Menu
Sabtu, 23 Juni 2018
IST

KABARTIMUR.co.id,AMBON - Direktur umum, Idris Rolobessy hanya mengurusi supporting, berupa pengadaan kebutuhan operasional bank sehari-hari. “Repo” yang jadi bidang tugas dua direksi bank, yakni pemasaran dan kepatuhan.  Ada apa?

Kriminalisasi institusi hukum terhadap warga negara, sedang terjadi di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku. Itulah yang tengah dihadapi Idris Rolobessy. Belum lepas dari jeratan hukum perkara sebelumnya yang sarat kontroversi, mantan Dirut PT Bank Maluku-Malut ini kembali dibelit perkara baru. 

Dalam sebuah gelar perkara, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku menetapkan Idris selaku tersangka perkara Reverse Repo Obligasi PT Bank Maluku-Malut senilai Rp 238,5 miliar. Sedang Direktur Utama (Dirut) Dirk Soplanit yang diduga bermain repo secara gelap dengan Direktur PT AAA Andri Rukminto sejak 2011-2014 tanpa tercatat di lantai bursa, melalui Kustodian Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tak dijerat. 

Meski bodong alias fiktif sebanya Rp 238,5 miliar dengan nol laba atau untung itu, permainan Dirk dan Andri menjadikan Idris Rolobessy tumbal para pelaku ‘crime white collar’ atau kejahatan kerah putih di Bank Maluku. 

Nasib Idris Rolobessy sama seperti di perkara sebelumnya, sebagai tumbal perkara korupsi lahan Darmo 51 senilai Rp 54 miliar. “Dasar pertimbangannya apa, saya dijadikan tersangka lagi?,” kata Idris kepada Kabar Timur di LAPAS Nania, Kamis (22/2).

Idris memang tampak kaget saat diberitahukan soal status barunya itu di perkara ‘Repo.’ Tapi Idris berusaha tenang. Dia tak bicara banyak, dan terlihat mengingat-ingat sesuatu, sebelum tiba-tiba berkata sendiri,”Ini kriminalisasi dan pembunuhan karakter,” kata Idris.

Di lain pihak, tiga hari lalu, Selasa (20/2) di Kantor KPU Maluku Kajati Maluku Manumpak Pane terlihat “tidak siap” ketika Kabar Timur meminta konfirmasi. Yaitu soal gelar perkara dugaan korupsi Repo yang sebelumnya dirahasiakan oleh anak buahnya Kasipenkum Kejati Maluku Samy Sapulette itu. 

“Ia gelar perkaranya sudah, kemarin,” katanya dengan nada ragu-ragu. Sambil menoleh ke Samy Sapulette yang mendampinginya, Manumpak kembali melanjutkan pernyataannya,”Tersangkanya IR dan IT,” kata Manumpak.

Kejanggalan penanganan hukum memang kerap mewarnai institusi Kejaksaan di Maluku. Di perkara sebelumnya, yaitu dugaan korupsi pembelian dan pengadaan lahan kantor cabang bank ini di jalan Darmo 51 Surabaya, fakta persidangan di Pengadilan Tipikor Ambon menyimpulkan Idris tidak sepenuhnya bersalah. 

Dugaan adanya rekayasa jaksa pada berkas perkara Idris Rolobessy bahkan terlihat terang benderang di persidangan. Semua saksi dari internal Bank Maluku yang dihadirkan JPU Rolly Manampiring Cs guna mempertegas kesalahan Idris memberikan keterangan yang jauh dari harapan Rolly.

Tapi anehnya itu tak membuat Hakim Ketua Sarwono yang didampingi Cristina Tetelepta dan Bernard Pandjaitan berpihak pada Idris. Dirut Bank Maluku ini tetap divonis berat, 9 tahun penjara. Turun tiga tahun dari tuntutan Rolly Cs, 12 tahun. 

Turut divonis berat mantan Kadiv Renstra dan Corsec Petro Ridolf Tentua dan rekanan bank Hentje Abraham Toisuta. Petro divonis 6,5 tahun, sedang Hentje 8 tahun. Ketiganya kini hanya menunggu mujizat “Novum” atau bukti baru, untuk melepaskan mereka dari segala kriminalisasi yang dilakukan oknum aparat penegak hukum di Kejati Maluku.

Kajati Maluku Manumpak Pane yang sedang dipromosikan ke Kejaksaan Agung RI menjabat salah satu direktur, mengaku ada bukti awal untuk menjerat IR dan IT di perkara Reverse Repo Obligasi Bank Maluku. 

Tapi penetapan Idris Rolobessy tersangka oleh Manumpak Pane dan punggawanya itu terbilang aneh. Pasalnya, Idris diketahui menjabat Direktur Umum ketika kasus ini terjadi. 

Sebagai Direktur umum, Idris Rolobessy hanya mengurusi supporting bank. Yakni mengurusi soal-soal pengadaan kebutuhan operasional bank sehari-hari. Jauh dari wilayah “Repo” yang jadi bidang tugas dua direksi bank. Yaitu Direksi Pemasaran juga Direksi Kepatuhan dan, tentu saja Direktur Utama (Dirut).

“Kalau Repo itu bukan wilayah Direktur Umum Idris Rolobessy. Tapi itu wilayahnya Direktur Pemasaran Wellem Patty, Direktur Kepatuhan Izaac Thenu dan Dirut Dirk Soplanit. Tapi kok Wellem Patty dan Dirk Soplanit tidak masuk (jadi tersangka?)” ujar sumber internal Kejati Maluku.

Sumber sebelumnya membocorkan info As 1 kalau calon tersangka yang dibidik ada dua. Masing-masing Direktur Kepatuhan Wellem Patty dan Dirut Dirk Soplanit. Ditambah kemungkinan tersangka jadi tiga, yaitu Kadiv Treasury Edmon Martinus.

Tapi arah bidikan Kejati ini berubah hanya dalam hitungan jam setelah informasi itu. Dalam gelar perkara yang dirahasiakan Samy Sapulette Rabu  (20/3) yang berlangsung hampir seharian di kantor Kejati Maluku itu, Idris Rolobessy alias “IR” ditetapkan tersangka mendampingi Izaac Thenu alias “IT.”(KTA)

BERITA LAINNYA

Desak BK “Adili’’ Huwae & RR

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Usut Repo Fiktif, Kejati Dinilai Asal-Asalan

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Tiga Tahun Beruntun Malra Raih WTP

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Sering Mati Lampu, PMKRI Demo PLN

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Kades-Bendahara Jadi Terdakwa

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Tiga Warga Debut Tewas Dibunuh

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB