Menu
Sabtu, 23 Juni 2018
IST

KABARTIMUR.co.id,AMBON-Bukan saja soal dugaan identitas palsu pejabatnya, Bank Maluku disidang oleh Komisi Informasi Daerah Provinsi Maluku. Tapi juga dugaan pemalsuan administrasi transaksi keuangan bagi pegawai yang mengajukan kredit.

Nasib sial menimpa Elseus Usmany, mantan pegawai PT Bank Maluku-Malut ini, terpaksa menggugat bank tempatnya pernah bekerja. Duit pinjaman senilai Rp 175 juta di tahun 2006 dari bank tersebut, menurut Elseus telah dilunasi tahun 2012, tapi tiba-tiba ada “klaim lain” dari pihak bank, kalau dirinya pernah membuka pinjaman baru di tahun 2007. Akibatnya dana pensiun yang tersisa milik Elseus sebanyak Rp 90 juta ludes tak ada sisa, ketika jatuh tempo di tahun 2012.

Elseus mengaku telah berupaya mempertanyakan, kejanggalan dari klaim bank tersebut, tapi tak pernah berhasil mendapatkan informasi yang memuaskan dari pihak bank. Bank Maluku terkesan tertutup, soal klaim ada pinjaman lain dari Elseus di tahun 2007 itu.

Menilai hak-hak pensiunnya dikebiri, dia kemudian meminta Komisi Informasi Daerah Provinsi Maluku mendesak PT Bank Maluku-Malut terbuka soal pinjaman lain senilai Rp 90 juta yang dinilai sarat dengan skandal dilakukan internal bank itu.

Selasa, kemarin, Komisi Informasi menggelar sidang untuk Elseus Usmany di Pengadilan Negeri Ambon. Hadir sejumlah staf Direksi terkait dari PT Bank Maluku-Malut selaku pihak termohon, didampingi Tim Yurits bank Taha Latar SH. 

Di hadapan Hakim Komisi Mohammad Kamil Fuad dan Ernst Tanihatu, saksi dari pihak Bank Poppy Silooy di awal kesaksian mengungkapkan, beberapa hal soal sistem informasi milik Bank yang berhubungan dengan transaksi kredit. Tapi Ketua Hakim Komisi Kamil Fuad menyatakan, bukan soal sistem informasi yang dipertanyakan oleh pemohon Elseus Usmany. 

“Pemohon mempertanyakan, kenapa kredit Rp 175 juta sudah lunas, tapi hak pensiun yang sisa Rp 90 juta itu dipotong. Jawaban dari Bank Maluku belum ada, itu yang ditanyakan,” ujar Kamil Fuad.

Di hadapan Hakim Komisi Informasi, Elseus Usmany menuturkan, jelang pensiun di Bank Maluku, tahun 2006 dirinya mengajukan kredit pinjaman senilai Rp 175 juta. Kredit lalu diberikan berdasarkan persetujuan Direktur Pemasaran/Kredit. 

“Ada kredit yang katanya saya ajukan di tahun 2007. Tapi Ini baru saya tahu di tahun 2010. Bahwa ada kredit lain,” kata Elseus. 

Elseus lalu meminta Direksi bank menunjukkan berkas permohonan kredit tahun 2007 itu. Tapi pihak bank tidak langsung menunjukkan berkas tersebut. 

Direksi hanya beralasan, berkas dimaksud masih dicari. Tapi anehnya, setelah tiga bulan, Controller internal Bank Maluku Poppy Silooy mengaku berkas baru ditemukan dengan alasan tercecer.

Dipersidangan kemarin, Poppy sendiri menyatakan tidak ada unsur rekayasa maupun pemalsuan terkait berkas pengajuan kredit lain di tahun 2007. “Semua sesuai Undang-Undang, semua ada di situ, tanda tangan dan sebagainya. Tidak ada pemalsuan,” akui Poppy.

“Yang jelas ada uang yang ditarik oleh pemohon (Elseus Usmany) di ATM terkait kredit tahun 2007 itu,” timpal Tim Yurits Bank Maluku, Taha Latar.

Usai persidangan, Ketua Hakim Komisi Informasi Kamil Fuad menolak berkomentar soal dugaan pemalsuan administrasi pengajuan kredit pemohon oleh internal Bank Maluku. “Ranah kami hanya untuk mempertanyakan, apakah informasi soal ini bisa dibuka untuk publik ataukah tidak, tentu harus sesuai aturan perundang-undangan,” ujar Kamil. (KTA)

BERITA LAINNYA

Desak BK “Adili’’ Huwae & RR

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Usut Repo Fiktif, Kejati Dinilai Asal-Asalan

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Tiga Tahun Beruntun Malra Raih WTP

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Sering Mati Lampu, PMKRI Demo PLN

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Kades-Bendahara Jadi Terdakwa

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB

Tiga Warga Debut Tewas Dibunuh

Rabu, 30 Mei 2018, 00:22 WIB