Menu
Selasa, 24 April 2018
IST

KABARTIMUR.co.id,AMBON - “Kecuali Muslim dua-dua (gubernur-wakil gubernur) atau Kristen dua-dua atau Katolik dua-dua, baru isu agama bisa berpengaruh.”

Figuritas atau ketokohan masing-masing calon gubernur-wakil gubernur di pentas Pilgub Maluku 2018 akan menjadi daya tarik bagi rakyat sebelum menentukan pilihan. Sedang isu agama, pada akhirnya tidak akan banyak berpengaruh. 

Rakyat lebih dipengaruhi oleh isu etnis, representasi kewilayahan dan visi misi yang menyentuh kebutuhan riil kalangan menengah ke bawah. Pengamat politik Johan Tehuayo menilai kehadiran paslon perseorangan Herman Koedoeboen-Abdullah Vanath, jelas merobah peta politik Pilgub Maluku. Setelah sebelumnya, publik hanya diwacanakan dengan kontestan Pilgub dari jalur Parpol. 

Namun kehadiran paslon dengan akronim HEBAT itu, menurut dia, belum bisa dipastikan mampu mengimbangi kekuatan paslon SANTUN dan BAILEO yang diusung Parpol.

Termasuk wacana HEBAT yang bukan rahasia umum dikaitkan dengan sentimen agama, itu tidak banyak menyumbang kontribusi. Sebab komposisi Muslim-Kristen, atau Kristen-Muslim, dua agama sudah terakomodir di paslon yang ada.

Herman Koedoeboen yang Kristen, berpasangan dengan Abdullah Vanath, itu berarti representasi dua agama sudah ada di situ. Pasangan kepala daerah terpilih dengan ‘duet’ dua agama ini juga nantinya tercermin dalam komposisi birokrasi pemerintah daerah Provinsi, maupun Kabupaten/Kota.

“Kecuali Muslim dua-dua (gubernur-wakil gubernur) atau Kristen dua-dua atau Katolik dua-dua, baru isu agama bisa berpengaruh,” tepis Tehuayo. Lagi pula kultur Maluku, kental dengan ikatan kekerabatan Pela Gandong hampir pasti agama bukan jurus ampuh untuk mempengaruhi persepsi politik pemilih di daerah ini. 

Dan hal ini telah tuntas  dipertimbangkan oleh Parpol-parpol sebelum memilih pasangan calon yang akan diusung. “Lebih berhasil untuk menarik minat pemilih jika yang dipakai isu wilayah daripada agama,” ujarnya.

Tapi representasi wilayah ini ternyata juga telah ‘selesai’ di Parpol-Parpol. Faktanya, Paslon Said Assagaff-Anderias Rentanubun (SANTUN) maupun Murad Ismail-Barnabas Orno (BAILEO) sejak awal telah mengusung duet berdasarkan unsur wilayah dimaksud.

Assagaff yang merupakan representasi masyarakat Kota Ambon yang juga populer di 11 kabupaten/Kota karena seorang incumben itu, mengambil pendamping Anderias Rentanubun, yang mewakili wilayah Tenggara Raya. 

Hal yang sama untuk Murad Ismail, representasi masyarakat Kota Ambon dan Maluku Tengah (Jasirah Leihitu) mengambil pasangan Barnabas Orno, yang merupakan wakil masyarakat Tenggara Raya.

Diakui Tehuayo satu keunggulan dan dinilai cerdas dilakukan paslon HEBAT duet keduanya, merepresentasikan dua wilayah besar di Maluku. “HEBAT itu duet cerdas, representasi masyarakat yang lebih besar, wilayah Tenggara dan Seram,” katanya.

Namun akademisi FISIP Universitas Pattimura Ambon ini menjelaskan, dari plus minus yang ada dari tiga paslon tersebut, ada satu paslon yang perlu diwaspadai. Yakni pasangan BAILEO.

Calon Gubernur Maluku Murad Ismail akan didukung oleh mayoritas etnis Buton Ambon dan Seram selain Maluku Tengah. “Karena orang tua Pa Murad dari etnis Buton, dengan ibu dari Leihitu. Ini menjadi kekuatan tersendiri, selain ketokohan beliau sebagai seorang pimpinan institusi Kepolisian,” katanya. (KTA)

BERITA LAINNYA

Korupsi Panwaslu Buru “Naik Kelas”

Jumat, 13 April 2018, 01:14 WIB

MI Disambut Meriah di Banda

Jumat, 13 April 2018, 01:14 WIB

Oknum Rohaniawan Bejat Jadi Tersangka

Jumat, 13 April 2018, 01:14 WIB

Gubernur Ijinkan Polisi Periksa Jimmy Sitanala

Jumat, 13 April 2018, 01:14 WIB

Utut Adianto Bakal Perjuangkan Anggaran Maluku

Jumat, 13 April 2018, 01:14 WIB