Menu
Sabtu, 26 Mei 2018
IST

KABARTIMUR.co.id,AMBON - “Minamata belum parah dibandingkan kasus Gunung Botak. Minamata laut tercemar, lalu dia (manusia) makan ikan atau makan siput dari situ. Tapi di Gunung Botak sudah nyata-nyata, belum sampai makan siput atau makan ikannya saja sudah ada binatang yang mati.”

Penggunaan mercuri dan sianida di lokasi tambang emas Gunung Botak, Dusun Wamsait, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru perlahan tapi pasti mulai dirasakan dampaknya  secara langsung oleh warga di wilayah tersebut.

Selain merusak lingkungan secara permanen, kandungan zat berbahaya pada mercuri dan sianida juga telah membunuh sejumlah hewan ternak milik warga, dan tidak menutup kemungkinan warga di Buru terancam terpapar zat berbahaya tersebut.

Jika peredaran mercuri dan sianida tetap dibiarkan di Gunung Botak maka dapat dipastikan tragedi pencemaran  bahan kimia, merkuri (Hg) yang terjadi di Minamata, Prefektur Kumamoto, Jepang Tahun 1958 bakal terjadi di Pulau Buru. 

Tragedi di Minamata, telah membuat banyak masyarakat terserang penyakit cacat fisik yang aneh, dan berbagai jenis penyakit lainnya hingga meninggal karena kelumpuhan syaraf. Tercatat ribuan warga meninggal karena terpapar zat kimia berbahaya di wilayah tersebut.

Peneliti dari Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Prof Dr.rer.nat. Abraham Samuel Khouw,M.Phill menyebutkan tragedi Minamata bisa saja  terjadi di Pulau Buru, lantaran penggunaan mercuri dan sianida di kawasan Gunung Botak telah melanggar ambang batas.

Kondisi itu semakin diperparah lantaran penggunaan zat kimia berbahaya itu tidak mampu dikendalikan dan terus masuk ke wilayah Gunung Botak melalui jalur-jalur ilegal. Dia bahkan menyebut potensi bencana di Gunung Botak jauh lebih besar dari Minamata. 

“Kalau saya kasus Minamata belum terlalu parah sebenarnya dibandingkan dengan kasus Gunung Botak. Minamata itu kan laut tercemar, lalu dia (manusia) makan ikan atau makan siput dari situ. Tapi di Gunung Botak ini sudah nyata-nyata, kita belum sampai makan siput atau makan ikannya saja sudah ada binatang yang mati,  kalau di Minamata tidak ada binatang yang mati,” kata Samuel  saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (12/3).

Ia  mengungkapkan berdasarkan gambar satelit, perairan  Teluk Kayeli Pulau Buru kini  berwarna seperti cermin. Itu karena ada merkuri di permukaan air laut. Otomatis bila merkuri sudah sampai di perairan maka akan berubah menjadi racun yang sangat keras. Sebagai seorang ilmuwan, Samuel mengatakan, sudah sering mengingatkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku dan aparat keamanan terkait ancaman  merkuri di Pulau Buru akibat aktivitas penambangan ilegal dengan menggunakan bahan kimia.

Samuel yang juga Guru Besar Unpatti ini, bila saat ini ditemukan lagi hewan-hewan mati di wilayah Kabupaten Buru menurut Samuel mengindikasikan air atau rumput serta  tumbuh-tumbuhan sudah tercemari merkuri. Yang jadi persoalan juga saat ini tidak ada teknologi yang mampu mentetralisir wilayah tercemar sehingga bebas mercuri.

 “Jadi kalau ditemukan hewan hewan mati, itu sebenarnya indikasi bahwa air-air yang ada di situ (Gunung Botak) atau rumput, tumbuh-tumbuhan yang ada di situ semuanya sudah tercemari merkuri. Jika  merkuri sudah sampai masuk di sungai, tumbuh-tumbuhan sudah tercemar tidak akan ada teknologi yang mampu menetralisir merkuri tersebut. Saya tidak percaya ada teknologi  saat ini yang mampu menetralisir merkuri yang sudah ada di alam. Dan ini adalah sebuah keadaan yang menurut saya adalah bencana,” katanya.

Samuel menyatakan, atas  temuan pencemaran lingkungan di perairan Teluk Kayeli yang airnya mengalir dari kawasan Anahoni, Gunung Botak, pihaknya sudah merekomendasikan ke Pemprov Maluku dan aparat keamanan agar Gunung Botak ditutup. Pemerintah menurutnya harus melarang kegiatan, aktivitas di lingkungan Gunung Botak, baik pengunaan merkuri maupun aktivitas dalam pemanfaatan sumber daya air atau tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar daerah tercemar.

Samuel juga mengungkapkan, pemerintah harus membentuk tim untuk melihat seberapa besar dampak dari pencemaran merkuri di wilayah Kabupaten Buru. Daerah yang sudah tercemar merkuri harus segerah ditutup dalam radius sekian, dan daerah tersebut tidak boleh ada aktivitas. 

“Kalau  aktivitas fisik boleh, kalau aktivitas biologi misalnya mengambil air untuk minum atau membiarkan hewan-hewan makan di situ itu tidak boleh, karena itu kan masuknya ke tumbuh-tumbuhan,” katanya.

Selain itu menurut Samuel, warga yang tinggal di daerah terdampak  merkuri  harus diperiksa kesehatannya. Dan jika memang ada  merkuri di dalam tubuh warga, maka segera dilakukan tindakan medis kepada warga tersebut. Persoalannya menurut dia, jangan sampai merkuri sudah ada di tubuh manusia, sampai di rambut hal itu sangat parah.

Karena itu pemerintah seharusnya menyikapi masalah tersebut. Bila ada orang – orang sudah tercemar merkuri  harus ditolong secara medis. Samuel juga  mengungkapkan sesorang  yang terkena merkuri selain berujung kematian juga menyebabkan cacat tubuh hingga keturunannya. Cacat fisik ini yang ditakutkan.

“Kalau orangnya itu hidup lalu dia cacat, misalnya dia akan menurunkan generasi-generasi baru yang sudah mengalami mutasi daripada gennya, itu yang ditakuti karena merkuri sampai di tingkat itu dia bisa merubah genetik manusia. Misalnya kalau kita cacat, idiot itu bisa turun ke generasi berikutnya teristimewa ibu-ibu yang sedang hamil,” katanya.

Kondisi pencemaran lingkungan di Gunung Botak memang sangat tinggi, tercatat sudah banyak hewan ternak milik warga yang mati karena terpapar zat berbahaya di kawasan itu. Namun ironisnya, aktivitas ilegal di kawasan Gunung Botak masih terus berlanjut, peredaran mercuri dan sianida juga dilakukan seacara masif dan hal itu sulit dihentikan oleh pihak berwenang.

Sampai saat ini saja masih ada ribuan penambang yang beraktivitas di kawasan Gunung Botak. Padahal Presiden Joko Widodo secara tegas telah memerintahkan kepada aparat TNI Polri untuk menutup kawasan tambang ilegal tersebut.

Data yang diterima Kabar Timur, Gunung Botak sampai saat ini sulit ditutup karena banyak kepentingan mafia tambang yang bermain di kawasan tersebut. Para mafia tambang ini merupakan orang-orang kuat yang melibatkan banyak pejabat dan oknum-oknum aparat. (MG5).

BERITA LAINNYA

Ini Jadwal Mudik Lebaran Gratis di Maluku

Sabtu, 26 Mei 2018, 00:26 WIB

Dihadang, Demo HMI Sempat Ricuh

Sabtu, 26 Mei 2018, 00:26 WIB

Dua Spesialis Jambret di Ambon Ditangkap

Sabtu, 26 Mei 2018, 00:26 WIB

PDIP Malra Konsolidasi, Gelar Raker Diperluas

Sabtu, 26 Mei 2018, 00:26 WIB