Menu
Kamis, 24 Mei 2018
IST

KABARTIMUR.co.id,AMBON- Perasaan seorang ibu terhadap anak yang dikandungnya tak bisa di ukur dengan apapun juga. Ibu rela mati asalkan buah hatinya selamat lahir ke dunia. Tapi istri Ketua DPRD Seram Bagian Timur (SBT) Sapiah Kilmas, ini diduga tak punya hati. Buktinya, ia meminta putranya sendiri untuk memaksa kekasihnya SK menggugurkan janin dalam kandungannya.

Tak bertanggungjawab, Sapiah menyuruh Fahrul Alsia Rumakat, putranya itu membawa kekasihnya ke Masohi. Tujuannya untuk menghadap seorang bidan, yang diduga telah malang melintang dalam hal membunuh setiap janin-janin malang. Berapapun harganya, Sapiah siap tebus, asalkan putranya itu tidak jadi menikah.

Kasus percobaan pembunuhan yang diduga dilakukan istri Agil Rumakat, Ketua DPRD SBT ini terbongkar dari percakapan anaknya bersama kekasihnya melalui pesan SMS dan Whatsaap yang di screensoot dan diterima Kabar Timur, Kamis (17/5).

Dalam percakapannya, Fahrul menyampaikan bahwa ibunya sendiri bercerita mengenai sebuah tempat aborsi di Masohi, Kabupaten Maluku Tengah. Tempat tersebut biasa melakukan praktek ilegal untuk melayani orang tua yang tidak menginginkan kehadiran seorang anak.

“bt mau c k masohi sud. bt langsung iko lai. lalu katong kas gugur. bt mama ada carita satu tampa kk ayu perna kasi gugur situ kk ayu kandungan 7 bulan tapi bisa jatu,” kata Fahrul melalui pesan SMS kepada SK yang maksudnya diduga seperti ini, “Fahrul menginginkan SK ke Masohi. Setelah itu dirinya akan menyusul. Ibunya mengatakan jika ada sebuah tempat aborsi di Masohi. Tempat itu pernah berhasil mengaborsi seseorang yang disebut Kakak Ayu. Kala itu kandungan Ayu sudah 7 bulan, tapi berhasil digugurkan.”

Benar atau tidaknya ucapan Fahrul terkait dugaan keterlibatan ibunya yang terbilang keji untuk membunuh calon cucunya sendiri, itu kini sedang di tangani penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Seram Bagian Timur.

“Itu kan screensoot dari pelaku punya sms. Kan belum tentu (benar) to. Menggunakan praduga tak bersalah, nanti kita periksa yang bersangkutan. Kan percakapan itu bukan dari ibunya, tapi dari pelaku. Tapi nanti kita akan tanya apakah keterangan itu (benar) dari mamanya ka seng (atau tidak),” ungkap Kasat Reskrim Polres SBT IPTU La Beli saat dihubungi Kabar Timur dari Ambon, Kamis (17/5).

Menurut La Beli, kasus ini sedang dalam penyelidikan. Hingga kemarin penyidik telah memeriksa sebanyak 3 orang saksi. Setelah pemeriksaan terhadap saksi dan memiliki cukup bukti, penyidik akan melakukan gelar perkara menentukan status pelaku apakah bisa ditetapkan sebagai tersangka ataukah belum.

“Itu kan baru dilaporkan. Kasus ini masih dalam penyelidikan. Sesuai mekanisme penyidikan sebagaimana Perkap (Peraturan Kapolri) tahun 2010, setelah pemeriksaan saksi-saksi baru kita gelar perkara. Jika sudah memenuhi unsurnya baru kita tetapkan sebagai tersangka,” tandasnya.

Fahrul meniduri SK sejak masih berusia 17 tahun. Mereka diketahui telah menjalin hubungan asmara sejak tahun 2015. Di usia ke 18 tahun saat ini, SK berbadan dua. Kandungan SK kini akan memasuki 6 Bulan.

Kehamilan SK membuat keluarga tidak terima dan melaporkan Fahrul ke polisi. Kasus ini kemudian di mediasi oleh pihak kepolisian. Pihak keluarga akhirnya menyetujui untuk menikahkan Fahrul dan SK.

Keluarga Fahrul meminang SK pada 6 Mei 2018 malam. Mirisnya, pinangan itu tidak dilakukan oleh ayah kandung Fahrul yang merupakan Ketua DPRD SBT, tapi menyuruh keluarganya. Kendati demikian, pihak keluarga menyetujui tanpa biaya sepeserpun.

Rencana pernikahan kedua pasangan kekasih itu disepakati pada tanggal 8 Mei lalu. Tapi sayang, disaat akan melangsungkan pernikahan, Fahrul kabur. Kaburnya Fahrul sontak mengejutkan para undangan maupun keluarga pengantin wanita yang menanti proses ijab kabul.

Atas dasar itulah, keluarga wanita yang mampu menahan amarah, kembali melaporkan Fahrul dengan kasus tindak pidana persetubuhan dan pencabulan terhadap anak di bawa umur, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 tahun 2014 Pasal 81 dan Pasal 82 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

“Katong su terlanjur malu. Keluarga kami dari Ambon sudah datang. Pernikahan batal saat semua undangan dan hidangan sudah disiapkan. Anak saya sudah tidak mau lagi. Prosesnya tetap akan berjalan sampai tuntas,” kata BK, ayah SK kepada Kabar Timur, kemarin. (CR1)

BERITA LAINNYA

Korupsi Speedboat BPJN, PPK Diperiksa Jaksa

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

Dukung Adam Rahayaan Satu Kades “Korban”

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

Sekda SBB Dicecar 33 Pertanyaan

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

Pekan Depan Wali Kota Dipriksa

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

19 Rumah Dieksekusi Paksa

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB

Cekcok, Suami Bacok Istri

Kamis, 24 Mei 2018, 00:00 WIB