karena suka atau tidak suka. Tapi bagaimana menghargai dan menghormati apa yang telah menjadi kesepakatan bersama tentang asas perimbangan.

“Sekali lagi kita minta Pak Rektor untuk segera menganulir kembali tentang surat keputusan yang kemudian terjadi pelantikan hari ini (kemarin) terhadap pak Tony. Mohon maaf, gerakan ini bukan karena suka tidak suka, tetapi bagaimana minimal kita menghargai dan menghormati apa yang menjadi kesepakatan bersama dalam hal ini adalah perjanjian malino pada poin 11 itu tentang asas perimbangan,” tegasnya lagi. 

Ali menambahkan, selaku alumni Sosilogi Fisip, dirinya merasa kecewa dengan sikap rektor yang semestinya berpikir secara matang sesuai fakta yang terjadi bahwa dari 10 Fakultas tidak satupun ada dekan Muslim. 

“Walaupun hari ini saya menyatakan sikap selaku alumni Fisip Unpatti dari sosilogi. Saya menyatakan sikap akan mengawal proses ini berjalan terus. Karena ini adalah bagaimana kita mendamaikan kondisi kampus yang tercinta ini,” kata dia. 

Ia meminta semua pihak agar bersama sama menghargai perjanjian Malino yang merupakan sesuatu yang sangat sakral buat orang  basudara di Maluku, baik itu Islam dan Kristen. “Ini adalah perjanjian bagaimana kita mengatasai konflik sosial kemarin. Kalau pak rektor tidak melihat perjanjian ini maka dengan sendirinya pak rektor sendiri yang menciptakan konflik sosial,” tegasnya lagi.

Aksi unjuk rasa di jaga ketat aparat kepolisian dari Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease. Tampak, polisi melalui megaphone meminta mahasiswa untuk membubarkan diri. Polisi juga mengancam akan membubarkan paksa jika aksi berjalan anarkis. (KTA)

 

BERITA LAINNYA

Desak BK “Adili’’ Huwae & RR

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Usut Repo Fiktif, Kejati Dinilai Asal-Asalan

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Tiga Tahun Beruntun Malra Raih WTP

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Sering Mati Lampu, PMKRI Demo PLN

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Kades-Bendahara Jadi Terdakwa

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Tiga Warga Debut Tewas Dibunuh

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB