Menu
Rabu, 25 April 2018
Ilustrasi

KABARTIMUR.co.id,AMBON - “Gak ada…gak ada (chat dengan Fani). Dia (Sekda) juga tidak kenal Fani. Siapa itu Fani, dia tidak tahu. Dia minta Fani dihadirkan. Dia pertanyakan Fani itu siapa?.”

Skandal obrolan mesra Sekretaris Daerah Maluku Hamin Bin Thahir dengan seorang wanita di jejaring Line, menuai kecaman. Perilaku Hamin sebagai Sekda dianggap tidak mencerminkan seorang birokrat yang mestinya menjadi contoh bagi aparatur sipil negara (ASN) maupun masyarakat Maluku.

“Itu urusan pribadi Sekda, tapi sikapnya tidak mencerminkan sebagai seorang birokrat yang harus memberikan teladan bagi masyarakat,” kata Anggota DPRD Maluku, Evert Kermite, Rabu (11/4).

Sebagai seorang pejabat, Hamin diingatkan mampu menjaga sikap dan moral, menghindari hal-hal yang tidak terpuji. “Apalagi dilakukan seorang pimpinan birokrat selevel Sekda. Bagaimanapun juga masyarakat menilai dari aspek moral ada persoalan (chat mesra),’’ ujar politisi PDI Perjuangan ini.

Skandal chat “gatal” Hamin dengan seorang gadis bernama Fani menurut Kermite diserahkan sepenuhnya ke Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Maluku,  Zeth Sahuburua. “Pertanyaannya bagaimana sikap dari atasannya dalam hal ini Plt Gubernur. Kalau dianggap sebagai suatu hal yang tidak bisa diterima soal aspek moral (harus ada tindakan terhadap Sekda). Tapi, sekali lagi itu urusan pribadi (Sekda),’’ ingatnya.

Sekda yang sempat ngobrol dan mengirimkan foto kepada wanita bernama Fani melalui aplikasi Line saat hadiri rapat di kantor, kata Kermite, diserahkan kepada Plt gubernur untuk menilai. ‘’Itu masalah pribadi tergantung atasan. Kalau itu dianggap persoalan serius, tergantung penilaian (Plt gubernur) bagaimana. PNS kan diikat oleh aturan kepegawaian,” ujar Kermite.

Chat “gatal” diduga Sekda dengan Fani rupanya membuat geger PNS di kantor gubernur. Mereka seperti tak percaya Hamin yang juga selaku Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Maluku, terlibat obrolan mesra dengan seorang wanita yang bukan istrinya.

“Hampir semua PNS di kantor gubernur kaget, setelah membaca koran memberitakan obrolan Pak Sekda dengan seorang perempuan. Apa itu betul? Atau mungkin (Sekda dan Fani) sudah saling kenal karena kata-katanya mesra dan manja,” kata salah seorang PNS di kantor gubernur Maluku, kemarin.

Jika chat itu benar, menurut mereka, sebagai seorang pejabat daerah selevel Sekda tidak patut melakukan hal tersebut. Semakin tak pantas, diusianya yang sudah lebih setengah abad dan telah berumah tangga, Sekda diduga masih doyan menggoda gadis muda. “Bikin malu sa, su kaweng tapi masih suka ganggu parampuang. Itu laki-laki bagatal,” sebut dia.

Sambil menjalankan aktivitas rutin kantor, sejumlah PNS mengguncingkan chat mesra Sekda dengan Fani. Beberapa pejabat Pemprov Maluku tak kalah terkejut dengan bocornya skandal chat “gatal” Sekda. “Itu batul ka,” kata sejumlah pejabat Pemprov Maluku yang menghubungi Kabar Timur, penasaran dengan skandal chat tersebut.

Dia mengaku akibat pemberitaan chat “gatal” Sekda kantor gubernur dibuat heboh. “Seng (heboh) apa? Ini su heboh di kantor gubernur gara-gara berita itu,” kata beberapa pejabat Pemprov.

POLISIKAN PEMBOCOR CHAT

Sempat bungkam soal skandal chat “gatal”, Sekda Hamin akhirnya buka suara. Melalui kuasa hukumnya, Fahri Bachmid, Sekda membantah mengenal maupun chat dengan Fani di media sosial Line. “(chat) itu bukan Pak Sekda,” tegas Fahri, sore kemarin.

Sekda kata Fahri, juga tidak mengenal Fani. “Gak ada…gak ada (chat dengan Fani). Dia (Sekda) juga tidak kenal Fani. Siapa itu Fani, dia tidak tahu. Dia minta Fani dihadirkan. Dia pertanyakan Fani itu siapa?,” kata Fahri yang mengaku telah berdiskusi dengan Sekda sebelum menghubungi Kabar Timur.

Sekda menganggap chat itu hanya rekayasa hingga akhirnya mencemarkan nama baiknya. Karena itu dalam waktu dekat Sekda akan melaporkan sumber atau penyebar informasi chat ke pihak kepolisian. “Harus melalui proses hukum dan diuji (kebenaran chat) oleh penyidik,” jelasnya.

Proses hukum ditempuh agar isu yang menerpa kliennya itu dapat terang benderang dan clear. “Sumber yang menyampaikan itu akan diproses secara hukum.

Apakah ini anonim, misalnya kan kita tidak tahu itu. Dari mana sumbernya, sehingga secara hukum butuh diverifikasi. Supaya lebih valid, lebih autentik apa yang diberitakan itu berdasarkan pada A B atau Z. Kira-kira begitu. Jadi untuk dia jadi clear, jadi bersih ya kan harus dikonfirmasi secara hukum. Cara konfirmasi secara hukum bagaimana? ya katong bawa ke rana hukum,” kata Fahri.

“Kita akan laporkan dengan pasal ITE, akan diuji nantinya, apakah benar ada orang yang bernama Fani atau tidak, ataukah ada pihak lain yang menjerat orang dengan cara-cara yang anti intersept seperti itu. Itu bertentangan juga secara hukum. Biarlah proses hukum yang berbicara,” tandasnya. (TIM)

BERITA LAINNYA

Bendera RMS Ditemukan di Pantai Hulaliu

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Tim Reskrimsus Geledah Kantor Bupati Buru

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Hari Ini KPU Tetapkan DPT Pilgub

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Divonis 5 Tahun, Narapidana Dirawat di RSJ

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Bos “Remaja Indah” Dihukum Bayar Pesangon

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB

Ini Tiga Kabupaten Penunggak Raskin Terbesar

Rabu, 25 April 2018, 00:49 WIB