Menu
Selasa, 20 Pebruari 2018
ILUSTRASI

KABARTIMUR.co.id,AMBON-Lagi, ternyata oknum penegak hukum masih ada yang bermain di wilayah Nepotisme. Mumpung punya kekerabatan “konyadu” artinya sang isteri masih saudara kandung dengan isteri pelaku kekerasan, Kcabjari Saparua Leonard Tuanakotta diduga KKN. 

Pelaku kekerasan yang juga merupakan besannya yang sudah divonis tetap Pengadilan Negeri Ambon sejak 17 Juni 2017 itu, belum juga dieksekusi ke LAPAS Ambon, meski vonis perkara dengan nomor 212/Pid.B/2017/PN.AMB. itu hanya empat bulan.

Tapi vonis ringan empat bulan pun, tidak membuat Leonard Tuanakotta tega menjebloskan Weinan Soselissa di balik tembok penjara. 

Pada 1 Januari 2017 lalu, ada rapat saniri di Negeri Sila Kecamatan Nusalaut. Dan namanya, rapat kalau terjadi silang pendapat dan adu argumentasi itu hal biasa. Tapi konon karena pendapat korban Wempy Thio menyinggung posisi Weinan Soselissa selaku Raja Negeri Sila waktu itu, sebuah asbak pun melayang ke pelipis Wempy. 

Tak saja itu, Melkianus Lewerissa yang masih saudara Raja Weinan Soselissa ikut campur. Dia turut serta dalam aksi kekerasan bersama Weinan terhadap Wempy. Melkianus ikut melayangkan bogem mentah dan tendangan bertubi-tubi ke tubuh Wempy Thio di ruang rapat.

Endingnya, korban yang juga anggota saniri itu melapor ke Polsek. Hingga kedua pelaku diproses hukum sampai pengadilan. Dan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Ambon mengganjar Weinan dan Melkianus dengan vonis ringan, empat bulan. 

Anehnya, kedua terdakwa yang telah beralih status sebagai terpidana itu tidak dieksekusi oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang juga Kcabjari Saparua Leonard Tuanakotta sendiri. 

“Dimana keadilan. Tolong jua kaka, pertanyakan kapan JPU kasih masuk dua pelaku itu ke penjara? Beta sebagai korban merasa ini sangat tidak adil kalau kedua terdakwa masih bebas, seng ada efek jera,” kata Wempy Thio kepada Kabar Timur melalui telepon selulernya, Kamis (13/2).

Terpisah Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Maluku Samy Sapulette menjelaskan, seorang JPU bisa dianggap sebagai penasehat hukum bagi korban. Dengan sendirinya JPU, kata Samy,  bertindak sebagai pengacara negara. Untuk membela keadilan hukum bagi seorang warga negara, yang menjadi korban. 

“Yang pasti, jaksanya akan eksekusi itu, tunggu saja,” ujar Samy.

Sayangnya, Leonard Tuanakotta hingga berita ini naik cetak tidak dapat dihubungi. Jawaban operator dari nomor telepon seluler Kcabjari Saparua yang diberikan Samy Sapulette itu, hanya menjawab nomor tersebut tak bisa dihubungi. (KTA)

BERITA LAINNYA

Maluku Protes Saham Blok Masela Dibagi ke NTT

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

Satu Pria “Bertopeng” Ditembak Polisi

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

Ada Pembiaran di Gunung Botak

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

PDIP Maluku “Pecah” Tiga Kubu

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

Novum Perkara Darmo 51, Tidak Ada Markup

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB