Menu
Selasa, 20 Pebruari 2018
ILUSTRASI

KABARTIMUR.co.id,AMBON- Meredam isu intoleran dengan sejumlah insiden penyerangan terhadap beberapa tokoh agama dan fasilitas rumah ibadah di Indonesia, Kementerian Agama RI melayangkan surat edaran, berisi himbauan kepada seluruh umat beragama di Indonesia, khususnya di Provinsi Maluku. 

Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Maluku, Fesal Musaad mengatakan, himbauan yang terdiri 6 poin itu telah disebarkan kepada seluruh pengelola rumah ibadah, tokoh dan lembaga keagamaan di Provinsi Maluku, Pengurus Forum Komunikasi Kerukunan Umat Beragama (FKUB) tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota, OKP dan Organisasi Masyarakat di Maluku, dengan tembusan Gubernur, Ketua DPRD, Pangdam XVI/Pattimura, Kapolda, Danlantamal IX, serta Danlanud Pattimura. 

Himbauan yang dikeluarkan lembaga bermoto “ikhlas beramal” itu lahir menyusul sejumlah peristiwa kekerasan terhadap pemuka agama, selama tahun 2018. Dimulai dari penganiayaan terhadap KH. Umar Basyri, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ulama ini dianiya orang tak dikenal (OTK) hingga mendapat perawatan medis di rumah sakit, tanggal 27 Januari. 

Aksi serupa terjadi tanggal 1 Februari lalu. Dimana, Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PERSIS), H.R. Prawoto dianiaya hingga meninggal dunia. Selain itu, Biksu Mulyanto Nurhalim bersama pengikutnya di usir dari Desa Caringin Legok, Tangerang Banten, tanggal 7 Februari lalu. 

Tak sampai disitu saja, aksi penganiayaan juga terakhir kali terjadi tanggal 11 Februari lalu. Yang mana, Romo Karl Edmund Prier bersama jemaat Gereja Santa Lidwina Bedog Yogyakarta mendapat perlakuan kasar hingga mengakibatkan 6 orang terluka.

Dengan sejumlah kejadian yang terjadi pada awal tahun 2018 itu, kata Fesal, sehingga Kemenag RI mengeluarkan himbauan melalui surat edaran nomor 315/KW.25/HK.007/02/2018 yang meminta masyarakat tetap tenang, menahan diri, tidak terprovokasi dan jangan melakukan aksi balasan dendam dengan main hakim sendiri. Sebab, saat ini beberapa kasus tersebut sudah ditangani aparat penegak hukum. 

“Kami harapkan aparat dapat mengungkap motif dibalik semua peristiwa tersebut. Karena tindak kekerasan terhadap pemuka agama merupakan perilaku yang tidak bisa dibenarkan sama sekali atas dasar alasan apapun juga,” ungkap Fesal kepada wartawan, Selasa (13/2).

Dalam himbauan itu, Kemenag, juga mengajak semua pihak terutama tokoh agama, masyarakat dan pemuda untuk menjaga keamanan rumah ibadah beserta pemuka agama masing-masing, termasuk lembaga pendidikan yang berbasis keagamaan. 

“Sebagai umat beragama, mari kita tingkatkan kewaspadaan dalam mengamankan rumah ibadah dan juga terhadap keamanan para pemuka agama khususnya dan umat beragama pada umumnya pada saat kegiatan keagamaan sedang berlangsung,” imbaunya. 

Disisi lain, Kemenag meminta tokoh agama untuk mensosialisasikan implementasi enam rumusan etika kerukunan yang merupakan hasil musyawarah besar pemuka agama untuk kerukunan bangsa. Enam rumusan etika kerukunan itu berbunyi, “setiap pemeluk agama memandang pemeluk agama lain sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan dan saudara sebangsa. Setiap pemeluk agama, memperlakukan pemeluk agama lain dengan niat dan sikap baik, empati, penuh kasih sayang, dan sikap saling menghormati.” 

“Setiap pemeluk agama bersama pemeluk agama lain mengembangkan dialog dan kerjasama kemanusiaan untuk kemajuan bangsa. Setiap pemeluk agama tidak memandang agama orang lain dari sudut pandangnya sendiri, dan tidak mencampuri urusan internal agama lain.” 

“Setiap pemeluk agama menerima dan menghormati persamaan dan perbedaan masing-masing agama dan tidak mencampuri wilayah doktrin/aqidah/keyakinan dan praktik peribadatan agama lain, dan Setiap pemeluk agama berkomitmen bahwa kerukunan antar umat beragama tidak menghalangi penyiaran agama, dan penyiaran agama tidak mengganggu kerukunan antar umat beragama,” sebut Fesal. 

Sebagi Kakanwil, Fesal berharap pembangunan kerukunan umat beragama di provinsi Maluku, dapat dijadikan sebagai icon dan percontohan di Indonesia. Sebab, keharmonisan yang lahir pasca konflik horizontal, beberapa waktu silam, telah menyita perhatian dunia, untuk berkunjung dan mempelajari kerukunan antar umat beragama di provinsi berjuluk seribu pulau ini.

“Ketahanan dan Budaya masyarakat di Maluku, menjadi kekuatan dalam mendorong lahirnya keharmonisan antara pemeluk agama yang berbeda keyakinan. Orang Maluku, saya yakin saat ini sangat cerdas, mereka memiliki kepekaan dan ketahanan dalam menangkal peristiwa yang berwarna intolenasi yang menggangu kerukunan umat beragama tentu akan dilawan secara bersama,” pungkasnya. (CR1)

BERITA LAINNYA

Maluku Protes Saham Blok Masela Dibagi ke NTT

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

Satu Pria “Bertopeng” Ditembak Polisi

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

Ada Pembiaran di Gunung Botak

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

PDIP Maluku “Pecah” Tiga Kubu

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB

Novum Perkara Darmo 51, Tidak Ada Markup

Senin, 19 Pebruari 2018, 23:36 WIB